2017 : Wujud Doa Kami Untuk Jogja

Aku tahu ini sudah sangat lama sejak terakhir kali aku bercurah mengenai kisahku di ruang interaksi ini. Entah apakah ada secerca rindu yang terselip di hati para pembaca atau tidak. Baik iya atau tidak, aku akan tetap senang. Kalau benar kalian rindu, maka aku terharu. Kalau rindu itu ternyata hanya anganku belaka, maka tentu aku bersyukur tidak mengecewakan para teman seperjuangan.
Postingan pertama di 2017 ini sebenarnya kisah yang terlambat, tapi bukan berarti tidak berserat. Sangat mendalam dan kusyukuri. Kalau boleh memberi rekomendasi, dan apabila memang bisa, tulisan ini juga memiliki OST seperti film-film layar gedhe, yakni lagu Sahabat Kecil milik Ipang. Wah, mantap liriknya, lirik untukmu yang di sana.
Dan di sini.
Hari ini seorang teman, Secil, menyuguhkanku sebuah kalimat Imam Ghazali yang membuatku luluh terpaku, “Ukhuwah itu bukan pada indahnya pertemuan, tapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doanya.”
Suasana terbawa perasaan seketika menyergapku. Kawanan Alumni Jambore Perkaderan (16-18 Desember 2016) Taruna Melati II PD IPM Kota Yogyakarta tiba-tiba terbayang. Aku menatap langit dan muncul wajah-wajah manusia itu dari yang tua ke yang muda, dari yang akhwat hingga yang ikhwan (masya Allah), dari yang mulus hingga yang berjerawat, kesemuanya terukir di awan-awan. Meskipun pada kenyataannya belakangan hujan, jadi wajahnya tidak begitu jelas tergambar.
That’s you, who make me so baper. Siapa saja-nya mungkin belum bisa saya sebutkan satu persatu berhubung ditakutkan ada rasa cemburu kalau urutan nama tidak sesuai harapan yang bersangkutan. Yang jelas, kesemuanya, mereka semua spesial.
Sebenarnya kegiatan Jambore Perkaderan ini bukan sekadar main-main dan hai-halo yang kemudian berhari-hari kemudian kita bukan lagi kader. Sebelumnya Imam Ghazali menyebut ‘indahnya pertemuan’ bukanlah makna ukhuwah yang sebenarnya, namun dalam ikatan batin di antara kita yang selalu mengharapkan: Ya Allah, semoga si fulan diberikan kebaikan. Nah, saya belajar dari manusia-manusia kebanggaan di Jambore Perkaderan ini.
Kamis, 19 Januari 2017. The day!
Seusai saling berkelana ke dalam pemikiran dan cara pandang peserta lainnya, munculah semangat pengadaan rencana kerja tindak lanjut sebagai wujud nyata jambore pelatihan kader yang telah kami lalui. Kegiatan yang kami usung adalah Aksi ‘Mulung’ Yuk! (Membersihkan Untuk Lingkungan Umat Ngayogyakarta). Berangkat dari pandangan bahwa Yogyakarta memiliki basis massa pelajar yang luas dan kuat, maka dengan memanfaatkan potensi tersebut kami berharap aksi ini dapat memupuk semangat peka dan peduli lingkungan kota tercinta ini.
Betapa banyak masyarakat yang dirugikan akibat menumpuknya sampah-sampah di Kota Yogyakarta. Baik yang tertimbun di tanah dan mengurangi media peresapan air, maupun yang terbuang di sungai dan membuka kemungkinan banjir. Betapa banyak masyarakat yang harus mencium bau yang tidak sedap dan mendapat pemandagan yang tidak kalap. Betapa banyak. Banyak. Banyak! Woy! Banyak!
Di sinilah teman-teman Jambore Perkaderan berhasil membangkitkan semangat kesadaranku ini.
Aku tergugah. Menyadari betapa banyak masyarakat yang dirugikan, maka aku dan teman-teman tentu perlu menyampaikan doa kami, tanda ukhuwah melalui kepedulian ini. Insya Allah, dan alhamdulillah, doa ini kami wujudkan dengan pengadaan Aksi ‘Mulung’ Yuk! yang semoga memberikan kebermanfaatan bagi sekalian warga Jogja.
Sebuah pesan yang mungkin tiada mendalam, tapi semoga dapat menjadi usulan. Berakhirnya hari ini, bukanlah sebuah akhir dari spirit bela sampah, eh, bela lingkungan, sampah ngapain dibela. Setidaknya mari mencegah hati dan jemari untuk membuang sampah sembarangan. Selanjutnya, spirit ini mari kita kembangkan ke tindak-tanduk yang lebih gereget. Mungkin boleh selanjutnya membuang sampah sesuai jenisnya, dipilah dahulu, kalau ada sampah di jalanan ya disingkirkan, mengingatkan teman, dan sebagainya. Hal sederhana yang bernilai. Hal sederhana sebagai wujud doa dan kepedulian kita kepada saudara yang lain.
Semoga berkah, jangan lelah!
Ukhuwah ini, semoga tiada lekas berhenti.
Yogyakarta, 19 Januari 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *