Aku dan Lawan Jenis (2)

Beberapa kejadian kadang berada di luar dugaan, saat diriku harus berhadapan, lebih-lebih (nggak sengaja) bersentuhan dengan sahabat yang kebetulan berlawanan jenis. Tanpa bisa dikendalikan, lidah menyerukan, “Ehhh, jangan!” seraya segera mencipta jarak semampunya dengan lawan bicara, tapi ya ala kadarnya biar nggak kelihatan berlebihan.

“Don’t touch me!!” terkadang sampai reflek bahasa ibunya keluar. Ugh, muehehe, nggak ding. Aslinya sih, “Jangan kenak!”

“Eh, maaf,” di beberapa kejadian untungnya masih bisa mengatur rasa panik kalau sama yang baru kenal, kan nggak enak ya kan mau berlaku berlebihan.

Hehe. Tapi di beberapa momen kutemui beberapa sahabat yang sukanya iseng sekali, salah satunya sahabat Bagas, sahabat satu sekolah dan Allohu Akbar masih diminta untuk ada dalam satu fakultas. Saking sudah sama-sama pahamnya, jadilah diriku senang sekali berdalil, “Wa laa taqrobu Bagas!” Muehehe dan entah bagaimana itu juga jadi mengundang ketertarikan sahabat yang lain untuk berceletuk hal yang sama.

Well, daku bukan ingin menegaskan betapa suci atau bersihnya aku atau bahwa diriku belum pernah tersentuh siapa-siapa, you know what I mean. Sejujurnya, aku pun baru mengetahui hal-hal yang kaitannya dengan batas laki-laki dan perempuan dalam pandangan Islam belakangan ini di bangku SMA. Dan perlu kuakui bahwa kesemua itu banyak kudapatkan berkat sahabat-sahabat di Rohis Ash-Shaff SMAN 6 Yogyakarta. Hehe, tenang, ini bukan iklan Rohis. Sebab Rohis bukan klinik Tongfang yang perlu testimoni nggak jelas. (what’s the point?)

You know, I’ve just told some points in my post before this one, havent I? Sebelumnya, aku mulai dengan cerita soal pengalaman putus seorang sahabat yang padaku jadi muncul dua kesimpulan mengenai hubungan yang terang dalam perasaan tapi remang-remang dalam kejelasan, bahwa (1) sebagai perempuan, kerap kali kita kelewat menumpuk banyak harapan pada seseorang, dan (2) kadang juga kita malah menghabiskan banyak waktu untuk sesuatu yang bahkan kita nggak tahu “ini bakal dibawa kemana?”.

Dan, berdasarkan beberapa kejadian (wagelaseh, udah berasa punya banyak pengalaman hehe), kadang kesemua itu bermula lewat interaksi-interaksi nggak terduga. Kalau yang dari pandangan mata bisa turun ke hati, apalagi kalau interaksi yang ada itu lebih dari sekadar pandangan. Ugh. Aku takut ngomongnya kebablasan. Bila hati terpaut pada pribadi yang dipertemukan sekali dua kali atau bahkan jarang sekali, mungkin peluang untuk terbebas dari pikiran tentangnya akan lebih besar. Tapi kalau tiap hari ketemu, tiap hari ngobrol, tiap hari berceletuk bersama, interaksinya banyak, mungkin jadi susah untuk lepas dari yang namanya pembaperan. Uww.

Aku percaya bahwa ndak semua pandangan berakhir pada sentuhan. Aku percaya bahwa ndak semua sentuhan berakhir pada hal-hal yang kelewatan. Atau kalaupun aku ndak percaya, yang pasti aku berusaha percaya.

Hanya saja bagiku pribadi, menilai lemahnya diri yang masih kerap nelangsa mengatur rasa, jadinya kok bagiku sendiri memang diperlukan penjagaan khusus pada yang demikian. Karena diriku tahu lemahnya hati yang mudah dipuji, maka perlu dibalut terus setiap interaksi dengan sikap rendah hati, tidak mengumbar segala sesuatu yang hanya untuk mengundang perhatian. Takutnya nanti ketika mendapat secara berlebihan, sakitnya kalau kehilangan bisa jadi ndak tertahankan.

Intinya sih yang ingin daku ungkapkan adalah bahwa banyaknya keputusan-keputusan yang kuambil dengan mantap, terkhusus pada pemberian jarak dengan sahabat lawan jenis adalah berdasarkan kesadaran akan lemahnya diri. Lemahnya diri menjamin bahwa hati bisa dijaga dari segala macam pembaperan yang tidak terduga. Sebab itu, daku putuskan untuk berhati-hati dengan menjaga interaksi.

Tetapi aku bukan seorang tertutup yang kemudian anti ngobrol-ngobrol club, anti chat-chatan, anti bercandaan. Dengan hal-hal itu, malah diriku sangat berharap kesemuanya bisa menjadi ruang kita berbagi manfaat. Hanya saja, tentu bukan ngobrol yang kelewatan, bukan chat yang berlebihan, bukan candaan yang akan menyeretku ke dalam pembaperan.

Semoga bukan sombong membatasi interaksi dengan sahabat lelaki.
Melainkan saya sadari penuh betapa lemahnya hati untuk menjaga diri.

Semoga bukan angkuh merasa lebih baik dan tidak mau bersahabat.

Melainkan tetap ingin kupastikan iman kuat selagi kita saling berbagi manfaat.

***


Di samping alasan penjagaan diri, hal lain lagi sebenarnya merupakan buah tangan dari sahabat Rasya Swarnasta pada saat SMA dulu. Sebuah cerita yang dibawanya sepulang dari reuni SMP-nya. Malam harinya dia bilang bertemu dengan teman lama, laki-laki, yang dulu keduanya kerap mencipta canda sampai saling menepuk sesama (alias tabok-tabokan), hehe. Semoga aku ndak salah ingat.

Pada saat momen salam-salaman, tiba-tiba sebuah kejutan dihadirkan oleh lelaki itu. Bukan menyuguhkan telapak untuk menyambut jabatan tangan, dia segera mengapitkan dua telapak tangannya di depan dada, begitu mantap. Katanya kira-kira setelah ditanya, “Ini, untuk jagain jodohmu dan jodohku masing-masing.”

Hmmm, teduh sekali.

Perhatian yang berlebih, pandangan yang berlebih, sentuhan yang berlebih, merupakan hadiah terbaik untuk pribadi yang betul-betul nantinya akan jadi partner pilihan Ilahi yang kehadirannya sudah tidak dapat diganggu gugat. Aduhai, indahnya.

Yogyakarta, akhirnya berakhir di 28 Syawal 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *