Kamu sudah berkeluh kesah sesuatu hari ini?

Dalam film jadul berjudul “3 Idiots” buah karya saudara di India, seorang tokoh utama menularkan kepercayaan dirinya dengan selalu mengatakan, “All iz wel, all iz wel.” yang maksudnya all is well, semua baik-baik saja. Ketika dihadapkan dengan masalah apapun, setegang apapun, sesedih apapun, setidak-mungkin-keadaannya-disebut-“well”-apapun, ia akan tetap berseru “All iz wel, believe it!”

Mungkin karena itu ia dibilang idiot. Ugh, so, you can call me idiot by now, cause I want to be on his side! Hoho… ALL IZ WELL!

All iz wel!!! Salah satu keadaan yang kuanggap tidak well kemungkinan besar adalah semakin besarnya jarak antara kami yang di foto ini, uww:”)

***

Beberapa waktu yang lalu, keluarga non-biologisku di dalam sebuah bahtera organisasi berusaha mengencangkan tali ikatan dengan sejenak merenggangkan kecanggungan. Meskipun sebetulnya menurutku kita semua jarang punya rasa canggung satu sama lain. Hanya saja, memang benar tidak semua hal bisa kita keluhkan seluruhnya kepada teman yang lain di satu wadah organisasi.

Itulah mengapa, nakhoda kami memberikan alternatif pertemuan “sharing section” untuk berkelakar hal apapun. Boleh di luar pembahasan soal program kerja, di luar pembahasan soal kegiatan, di luar soal ideologi dan organisasi, apapun yang ingin kamu keluhkan, silahkan.

Jadi, siapa yang ndak mau ikut? Duh, eman-eman kan. Aku bukan termasuk orang yang mau menyia-nyiakan, gaskan…

***

Aku nggak tahu apakah ini perasaanku aja atau emang sesi sharing itu berlangsung lama sekali di awal kedatanganku. Pembahasan kami yang mungkin diniatkan untuk lari dari diskusi umum ternyata ndak sampai ke tujuan. Kami masih berkutat membahas mengenai struktur, program kerja, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Ayolah, kalbuku menggerutu, segini sajakah? Ada gerombolan mendesak pintu-pintu di kepalaku yang malah jadi kliyengan.

Setelah ditenangkan dengan ibadah Isya’, pembahasan rupanya belum jauh bergeser. Masih biasa-biasa saja menurutku. Sampai entah dibuka oleh siapa tapi kemudian banyak orang mengeluhkan…

“Organisasi kok isinya cuma ngerjain proker doang…”

“Aku dulu sering ngantor cuma buat ngerjain tugas, main, nglakuin kegiatan apapun dan ketemu temen-temen. Sekarang, ke sini aja males, karena yang lain juga udah jarang main ke sini.”

“Sampai kadang aku cek grup cuma buat bersihin chat yang numpuk.”

“Juga…. Maaf ya untuk temen-temen yang baru, saya sebagai salah satu yang sudah agak lama di sini juga masih jarang untuk ngrangkul kalian.”

Huhu….

…..semua itu…..

…..benar juga…..

Aku yang di situ baru mampu menyimak hanya mengangguk-angguk dalam diam. Sebuah ketakjuban, “Ternyata, bukan cuma aku.”

Semua keluh kesah terus menengadah meminta didengarkan. Terus terus terus dan tidak mau kehilangan arus. Sampai tiba waktunya, “Ada lagi yang mau nyampein?” Semuanya diam. Beberapa menit sebelum itu, aku sudah memutuskan angkat senjata. Kusiapkan senjata terbaik yang kumiliki. Clare Bevan memberi judul novelnya, “Mightier than The Sword” yang mengacu pada “Word”.

Iya, aku menuliskan-“nya”. Se-mu-a-nya. Karena bila tidak, takut kocar-kacir dan tidak sampai pada apa yang harusnya tersampai. Dan aku jujur mengatakannya, …meski tidak langsung bisa melakukannya. Ketika aku mengacungkan jemari dan berseru, “Saya boleh?” itu mudah sekali. Namun ketika beranjak kepada mengambil kesempatan didengar, wah, beratnya minta ampun. Semua pandangan seketika beralih padaku. Grogiku betul-betul pada puncaknya! Hueee! Aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku mengatakan beberapa patah kata di awal tapi kerongkonganku tidak bisa menyembunyikan suara paraunya. Terdengar seperti orang tercekik, menahan sesuatu. Bisa kamu rasakan? Ternyata aku nggak kuat.

Bendungan di atas kedua pipiku ternyata tidak cukup tangguh untuk menahan limpahan air di ujungnya. Semuanya hancur. Sebelumnya sudah ada yang memancing, mungkin dengan niat bercanda, “Wah, ini nangis ini, nangis ini!” Dan emang iyaaaaa. Sudah khawatir aku tidak mampu mengungkapkan semuanya. Pecah tangisku sekenanya. Dan semua orang tetap setia menunggu, sebuah fakta yang sungguh membahagiakan di tengah situasiku yang seperti itu!

Sedikit keluhan kusampaikan atas kesulitanku menguasai diri untuk bicara, “….agh, kenapa susah banget?!” Serius, sulit sekali!

Tidak lama, kusadari seorang sahabat di samping kiriku, seorang lagi di samping kananku, serta satu lagi yang cepat-cepat berpindah ke bagian belakang pundakku segera menenangkan. “Nggak papa, Him. Lanjut, lanjut.”

Aku memulai kisah-kisah yang belakangan membuatku merasa nyaris gila dan merasa bukan lagi Ahimsa. Aku mengeluhkan banyak hal yang membebaniku belakangan. Aku membuka pintu-pintu rumahku yang biasanya kututup rapat karena dulu kupikir orang-orang hanya perlu tahu betapa indah dan megah bangunan itu, tanpa berpikir di dalamnya ada carut marut keadaan hasil ketidakmampuanku menata dan merapikannya setiap waktu. Aku menuangkan semuanya.

Aku menyusunnya ke dalam tiga poin bahasan, yakni soal pribadiku di kampus maupun di ikatan keluarga ini, kemudian efeknya ke amanah-amanah dalam divisi yang kugeluti di organisasi ini, dan terakhir penutup kecil.

***

Kumulai cerita ini dengan tidak nyambung sebenernya. Forum organisasi, aku malah sambat tentang kampus. Tapi memang kompornya dari sana.

Aku menyerukan betapa beratnya berada di kelas kuliah sejak awal, ketika melihat dirimu sebagai orang yang berbeda. Mungkin semangatku di awal semakin lama semakin tergerus, kenapa banyak hal yang aku terus tertinggal dan tertinggal sepanjang waktu. Seolah ketika orang lain sudah berhasil kemari dan berlari-lari, aku masih beringsut sibuk mencari jawaban gimana caranya aku bisa berdiri. Di kelas kuliahku, aku merasakan hal itu! Hal yang mungkin malu kuakui sepanjang waktu bahwa ini sulit sekali hei. Aku bahkan tidak pernah mengusaikan satupun bacaan yang seluruhnya bertorehkan kalimat bahasa Inggris, tapi aku mengambil jurusan “Sastra Inggris” sebagai jalan hidupku. Aku tidak pernah menenggelamkan diriku sampai sesak napas ke dalam arus sejarah, sedangkan mau tidak mau ketika kuberseru soal sastra, maka inilah dia: menapak tilas karya sastra dari masa ke masa. Indonesia saja aku miskin tahu soal jalan hidupnya, lalu bagaimana dengan dunia? Aku merasa sangat, sangat kecil.

Harusnya dengan itu aku bangkit kan? Harusnya dengan itu aku tambah mau nge-gas kan? Harusnya dengan itu aku tergerak untuk memacu diri kan? Yaaa, harusnya, but please I don’t know why it is going so hard for me that time. Di saat-saat seperti itu rasanya seperti nggak bisa menerima diri sendiri. Dan payahnya, kenyataannya, aku malah sering merasa sendiri. Seringggg. Nggak bisa dihitung dengan betapa banyak teman-teman yang membersamai, karena sejatinya kami hanya mengobrol dan berhaha-hihi. Tapi, jauh di dalam diriku, I was dying inside. I felt lonely all the time…… I thought I’m gonna be crazy!

Karena bahtera semangat yang naik turun terombang-ambing ombak akibat badai dan guntur yang menjelma kejadian-kejadian tidak mengenakkan di kampus, aku lebih banyak memutuskan untuk sering menepi sejenak. Ke mana? Ke mana lagi kalau bukan menuju organisasi yang sudah kuanggap keluargaku sendiri? Bukan hal jarang kalau seorang Ahimsa kemudian lebih sering main ke kantor daripada ke kelas, lebih sering berseru-seru di luar kelas dan berinteraksi dengan proker organisasi dariada bantuin proker jurusan. Apapun yang terjadi, prioritasku di sini! Hanya saja sayangnya tanpa kusadari, perasaan pesimis itu menguntitku sampai ke organisasiku juga akhirnya. Semua orang terasa menjauh, sibuk dengan urusannya masing-masing. Ketika kami bertemu, tidak ada yang kemudian menumbuhkan padaku semangat baru. Mmmm ini seperti aku ingin terlepas dari mulut singa, tapi masuk ke mulut buaya. Hehehe. Meskipun peribahasa itu jane terlalu mengerikan sih untuk menggambarkan situasiku saat itu. Terlalu seram. Aku cuma merasa kesepian. Kalau diingat-ingat, ini berlangsung beberapa waktu setelah memasuki awal tahun baru 2018 dan berlangsung semakin memburuk hingga pertengahan tahun. Rasanya beberapa kejadian yang aku ceritakan hari itu kesemuanya lucu, juga konyol. Malu-maluin sumpah. Lagi-lagi aku merasa aku nyaris gila dibuatnya. YAAA, nyaris gila.

Aku sadar sekarang dua masalah pribadi itu menyeretku kepada hal yang buruk. Kepalaku terus menggemakan tuntutan yang sama sepanjang waktu, “Aku! Aku! Aku!” Semuanya soal aku, semuanya harus tentang diriku. Begitu sempit pandangan di depan, sampai banyak hal tidak kupedulikan. Apapun yang terjadi, aku selalu mau melihat dari sudut pandangku sendiri. Pokoknya aku gimana, aku dapet apa, aku bisa ngapain. Aku lagi, aku terus, aku semuanya!!! Allohu, sebegitunya rasa pesimis menggali jurang egois. Hingga yang betul-betul kurasakan di organisasi ini adalah ketidakmampuanku memposisikan diri sebagai salah seorang pemegang kontrolnya. Harus kuambil peran yang mana? Bagaimana dengan amanah di divisiku? Bagaimana dengan tanggungjawabku? Bagaimana dengan sahabat-sahabat yang harus terdzolimi karena keterlenaanku memikirkan aku, aku, akuuu semuanyaaaa? Semua itu lepas begitu saja dari genggaman dan butuh waktu yang tidak sebentar hingga aku tersadar telah melakukan kekeliruan besar. Sangat besar! Kebijaksanaan lenyap! Aku segera merasa senyap….. Tidak tahu ke arah mana lagi harus kumulai. Tidak tahu harus dengan apa kumemperbaiki. Aku berlari-lari kecil berputar-putar hanya ingin melarikan diri dari semua ini. It was going to bring me down.

Semuanya memberikan akibat-akibat yang aku sulit mencegahnya.

Amanahku berceceran. Kuliahku berantakan. Dan tentu pastinya, aku tetap merasa sendirian.

Di saat bercerita sampai bagian itu, genggaman kehangatan di sekelilingku makin kuat. Kalimatku juga makin tersendat. Allohu!!! Kuatkan akuuu!!! Sedikit lagiii!!! Seketika bayangan-bayangan tentang semua jalan hidup yang sudah terlewat berputar kembali di hadapanku. Kesemuanya. Seperti film tua. Tepat sekali menandakan ketidaksanggupanku menyentuhnya lagi.

Bukankah memang banyak orang yang berlalu lalang, datang dan pergi tanpa mampu kita tentukan?


Aku tahu episode ini adalah sebuah pembelajaran besar dalam bagian hidupku. Efeknya mungkin besok, minggu depan, tahun depan, atau bertahun-tahun yang akan datang. Beratnya beban yang aku terima hari itu akan ditentukan pengaruhnya menjadi seperti apa sesuai dengan sikapku setelahnya. Bagaimana aku mengambil langkah setelah ini? Biasa saja, angkat tangan dan menyerah…. atau menarik napas dalam-dalam dan memastikan langkahku selanjutnya sudah siap untuk kembali melanjutkan perjalanan?

“Aku nggak tahu mungkin sebagian dari temen-temen menganggap hal yang aku hadapi sepele, cuma gitu doang, tapi aku merasa betul-betul kesulitan menghadapinya,” sambil sesenggukan.

“Dan dari kesemua ini aku merasa salahku salah satunya adalah nggak mencurahkan ini dari dulu. Satu kejadian menumpuk sama kejadian-kejadian lain, terus menerus. Sampai aku nggak kuat ternyata untuk nahan semuanya.”

“Aku sering kok beberapa kali mencoba menumpahkannya ke beberapa temen di sini, tapi nggak pernah seluruhnya. Pasti nggantung. Nggak keluar semua. Jadi responnya ya nggak kayak yang diharapkan. Akhirnya ini tetep jadi beban beraaat bangetttt. Susah sendirian, berat sendirian, karena aku pikir kuat ngadepinnya.”

“Aku pikir…. ya, kupikir gitu….”

HUWAAAAA!!! “Nggakpapa, Him.”

“Iya, Him. Nggakpapa, beberapa kali aku juga merasakan hal yang sama.”

…dan sebagainya, dan sebagainya. Oh, terima kasih sudah mau mendekapku ke dalam kehangatan setelah kata-kata dingin seperti “sepi”, “berat” keluar dari mulutku. Entah bagaimana aku bisa-bisanya berbisik dan kedengeran, “…..lega eh.” Sudah habis berapa tisu akhirnya untuk menjadikan kantong mataku berubah merah. Malu, lega, senang, gemas, aaaah perasaanku kacau di momen itu. Tapi yang aku tahu, bahwa “mengungkapkan” dan “bercerita” adalah hal yang kita perlukan sesekali. Jangan pernah lagi menutup-nutupi hanya karena kita berpikir bisa survive sendiri. Kita tahu kapan harus melaju dan kelihatan sok-sokan, kapan harus mengaku kalau perlu istirahat dulu :))

Di momen begini, jadi ingat lagu Lucky Laki waktu kecil dulu:

Ayahku selalu memarahi aku
Bila aku masih menangis
Masih belum bisa
Menjadi seperti
Apa yang Ayah selalu mau

Hehe, maaf ya, Babe. InsyaAllah, ini untuk menambah energi berlari supaya bisa kembali jadi putri dambaan Babe dan Ibunda. Pejuang anti kekerasan, setangguh bunga mawar, yang bisa berdiri dengan kaki sendiri…… emmmm entah gimana apa itu maksud arti namaku yang sebenernya :/

***

Belakangan aku jadi sering ngobrol dengan diri sendiri, “All iz wel, all iz wel.” di jalan. Daaaan soal aku merasa sendirian di kampus, belakangan terobati dengan sebuah momen. Jadi sahabat Nabila pernah sedikit memberikan gambaran yang mirip denganku untuk rangkaian perjalanan ini, “Pas SD punya temen-temen circle eksklusif sendiri, SMP juga punya temen gerombolan tapi biasa aja sama sekelas bisa kenalan, SMA bisa baur sama temen-temen sekelas dan dari mana-mana, pas kuliah……. NAH nggak ada temennya.” Aku dan Luthfia yang mendengarkan tertawa puas, ah, benar juga!

Konyol kalau beberapa bulan lalu aku merasa sendirian, ini karena lingkup pertemanan kami makin meluas ya kan. Aku saja yang terlalu sibuk memikirkan “aku-aku-aku” di mata setiap orang. Haduuh, capek kan Hims kalau gitu? Yaudah, move on. Life must go on.

Di lain waktu juga, beberapa sahabat pernah asyik ngobrol dan iseng-iseng memunculkan pertanyaan, “Mau punya tipikal cowok besok kaya gimana?” Daaaan tanpa diduga-duga yang awalnya aku nggak hanyut dalam obrolan itu, tiba-tiba terpanggil oleh gelak tawa mereka yang merespon jawaban:

“Pengen man version-nya Ahimsa, yang bisa ngrangkul semua.”

Di situ…………………………………. serius, aku pengen nangis, tapi cuma bisa ikut ketawa. Duhhhh, andai sahabat-sahabat yang menjelma jadi motivator di depanku ini tahu beberapa hari yang lalu aku nyaris merasa mau gila karena berpikir bahwa diriku nggak punya circle di mana-mana. Huweeee :”(( Aku cuma berharap tulisan yang satu ini nggak kebaca anak-anak kelasku, kalau iya, malu banget sih. Kalau kebaca yadah nggakpapa, paling cuma ketawa :v

Kebawa perasaan mendengarnya, minimal terbesarkan hatiku: punya temen, eh.

ALHAMDULILLAH, Allah mboten sare. Kalau boleh jujur juga, di saat-saat berat kemarin, rasanya memang lagi jauh-jauhnya dengan Sang Pemilik Hati. Lha, kalau gitu, pantas kan dibolak-balik hatinya? Diperingatkan biar kembali memeluk-Nya, karena kamu nggak akan hidup tanpa-Nya.

Aku harusnya emang keluar dari pikiran-pikiran negatif itu dari dulu. Jadi nggak usah sok-sokan ngaku otewe gila dan sebagainya. Beruntung nggak sampai kepikiran mengakhiri nyawa, heuheu. Naudzubillahimin dzalik……. Bener juga makanya kemarin ada yang bilang, cuma perlu ngobrol kan biar nggak kejebak di ketidaktahuan. Hehe, iya, maap!

Sepenuh doa tersampaikan untukmu, untukmu, untukmuuuuu semuanya deh! Barakallahulakum!!

Penting memang berkeluh kesah dan mengungkapkan perasaan lelah, tapi yang nggak kalah penting juga adalah bagaimana selanjutnya kita memgambil langkah. Semangatnya makin mantap atau makin lenyap. Kita yang memutuskan.

#HearMeToo #SpeakUp #LifeMustGoOn you are not alone, Sahabatku, Sayangku :))

Yogyakarta, 25 Rabiul Awal 1440

Fanindya Apriani, Sahabat mendes 😎

Ibu Rifa yang selalu sabar dan mau jadi temen diskusi; anak Dias yang selalu semangat jadi tempat sambat dan mencari pelepas penat. Inilah foto tiga generasi hihihi.

Ada yang beda dari mata saya???? Kontras sama senyumnya Ukhti Ririndes ya :))

Foto sama pemenang rekor muri nonton sebagai teman kuliah pertama yang nonton bareng Ahimsa, Salma Nisrina :’3

Yang ultah siapa, yang dapet roti siapa. Yeeeeyyyy dapet limpahan kue dari kantor Aisyiyah ceritanya pas lagi laper-lapernya :v

Berondongwati pemberi impuls <3 Mungkin bener yang jadi alasan salah satunya kenapa aku sempet mis orientasi di tengah jalan karena kemarin-kemarin jarang ketemu bibit-bibit yang emang sejatinya ladang garapan IPM. Nah, jadi yukkk main ke ranting lagi yukkk uhuy!

Laskar lintas usia dan lintas pulau. Terima kasih sudah mengobati rindu berpetualang lagiiii, kapan-kapan ketemu lagi.

Ngantuk ngantuk habis acara jurusan tapi beruntung ada gandengan yang mau ngingetin “Ayoo berangkat, ntar sia-sia 75k mu!” OKE SIAP =))

Terima kasih palaparty, kami jadi tahu jedug-jedug party itu gimana. Ternyata nggak enak. Enak silaturahimnya, mumet ngeliat lampunya~

Tinggalkan Balasan