“Save me from myself,” begitulah lirik favorit yang disenandungkan seorang Harris.

Aku sempat berpikir sudah sembuh dari sakit-sakit yang menjangkiti kalbu. Aku selalu bilang, waktu itu obatnya. Tapi ternyata tidak semata-mata waktu. Kadang satu dua momen aku lepas kendali dan membiarkan penyakit itu datang kembali. Sebuah emosi yang mencuri segala kesadaranku.

Tiada boleh angkuh, tapi percaya diri. Tiada boleh rikuh, tapi rendah hati.

Begitu suatu hari tertulis di story Instagram-ku. Sebuah reminder, pengingat, untuk diriku sendiri. Tapi siapa sangka kalau ada kejadian-kejadian yang menjegalku di tengah jalan. Aku ingat sekian tahun lalu ketika sebuah tulisan berhasil mencuri perhatian banyak sahabat, termasuk melelehkan hati seseorang, mungkin saja muehehe. Tulisan yang membuatku tersandung. Cerita tentang kegagalanku masuk SMA yang kuimpikan.

A long journey

Waktu itu, kuunggah melalui platform Line di tengah bulan Ramadhan. Tanggal 4 Juni 2017. Masih lekat, masih begitu kuingat. Tulisan itu digurat dengan hati yang patah. Mengundang banyak pembaca ikut tersentuh hatinya. Hingga bejibun pujian kuterima. Aku dibuatnya terbang tinggi sampai lupa bahwa aku punya kaki. Bagaimana tidak? Dulu, kalau boleh dibilang tulisan itu mungkin cukup menyandang gelar “viral” di seantero anak SMA di Jogja, bahkan lebih dari itu.

Selaksa notifikasi memenuhi pesan pribadi dan instagram-ku. Banjir deras pujian mengalir mengisi penuh dadaku. Tepat di hari ulang tahunku! Sungguh, sebuah kebanggaan menghadiahi diri sendiri dengan pencapaian usaha sendiri! Bukankah begitu?

Teman dan sahabat berulang kali memberi komentar positif, banyak senior tiba-tiba mengirim pesan mengagumi, orang tidak dikenal pun mencoba beberapa kali menghubungi hanya untuk berucap terima kasih dan berbagi cerita yang mirip, bahkan kenalan bapak, ibu, serta adikku menitipkan rasa terkesan. Salah satunya pun mengunggah tulisan itu pada platform web yang dikelolanya. Apa tidak membikin terbang?

Bagaimana itu semua tidak kemudian menerbangkan? Melenakan? Membuatku jadi begitu merasa sok-sokan? Hehehe, ncen tenan.

Seolah sudah menjadi penulis idaman segala umat yang tidak tertandingi, dikenal oleh manusia seluruh negeri, dikagumi oleh banyak pribadi, penuh hal keren dan menginspirasi. Ealah, Hims!!! Padahal oh padahal, apalah arti pujian-pujian itu. Apalah arti chat dan kekaguman itu. Untuk apa semua itu?! Hims!!! Banguuun! Banguuun, Hims!!! Kamu tidak hidup untuk semua itu, kata sebuah suara. Sayang, mungkin saat itu aku tidak mendengarnya. Atau tidak mau mendengarkan, hehe. Maka menjadi demikian sakit ketika seolah semua itu hilang dan lenyap. Menjadi demikian pilu ketika aku merasa “dilupakan”.

Aduuuh, sungguh demikian nyerinya penyakit itu. Sakiiiitttt.

Kali ini pun begitu, nyaris, dadaku seperti sesak. Baru saja ada satu lagi momen lain yang mendesak penyakit itu masuk menyusup ke batinku. Tapi kali ini suara yang sudah lama tak kudengar itu berujar lagi, “Hims!!! Hims! Banguuun!!! Kamu tidak hidup untuk semua itu!” Demikian jelas, demikian kuat. Hingga berhasil mencipta tangis yang cukup deras. Ampuni, ampuni aku! Aku takut, lindungi aku dari diriku sendiri!

Sebuah nasehat subuh ini dari seorang lelaki yang padanya kutaruh rasa hormat dan cinta begitu amat, “Itulah rahasia waktu. Pujian hari ini banyak memang, tapi mereka akan segera lupa, mereka lupa pada pencapaianmu. Maka yang paling penting adalah tetap berusaha melakukan amal kebaikan. Ingat, tiga amal yang tidak ada putus-putusnya pahalanya meskipun kita sudah mati? Ilmu yang manfaat, sodaqoh jariyah, dan doa anak sholeh. Cukup fokus saja ke sana.”

Setiap orang nyaris mempunyai momen itu, dimana seolah seluruh mata menatapnya, seluruh lidah memujinya. Tapi, hei. Ini bukan puncak dimana aku bisa puas. Ini adalah bekal dan modal dimana aku harus terdorong belajar dan bertumbuh lagi. Sebab, sadarlah lagi Ahimsa, betapa miskinnya kamu ini.

Aku tak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya dan membiarkan kepalaku berlindung di pelukannya. Terima kasih, Bapak! Terima kasih! Nasehat hari ini begitu berharga. Begitu mahal harganya.

Juga kepada sahabat Lutipak yang bisa membaca kekhawatiranku meskipun tidak kusuarakan pada sesiapapun. Begitu tersentuhnya aku dengan segenap kata dalam pesannya, “Be prepared for higher expectation, yet I’ll be here whoever you are.” Hueeeee kubaca ini sambil tertawa dan terharu, ingin menangis lagi rasanya. Terima kasih Lutipak! Bagaimanapun inilah yang kubutuhkan, pribadi yang menerimaku utuh dengan kurang dan lebihku.

Juga, tentu ucapan terima kasih pada sahabat yang tanpa kata pun doanya turut berperan dalam setiap perjalanan ini. Terima kasih untuk tetap tidak goyah. Teruslah, teguhlah! Semoga Allah selalu melindungi kita semuanya. Aamiin.

Yogyakarta, 4 Rabiul Akhir 1442