Aku dan Lawan Jenis (1)

Sebuah gambaran mengenai jalan cinta pernah kuserat di LINE: Jalan yang sedang aku pijak adalah sebuah medan perjuangan untuk memenangkan apa yang disebut tujuan hidup. Sesuatu yang akan membuatku lebih rela dan lega kalau-kalau nanti nyawaku akan ditarik balik. Sesuatu yang membuatku puas pada hidupku. Mimpi, cita-cita! Aku jadi apa!
Sekarang aku berjuang sendiri, menaiki tanggaku secara mandiri. Begitupun manusia-manusia lain, juga sedang menaiki tangga mereka sendiri, berjuang mencapai inginnya masing-masing. Di sinilah kami mendapat tantangan untuk diuji siapa yang akan tetap bertahan dan mencapai tujuan secara memuaskan. Nah! Hehe, kamu juga. Iya, kamu! Kamu yang entah siapa dan sedang menaiki tangga yang mana.

Perjuanganmu untuk mencapai akhir tanggamu akan selalu kudukung dan kudoakan, meski kita berbeda langkah dan ujian. Entah kapan-dimana-bagaimana kita nanti akan menemui sebuah anak tangga yang saling bertemu. Pertemuan kita yang sudah digariskan. Mulai dari sana, kita akan berjalan dan berjuang bersama. Meskipun tantangan dan ujian akan semakin mendera, tetapi kuatnya tekad kita juga harus makin juara.

Yogyakarta, 28 Januari 2017

 
Melalui asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, diriku mengucapkan rasa syukur sebanyak-banyaknya atas segala cerita yang telah dituangkan ke dalam mangkuk kecil bernama pengalaman. Sungguh lezat untuk memenuhi gairah peningkatan. Sepenuh hati tentu kuharapkan kata-kata tidak menimbulkan duka cita, sebaliknya kejujuran dan harapan yang tertumpah bisa memberikan kebaikan-kebaikan. Lahir maupun batin.

Siang tadi, sahabatku yang namanya kusebut di dalam hati bercerita banyak setelah sekian lama cuma satu dua kali waktu kami berjumpa. Rupanya kurang lebih seminggu yang lalu ia baru saja mengusaikan ikatan hubungannya dengan seseorang. Kebetulan lelaki itu berbeda kepercayaan dengan dirinya. Aku menganga, “Loh? Kapan jadian-nya?” Saking minimnya waktu berkualitas di antara kita berdua sampai-sampai tiada kabar ber-sliweran mengenai satu sama lainnya.

Hubungan mereka yang terang dalam perasaan tapi remang-remang dalam kejelasan itu ternyata sudah berjalan selama 9 bulan. Udah kayak bayi dalam kandungan. Untungnya ndak ada ya. Loh? Muehehe.

Katanya, “Masalahnya aku merasa selama ini udah jadiin dia sebagai tempat melimpahkan semua hal. Masalah apapun aku ceritain ke dia. Dia yang membuatku bangkit, ngasih semangat, dan sebagainya. Tapi, efeknya, malah intensitas interaksiku sama temen-temen yang lain tanpa sadar kerasa makin kurang. Walhasil, sekarang pas posisi orangnya udah pergi, ya aku merasa kesepian banget.” Aku ber-he em. Ugh, rasanya ada yang berdesir. Cerita yang nggak jauh berbeda padaku pernah bergulir.

Katanya lagi, “Kita putus bukan karena nggak cocok, cocok banget malah. Tapi ya karena dari awal sudah beda, jadi begitulah. Dan sebenernya dari awal dia sadar kalau kita berdua emang cuma buang-buang waktu selama ini.” Aku ber-he em. Keduanya sudah ndak ada bayangan lagi mengenai akan dibawa kemana langkah ini, sama-sama paham bahwa nggak mungkin dilanjutkan, jadi untuk apa terus barengan?

Mengenai keterkaitanku dengan lawan jenis juga kadang mencipta cerita yang kaya raya. Pasalnya diriku kadang ndak tahu harus bersikap bagaimana ke setiap pribadi. Apalagi dengan fakta bahwa di antara sekian yang ada, salah satunya adalah yang betul-betul disiapkan oleh Allah sebagai teman penggubah cerita hidup. Cuma ya itu, diriku ndak tahu yang mana.

Sehingga curahan dari sahabatku tadi betul-betul menimbulkan keinginan untuk mantap menuliskan sejlentreh kata yang semoga tidak mengundang kebosanan. Ekekek.

***

Suatu kali aku terjebak dalam kegelapan. Lewat pandangan mata yang terbatas, aku melihat setitik cahaya di kejauhan. Cepat-cepat pikiranku berpikir bahwa itu adalah solusi dari masalahku. Sebab tidak tahan lagi dalam ruang gelap, pikiranku hanya satu: meraih cahaya itu. Masa bodoh akalku mempertanyakan apa yang akan kutemui di ujung sana dan berwujud apa sumber cahaya yang ada. Sebab aku butuh penerangan! Aku sudah tidak tahan dengan kegelapan!

Semakin mendekat, semakin melekat, rasanya hangat. Aku merasa penuh kedamaian.

Pada satu kesempatan, sampai di ujungnya aku menyadari bahwa itu adalah cahaya dari lilin kecil. Harapku bertumpu padanya. Kupercayakan bahwa kegelapan ini tidak perlu kukhawatirkan sebab si lilin akan setia membersamai. Tapi dalam sekejap saja, tanpa kusadari, batangnya segera habis meleleh. Tidak ada lagi! Dia lenyap! Maka ketakutanku akan gelap kembali menyeruak! Tidak ada lagi yang menghangatkan, tiada lagi yang mendamaikan. Aku sungguh merasa kehilangan!

Mungkin seperti itulah pesimis dan optimisku beradu. Pesimis bahwa kegelapan itu akan terus mencengkeram dan menyiksaku. Tapi juga, optimis bahwa hanya dengan menemukan cahaya itu aku akan mampu menghadapi kegelapan.

Kegelapan itu merupakan jelmaan dari perjalanan hidup yang aku lalui, sedang lilin itu bisa jadi adalah satu dua sosok lawan jenis yang pernah berlalu lalang dan memberikan sekilas harapan. Aku pikir dengannya adalah langkah yang tepat dan tidak dapat diganggu gugat untuk membuat masa depanku lebih baik, bahkan terbaik.

Pikiran mengawang-awang.

Aku pernah membayangkan bila bersanding dengan seorang musisi (terlepas dari kontroversi mengenai haram atau halalnya musik), betapa kelemahanku dalam mengatur nada-nada akan dilengkapi olehnya. Boleh jadi aku menyerat beberapa lirik, olehnya ditarik ke dalam alunan musik. Walaupun cita menjadi penulis naskah lagu tidak berada dalam genggamanku, tapi memiliki seseorang yang senang hati menuliskannya untukku kan ndak kalah baiknya. Siapa tahu kan begitu. Who knows.

Aku juga pernah membayangkan bersanding dengan seorang atlet. Ehehe, itu bermula atas kesadaranku akan malasnya diri untuk berolahraga. Kubayangkan nanti kalau tua akan jadi nenek-nenek bungkuk yang susah jalannya dan merepotkan anak cucu. Tapi bayangan itu sirna berkat adanya harapan bilamana aku punya pasangan seorang olahragawan, tentunya mudah saja kujauhkan diri dari kemalasan senam pagi, lari sore hari, dan sebagainya. Who knows.

Contoh-contoh yang di atas mungkin terbaca begitu jelas lewat permukaan kepribadian. Belum termasuk perkara-perkara kecil yang kemungkinan kuharapkan ada di dalam sosok “pasangan” seperti sifat penyabar, tegas, cerdas, pemberani, baik dan rendah hati, tulus, dan sebagainya. Kalau kubuat daftarnya pasti panjang dan akan menghabiskan waktu selama-lamanya. Sebab diriku ndak ada puasnya (habis ini cowo-cowo yang ngantri langsung pada lari kocar-kacir, ehe, emangnya ada? muehehe).

Sedikit pedih bila memikirkan kesadaranku akan lemahnya diri dalam nada-nada dan malasnya diri dalam olahraga  menjelma jadi kegelapan yang membutakan pandangan. Memang secara sadar, kuakui itu masalah. Tapi sungguh nanar, penyelesaian yang aku akui satu-satunya adalah dengan “menemukan pasangan” yang dapat memenuhi kekurangan. Sehingga dalam hal ini, rasanya aku hanya menjadi penunggu, bukan pejuang.

Sebuah hasil menguping obrolan sahabat pernah membuat dada sesak. Kuingat-ingat sepertinya itu terjadi di awal tahun ini ketika ada agenda di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Saat itu aku sedang berusaha keras memfokuskan diri belajar, rupanya di seberang terdapat dua orang sahabat, Pak Fadhlullah dan Ririn Desriani, yang sedang mengobrol serius sekali. Pada kesempatan itu, sahabat Fadhlullah mengungkapkan gelisahnya yang baru saja diharap-harap oleh sang ibu supaya di kelak kemudian hari bisa menggandeng seorang muslimah yang sudah lengkap menghafal Quran. Ia gundah, sebab merasa itu sungguh amanah berat.

Oleh sahabat Ririn diberinya pandangan positif bahwa itulah poinnya. Sebuah motivasi baru. “Hafidzah pastinya menuntut dapet pasangan yang hafidz, kan,” sehingga dalam diri seharusnya ada kemantapan baru untuk mengejar pencapaian itu. Bukan malah menyurutkan harapan, atau malah sebagaimana kata kunci yang kusebut tadi: cuma jadi penunggu, bukan pejuang.

Allohu, masa ya aku lupa?

Kegelapan yang menyelimuti sekitar adalah apa yang harus aku hadapi secara mandiri, setidaknya sementara ini. Kata tentorku di SMP dulu, “Be a candle in the dark.” Menyalakan cahayaku sendiri! Itulah solusinya! Sebab setiap kita sebetulnya punya cahayanya masing-masing. Tapi yang jadi pertanyaan, bagaimana menyalakan cahaya yang demikian? Ialah lewat kepercayaan, melalui iman. Kita percaya bahwa kita punya cahaya yang dianugerahkan oleh-Nya. Cahaya yang akan terus menjadi penerang dimanapun kegelapan mencengkeram. Bahkan di tempat paling gelap dan mustahil menemukan penerangan,  di dalam diri kita ada cahaya bersemayam.

An old memory from best friend in high school, Febri. Miss you.

Jujur, tulisan ini menguras waktu dan pikiran yang kayanya banyak sekali. Ehe, berat. Akhirnya karena apa yang tersampai malah meluber kemana-mana, kuputuskan bahwa ini jadi tulisan pertama.

Bayangan soal sosok yang sungguh-sungguh pada akhirnya akan jadi (sambil mikir istilah yang cocok demi mengganti kata suami wkwk) teman penggubah cerita hidup tiadalah ingin cuma jadi harapan. Penting bagiku bahwa pertemuan itu adalah ketika kami sama-sama siap, sama-sama sudah cukup kuat menghadapi apapun, sama-sama sudah berhasil menyalakan cahaya-Nya di dalam hati kami masing-masing.

Mmmm, lalu menyoal “emangnya Ahimsa pengen jodoh yang kaya apa?” nah biarlah itu jadi rahasia! Muehehe.

Intinya, kuharap, kami berdua bukan jadi penunggu. Kami pejuang!

Yogyakarta, pada akhirnya 16 Syawal 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *