Beberapa waktu yang lalu, aku mendapatkan sebuah cerita luar biasa teman-teman! Pertemuan dengan seorang penulis yang begitu tersohor, ini merupakan pengalaman menyenangkan yang sangat aku syukuri. Tetapi, apapun itu, sebuah kejadian tidak akan berefek bagus kalau tanpa memiliki manfaat untuk kita.

Ada perubahan besar yang diawali dari tulisan. (Habiburrahman El-Shirazy)

Tokoh yang satu ini ialah Habiburrahman El-Shirazy, atau yang lebih akrab disapa Kang Abik. Siapa hayo yang belum mengenalnya? Beliau merupakan salah seorang novelis senior yang sangat dikagumi berkat buku karyanya yaitu Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Bahkan kedua karya tersebut sukses menghinggapi bioskop layar lebar.

Sebuah kesempatan besar ketika datang undangan dari seorang teman di Madrasah Mu’alimin Yogyakarta, Ulin namanya, mengenai adanya kegiatan “Talkshow Bersama Kang Abik” yang kala itu merupakan acara sekolahnya. Awalnya, belum terlalu ngeh kalau “Kang Abik” itu Pak Habiburrahman, karena jujur saja nih memang belum terlalu akrab dengan sapaan tersebut. Tetapi karena tema menjurus pada sesuatu yang sangat aku minati, sehingga tepat sasaranlah undangan ini disampaikan untukku. Tema yang diusung dalam talkshow tersebut adalah Mengubah Pengalaman Menjadi Tulisan.

Meskipun banyak teman-teman yang tertarik, tetapi sayang beribu sayang banyak yang punya agenda bertubrukan. Jadilah yang awalnya SMA Negeri 6 Yogyakarta mendapat 5 kuota, hanya 3 perwakilan yang dapat hadir. Beginilah aku pergi bersama sekawanan makhluk jurnalis Muda Wijaya, Isna dan Rasya.

Terima kasih arsitekturnya Gedung AMC, bagus ya buat foto. HEHE.
Beberapa muka ada yang tidak senonoh, jadi perlu disensor.

Acara talkshow ini dilaksanakan pada Hari Minggu lalu, 1 Mei 2016 di Gedung Asri Medical Center (AMC). Untuk tambahan informasi, yang lebih menggoda lagi dari acara ini adalah…. acaranya gratis!

Sebelum kegiatan tersebut, seperti biasa aku akan mempersiapkan materi pertanyaan yang ingin aku ajukan nanti supaya tidak kelupaan. Mumpung ada kesempatan, sungguh tidak ingin bila aku lewatkan. Tema kepenulisan selalu menyenangkan untuk dibahas, sehingga bagiku momen pertemuan dengan penulis senior perlu dimanfaatkan.

Hari itu di Ballroom Gedung AMC terlihat penuh manusia berdesakan yang berharap penuh menantikan obrolan dan diskusi hangat bersama Kang Abik (sedikit hiperbola, memang, HAHA).

…THE POWER OF WRITING…
Kekuatan tulisan disampaikan Kang Abik sebagai awal pembukaan obrolan ini. Bahwa tulisan memiliki kekuatan yang mampu membuat sebuah perubahan besar. Salah satu kisah yang diusung oleh Kang Abik di sini ialah kisah Nabi Sulaiman as. Mungkin teman-teman pernah mendengarnya.

Qur’an Surah An-Naml
          Ketika itu, Raja Sulaiman (rasul yang dianugerahi mukjizat dapat berbicara dengan hewan) sedang kesal menemui bahwa pos yang harus dijaga burung Hud-hud ternyata tidak ditempati. Beliau mencari-cari burung itu dan sudah berniat menegurnya apabila ia kembali. Pada saat Hud-hud kembali dan ditegur, ia mengaku baru saja menemukan sebuah negeri makmur yang dipimpin oleh seorang ratu, namanya Ratu Balqis. Sayangnya seluruh rakyatnya tiada menyembah kepada Allah swt. melainkan pada matahari.
          Oleh karenanya, Nabi Sulaiman as ingin membuktikan perkataan Hud-hud. Beliau memerintahkan untuknya mengirim sebuah surat sederhana yang telah ditulis oleh Sang Raja, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”
          Pada kenyataannya surat yang disampaikan oleh Hud-hud ini berhasil menggetarkan majelis petinggi negeri Saba. Ratu Balqis menemukan bahwa ternyata ada seorang raja yang sungguh berani menyampaikan surat tersebut ke hadapannya. Dalam hal ini kita bisa memahami betapa kuatnya kesederhanaan sebuah tulisan.

Kang Abik juga sempat mengutip kata Imam Suyuti dalam salah satu kitabnya yang mengatakan bahwa menulis itu bisa menjadi shodaqoh jariyah ilmu bermanfaat, jika berisi kebaikan. Maksudnya, ya apabila nanti pun jika kita sudah meninggal dunia, pahala kita akan tetap dapat mengalir, dikarenakan adanya ilmu bermanfaat yang kita bagi melalui tulisan dan tetap dapat dikonsumsi banyak orang bahkan meskipun kita sudah meninggal. Wah, keren ya, ternyata hebat juga dan bermanfaat sekali. Hehehe.

…GIMANA SIH CARANYA NULIS?…
Harus terkenal dulu kaya Kang Abik?
Harus ganteng dulu? Cantik dulu?
Harus kaya? Harus pinter?
Harus punya aji-aji tertentu?
Atau harus ditakdirkan punya bakat menulis?
Mungkin Tuhan hanya menakdirkan orang tertentu biar jadi penulis.

Kang Abik dengan enteng menjawab, “Modal menulis itu cuma kemauan kuat (niat) menjadi penulis, dan disiplin menulis.”

“Menulis” bukan ranah pengetahuan, melainkan keterampilan. Kalau pengetahuan itu kan kita hanya berbicara masalah teori, sedangkan menulis adalah mengenai “skill” yang dalam hal ini dicapai lewat latihan. Tidak beda dengan yang namanya perenang, atlet lari, dan lain-lain. Semua kuncinya adalah latihan, karena latihan adalah jam terbang untuk kita sampai kepada “penulis” itu.

Jadi, kalau lagi-lagi ada yang mengatakan “Bakat Menulis” itu adalah semata-mata pemberian Tuhan kepada makhluk-Nya yang tertentu, maka Kang Abik sontak mengajak kita untuk menyangkalnya. Kang Abik bilang “Bakat Menulis” sebenarnya merupakan kemauan keras dan kerja keras yang selalu dijaga dan dipupuk setiap hari, setiap saat, setiap waktu.

…BANYAK YANG PERLU DITAHAN UNTUK PARA NEWBIE…
Ini nih, seringnya kalau udah mulai senang menulis, sudah berhalaman-halaman, di tengah jalan tergoda untuk me-review cerita kita. Dibaca ulang terus merasa, “Eh kok wagu ya, eh ini nanti endingnya aneh, ah diganti aja.” lalu tanpa pikir panjang dihapus dan diulang semua dari awal. Habis deh itu, waktu sia-sia sebelumnya sepanjang hari untuk nulis.

Intinya, kata Kang Abik, kita udah tau target ending seperti apa. Tetapi jangan tergoda menjadi kritikus di tengah jalan. Nanti ketika cerita sudah mencapai bagian penutup, baru deh kita review ada yang kurang enggak, begitu.

…TAMBAHAN SARAN…
Kang Abik menyarankan supaya kita banyak ikut lomba-lomba kepenulisan untuk melatih kemampuan. Walaupun tidak juara, kan intinya tetap “berlatih”, jadi menang-kalah tidak perlu dipermasalahkan. Kalaupun menang ya alhamdulillah itu nilainya sebagai bonus saja.

Untuk teman-teman pemula, boleh kok kalau gaya tulisan masih senang ikut-ikut penulis-penulis ngetop lainnya. Sederhana, ilmiah, gokil, puitis, terserah. Karena ini masih tahap latihan. Tetapi nantinya tetap harus ada pencapaian, teman-teman perlu memiliki ciri khas untuk gaya tulisan teman-teman sendiri. Jangan menyerah ya!

…DAPAT OLEH-OLEH!…
Alhamdulillah nih, bonus! Pulangnya dapat oleh-oleh dari acara Talkshow, semoga bermanfaat. Terima kasih Kang Abik dan teman-teman! 🙂

Wah dapat foto gratis pula bareng mas-masnya, eh, bareng Kang Abik maksudnya. HEHE.
Maaf baru bisa nge-post ceritanya.
Yogyakarta, Mei 2016

Tinggalkan Balasan