Aku tidak mau bohong. Godaan untuk menyalahkan keadaan, menyalahkan waktu, menyalahkan pekerjaan, menyalahkan orang-orang di sekitarku, menyalahkan media sosial, menyalahkan barang-barang, menyalahkan kamu, menyalahkan diriku sendiri bahkan, itu sangat besar hari ini. Bukan karena benar-benar ada yang salah, tapi memang lebih mudah kan, menuding sesuatu atau seseorang sebagai sumber kesalahan. Kadang seperti itu membikin lega.

Hal-hal lain di luar milikku terlihat lebih baik. Ujaran “Yaampun aku kok begini, kenapa sih harus aku,” rasanya ingin betul-betul kutumpahkan. Aku tidak siap dibebani terlalu banyak hal, aku tidak mampu menanggung kesulitan yang seperti sekarang. Tolong, tolong, tolong lepaskan, aku yakin di dalam diam batinku mengeluh demikian.

Melalui tulisan ini, aku ingin mengatakan pada diriku yang sudah tidak tahan itu. Diri yang sudah berteriak-teriak sampai kehilangan suaranya sendiri. “Iya, aku tahu, Sayang. Ini melelahkan dan menjemukan. Aku selalu tahu keadaanmu dan betapa kamu tidak nyaman.”

Aku menyilangkan tangan di depan dada. Telapak tangan kananku menyentuh pundak kiriku dan telapak tangan kiriku menyentuh pundak kananku. Keduanya kutepuk-tepuk seolah memeluk diri sendiri. Ini yang disebut orang butterfly hug—salah satu cara melenyapkan stress. “Iya, Sayang. Aku menyimak semua keluh kesahmu.”

Aku menghela napas. “Terima kasih yaaa kamu sudah mau bertahan sejauh ini.”

“Kamu sebenernya bisa aja ya, Him, lari dari setiap hal-hal yang membikin susah, melepas semua amanah, membiarkan semua masalah. Tapi kamu jago. Kamu hebat karena tetap mau bertahan dan belajar, menikmati semuanya, mencoba mencari pembelajaran-pembelajaran baru dari hal-hal kecil yang terjadi di sepanjang waktu.”

Completed heart!

“Kamu berpikir kalau meninggalkan semua itu, berapa banyak orang yang kamu dzolimi, berapa banyak teman yang kamu susahkan, berapa banyak manfaat dan pembelajaran yang sia-sia sekali kamu abaikan. Kamu memilih ‘sedikit’ susah dan tidak nyaman, untuk memenangkan sesuatu yang lebih baik.”

“Kamu tahu kalau kamu abai dan kamu pergi, itu semua adalah hal salah. Sebenar apapun perasaan tidak nyamanmu, tapi berbohong dan tidak amanah adalah hal yang salah. Sebenar apapun perasaan lelahmu, kalau kamu membuat-buatnya menjadi alasan kemalasan maka itu adalah hal yang salah. Karena benar bahwa kamu masih bisa berusaha, benar bahwa kamu masih memiliki daya upaya.”

Aku memejamkan mata. Alhamdulillah, lirihku. Begitu juga yang aku pelajari dari Syekh Ali Jaber kemarin, bahwa begitu luar biasanya ketika seseorang ditimpa musibah ia berhasil berseru “alhamdulillah”. Mulai dari sana, ia mampu mengatasi hal-hal yang memberatkan dirinya. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Aku bersyukur Allah mempercayakan padaku hal-hal ini, sesuatu yang terbaik yang disiapkan Allah untuk menjadikanku hamba-Nya yang lebih baik. Semoga, insyaallah.

“Dan di atas itu semua, Sayang,” kataku terakhir. “Segala lelahmu ini adalah lillah. Untuk menggapai ridho-Nya. Jangan sampai itu terlupa. Bagaimanapun kondisi dunia, bagaimanapun beragamnya manusia, kamu tetap kukuh bahwa usahamu ini adalah untuk Allah. Mewujudkan rahmatan lil alamin.”

Allah mendengarkan semua doamu, Sayang.

Yogyakarta, 2 Shafar 1442