Pernah malu karena nggak tahu sesuatu? Kamu ditanya dan diekspektasikan bisa menjawab, padahal kamu nggak tahu.

Hehe nggak papa, kita sama. Aku dulu malu-malu mengaku. Tapi, kini kerap betul aku rasakan bahwa mengakui ketidaktahuan kadang bisa menjadi sebuah kekuatan. Aku lebih percaya diri setiap memberi pengakuan hal-hal apa yang tidak kuketahui. Menjadi menyadari batas diri sendiri, berhati-hati dan di waktu yang sama, juga penuh percaya diri, untuk meraba-raba harus berjalan dari mana, untuk mengira-ira harus bergerak seperti apa.

Terima kasih, telah menciptaku dengan keterbatasan untuk tahu.


Kadang saat menemui satu hari yang begitu melelahkan, aku jadi tidak sabaran. Urusan hari ini kapan sih kelarnya? Masalah kali ini kapan sih beresnya? Kesempatan baik hari esok kapan sih datangnya? Aku sangat tidak sabar. Rasanya sudah lelahhhh!

Tapi sekali lagi aku memaksakan diri untuk bersabar.

Beberapa pengalaman telah mengajari, betapa banyak kejadian masa kini yang dulu tidak pernah kubayangkan sama sekali akhirnya malah terjadi. Benar, kita tidak bisa menebak-nebak dan mengetahui sesuatu sampai sesuatu itu betul-betul dihadapkan pada kita.

Dulu aku tidak berpikir kalau akan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan baik dengan orang, karena rasanya hubungan pertemananku asik-asik dan baik-baik aja. Tapi siapa sangka, kini rasanya aku diminta mengulang dari awal. Belajar cara mencegah salah paham, memahami perbedaan, bahkan berkenalan dengan orang baru, dan sebagainya. Kok bisa ya?

Dulu juga aku berpikir kalau hidup tidak akan mendekatkanku dengan mata pelajaran sejarah, sebagaimana di SMP-SMA sama sekali padaku tidak ada ketertarikan dan nilaiku pun tidak pernah memuaskan. Siapa sangka sekarang aku didorong untuk mau tidak mau belajar sejarah. Keberadaanku di jurusan sastra menuntut belajar kondisi masyarakat dan perkembangan sastra dari masa ke masa, amanahku sebagai duta museum di kotaku menuntutku untuk mengarungi peristiwa-peristiwa masa lalu.

Kini pun, aku tidak tahu ke depan diri ini akan menjadi apa, siapa, dimana berperannya, akankah linier dengan jurusanku saat ini, seberapa besar gajiku jika aku bekerja di suatu tempat, atau seberapa besar bisa menggaji jika aku mempekerjakan orang, akan berjodoh dengan siapakah aku nanti, bertemu di momen seperti apa, menikah dengan adat apa, punya anak di usia berapa, atau mungkin aku tidak punya waktu untuk melakukan sebanyak itu. Aku tidak tahu. Meskipun ada hal-hal yang kuharapkan, tetap saja kan, aku masih tidak tahu akankah jalan ke depan sama persis seperti mauku.

“Semuanya harus seperti ini, seperti yang aku maui hari ini,” itu kataku dulu.

Kini aku tidak berani untuk berharap tinggi-tinggi. Sebab belajar dari masa lalu, kini aku sadar bahwa bermimpi muluk-muluk bagaikan membangun menara tinggi-tinggi yang seolah megah dan wah, tapi nanti setelahnya, sekejap saja tiba-tiba angin kencang datang membawa badai dan merobohkannya tanpa sisa. Memporakporandakan semua harapan yang ada.

Sedih, kecewa, marah, kacau semuanya membuat sesak isi hati dan kepala. Pengalaman itu betul-betul meninggalkan pembelajaran yang berharga. Akhirnya di hari ini aku diberi hati yang begitu lapang untuk menerima banyak perasaan luka. Seperti senandung sebuah lagu, “Terlatih patah hati, terlatih disakiti…” Hatiku begitu terbuka, seperti tuan rumah yang siap menyambut tamu kegagalan dan kekecewaan kapan saja. Si tamu sampai suka menyapa, “Eh, ketemu lagi, Ahimsa.” Hehe.

Meski begitu, rupanya selain ‘pembelajaran baik’ yang kudapat dari pengalaman-pengalaman sedih itu, ada pula efek sampingnya. Aku menjadi seorang yang begitu pengecut. Aku khawatir menempatkan mimpi tinggi-tinggi, membangun harapan sepenuh hati. Setiap muncul dorongan untuk meraih sesuatu, di waktu yang sama aku akan segera mengeremnya dan memintanya berhenti. Rasanya takuuuut sekali. Takut akan gagal lagi, sakit hati lagi, takut akan sedih lagi.

Tidak cukup hitungan hari, minggu, bulan, bahkan tahun untuk mengembalikan semangat saat dulu. Bahkan di hari ini, tetap saja belum ketemu padahal aku telah berkelana jauh sekali demi membayar kerugian akan kegagalan-kegagalanku dan berusaha menemukan modal dan bahan baru untuk membangun menara harapanku kembali. Aku berharap bertemu sesuatu. Mungkin kata-kata motivasi seorang tokoh, persinggungan dengan seorang bijak di jalan, cerita dalam sebuah buku, sebuah fakta di internet, atau apapun. Apapun yang bisa membantuku.

Aku mencari dan terus mencari. Meski belum betul-betul bisa membangun menara sekokoh yang diharapkan, namun kusadari dalam proses pencarian ini telah kutemukan berbagai hal sebagai modal yang kubutuhkan. Beragam cerita pengalaman akhirnya kudapati selama proses mencari. Juga, hadir teman-teman baik yang memberikan cerita-cerita menarik. Semuanya takkan kutemui bila tidak kulalui jalan ini. Paulo Coelho bahkan berbaik hati menceritakan kisah yang mirip-mirip denganku lewat novel “The Alchemist”-nya yang sudah sah menjadi buku favoritku sejauh ini.

Benar aku tidak tahu apa yang ada di depan sana, benar bahwa aku harus melakukan sebuah perjalanan jauh dan melelahkan, benar bahwa aku harus mengorbankan banyak hal dalam proses pencarian ini. Tapi tidak masalah. Sebab ketidaktahuanku atas hasil yang akan kutemui di depan sana, aku jadi merasa harus terus maju untuk mengetahui apa sebenarnya yang menungguku.

Seperti sudah tersampaikan di awal bahwa ketidaktahuan adalah sebuah kekuatan yang menuntutku untuk melihat ke arah mana diri harus bergerak. Aku berhati-hati dan di waktu yang sama, juga penuh percaya diri. Ketidaktahuan ini bukanlah jadi alasan untuk berhenti, melainkan malah terpacu lagi. Ada hal di depan sana yang bukan minta dijemput, melainkan dibangun. Dan itu dibangun oleh usaha-usaha baik hari ini.

Kita memang tidak tahu pasti hasilnya nanti, tapi belajar dari Pak Dikky, nakhodaku di komunitas museum, katanya, “Ada hal-hal yang bisa kontrol.” demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Seperti ujaran salah seorang tokoh di film NKCTHI (yang sering banget kukutip hihihi), “Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa mengubah arah layar kapal kita.”

Sebagai pribadi yang lemah dan banyak tidak tahunya, kita perlu merapat kepada Yang Maha Tahu. Jalan terbaik adalah apa yang dipilihkan-Nya. Tapi, bukan berarti karena itu lantas kita tidak boleh menentukan jalan-jalan mana yang ingin dilalui. Yang Maha Tahu sendiri yang meminta pribadi-pribadi lemah ini untuk terus berharap pada-Nya. Juga, berjuang untuk mengubah keadaannya.

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.”

QS Ghafiir (40):60

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

QS Ar-Ra’d (13):11

Oh iya, dan satu hal lagi yang perlu disyukuri sebagai pribadi yang tidak tahu apa-apa. Kita akan begitu mudah menyadari adanya keajaiban. Hal-hal yang hari ini biasa bisa jadi berubah menjadi hal-hal tidak terduga.

Apapun itu, doa terbaikku untuk kita semua. Semoga sukses menyelesaikan urusan hari ini!

Yogyakarta, 10 Jumadil Akhir 1442