Alhamdulillah! Sudah Ramadhan bray!
Ada anak bertanya pada bapaknya
Buat apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya
Tadarus tarawih apalah gunanya

Lapar mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi

Lagu ini, tahu kan? Pernah dengar tidak? Seingatku dulu sering diputar dalam acara TPA, pengajian anak-anak, atau perlombaan anak-anak, semacam itu. Lagu tersebut dinyanyikan oleh grup BIMBO, judulnya “Anak Bertanya pada Bapaknya”. Menurutku nadanya lucu dan mengasyikkan, syairnya yang sederhana tetapi bermakna rasanya menyentuh dan mudah diingat (atau jangan-jangan mudah diingat karena liriknya hanya diputar-putar, enggak tahu juga, hehehe).
***
Alhamdulillahirobbil’alamin. Bulan Ramadhan tahun ini telah dimulai malam tadi (sholat tarawih hari pertama) dan puasanya sejak sekarang tanggal 6 Juni 2016, hari ini!
Sesuatu yang begitu mengena adalah ketika aku mulai mengetik entri ini, rasanya ada hal yang begitu patut disyukuri. Apa itu? Alhamdulillah, aku bersyukur atas dijawabnya doaku tahun sebelumnya. Aku bersyukur atas dikabulkannya doaku tahun lalu, yaitu ingin dipertemukan lagi dengan Bulan Ramadhan selanjutnya. Dan ternyata sekarang terjawab: dikabulkan! Alhamdulillah! I’m still alive today, have saur with my lovely family.

Memahami adanya “pengabulan doa” ini, maka yakinlah aku bahwa Allah swt Sang Penguasa Kehidupan masih memberikan kesempatan untukku berbuat amalan lebih banyak lagi. Seusai tahun lalu, aku masih diberi tambahan waktu untuk meningkatkan apa yang kurang dari aku sebelumnya. Nah, inilah poinnya: meningkatkan yang kurang. Karena ada kesempatan baru, itu artinya tidak boleh disia-siakan. Yang namanya sia-sia itu adalah ketika kesempatan baru menjadi tidak bermanfaat, yaitu tidak ada pencapaian dariku yang lebih baik daripada sebelumnya. Maka selayaknya, manifestasi rasa syukur ini diperlihatkan melalui adanya target untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Toh, kalau sama saja, ngapain hidup bro, kan percuma juga dikasih hidup, nggak ada capaian lagi. Hahaha. Ini kalimatku bergurau ya, bukan mendesak nyuruh mengakhiri hidup. Hehehe.
Kesempatan baru, ya, ya. Harus disyukuri, tentu saja. Tetapi bukan berarti kita menjadi mudah berpikir “Hidup gue panjang, paling dicabut nyawanya entar-entar, udah ah santai aja”. Widih, naudzubillahi min dzalik, jauhkan pikiran seperti itu Ya Rabb. Masalahnya nih enggak ada yang menjamin aku atau kalian bisa hidup sampai tua, nggak menjamin aku bisa ngrasain nimang cucu, nggendong anak, nikah, kerja, lulus kuliah, kuliah, lulus sekolah, bahkan nggak ada yang jamin aku bisa melewati Bulan Ramadhan ini sampai selesai. Jadi kesempatan baru yang perlu kita syukuri ini, tetaplah dibarengi dengan sikap “siaga” menghadapi kematian. Who knows habis aku nulis kalimat ini terus sudah dicabut nyawanya?
Target menjadi lebih baik ini sebenarnya kan juga mampu menunjukkan sikap siaga kita. Karena apa? Ya karena, orang-orang kalau udah di ujung tanduk, udah hampir diambil nyawanya, mereka akan senantiasa berharap berada dalam keadaan terbaik, keadaan khusnul khotimah. Bukan ketika lagi buruk-buruknya. Dengan adanya capaian menjadi pribadi yang lebih baik, artinya aku berusaha untuk siap-siap mati dalam keadaan yang terbaik (dibanding keadaanku sebelum-sebelumnya). Kesempatan baru ini memberikanku waktu dan ruang yang lebih banyak untuk kembali menabung amalan. Hal yang sungguh-sungguh luar biasa dan patut disyukuri.
***
Bulan Ramadhan bukan sekedar momen bernuansa islami, tapi menurutku juga sekaligus alarm pengingat “Hai Ahimsa doamu tahun lalu terkabul dan kamu punya kesempatan baru untuk melakukan yang lebih baik!”.
Melakukan ibadah puasa wajib, juga melakukan sholat tarawih, adalah amalan yang selalu mengelukan masuknya bulan suci ini. Selain seperti dalam lirik yang dinyanyikan oleh BIMBO, maka amalan tersebut bisa menjadi wahana kita untuk “mengingat (alarm)” agar kita terdorong menjadi pribadi yang lebih baik.
Sebenarnya semua proses “mengingat dan bersyukur” tersebut adalah bentuk dini dari keinginan memperbaiki diri menjadi lebih baik, seperti yang tadi di awal telah kusinggung. Hehehe.
Semoga harapan dan target kita untuk istilahnya “berhijrah” ke tingkat yang lebih baik ini dapat tercapai dan kita mampu menyelesaikan amalan puasanya hingga hari terakhir nanti, lebih-lebih ditemukan dengan yang tahun depan. Aameen. Marhaban ya Ramadhan! Bienvenue sur Ramadhan!

Tinggalkan Balasan