Ini tulisan dari seorang manusia yang di kala SMA haqqul yakin berpisah dari jurusan yang ada mapel ekonomi-nya. Kali ini, ia malah tertarik untuk menuliskan sesuatu yang suwangat ekonomi.

 

“Siapa?”

 

Aku.

 

“…yang nanya?

 

Hiya hiyaa~”

 

Wolah, telo, dipermainkan diri sendiri. Yo, aku yang tanya. Hehe, aku. Orang yang sekarang ingin mendeklarasikan bahwa cita-citaku adalah menjadi orang kaya HAHAHA. (apa sih hims)

 

Pertanyaan selanjutnya kan, orang kaya yang seperti apa? Hehe. Beberapa hari lalu, aku mengabadikan sebuah simpulan tentang siapa sih orang kaya itu. Lewat instastory.

 

 

Beneran deh, aku merasa sangat kaya ketika semua cerita yang kumiliki, baik di waktu lapang dan sempit, dapat kumaknai, lebih-lebih dapat kuperkaya lagi. Hehehe. Pasti menyenangkan sekali, puas sekali di hati.

 

Malam minggu lalu, secara kebetulan aku dimintai bantuan menyampaikan buah pikiran singkat tentang bercerita atau mendongeng dalam acara rutin Joy Circle milik Rumah Dongeng Mentari (RDM). Sebab ingin membuat ilustrasi yang mudah, kuminta pencerahan pada seorang teman yang kuliah jurusan akuntansi, namanya sahabat Ridwan. Dan jadilah poin-poin di bawah ini yang membantuku menjawab pertanyaan: mengapa dengan bercerita, kita bisa menjadi kaya raya?

 

MODAL DAN INVESTASI

 

1. Mendengar adalah modal utama kita

Sebelum jadi bayi oek oek, dulu kita ada di dalam perut ibu. Pasti kita sudah pernah mendengar fakta bahwa organ pertama yang berkembang adalah pendengaran. Dari  sinilah, kita punya modal untuk selanjutnya mampu belajar banyak hal.

 

Lewat mendengar, kita jadi tahu banyak hal. Oh itu to, suara ibu seperti itu, oh cara ngomong ayah itu begitu, oh benda ini namanya pisang, yang itu namanya baju, dan sebagainya. Ini adalah modal pertama sebelum kita nantinya bisa berbicara, bercerita, melakukan apapun yang kita suka. Sejak lahir, kita diajarkan bahwa diri kita harus terlebih dahulu belajar mendengar. Kita perlu belajar dari orang-orang lain. Kita perlu belajar memahami keadaan. Kita perlu belajar banyak hal.

 

2. Bercerita adalah jalan berinvestasi

Cerita yang sempet aku post tentang obrolanku bareng Ijah yang kutulis di sini, kusampein juga di forum Joy Circle. Demi menyatakan bahwa setiap kita tetep bisa menulis apapun walaupun kita baru sedikit bacaan bukunya. Sama juga dalam hal bercerita, selalu ada hal yang bisa diceritakan meskipun kita baru tahu sedikit saja. Jadi, jangan khawatir berbagi hal-hal kecil ke teman kita. Bisa jadi mereka belum tahu soal hal kecil itu. Atau kalaupun mereka tahu, bisa jadi mereka punya cara pandang lain yang akan memperkaya cerita kita.

 

Sebagai contoh ketika kita hanya melemparkan ujaran cerita sederhana, “Aku punya guling kesayangan. Warnanya pink.” Ketika kita membuka obrolan itu, akan ada banyak respon cerita lain yang memperkaya cerita soal guling. Mungkin ada teman yang berseru, “Wih, aku juga punya guling kesayangan!”

 

“Gulingku warnanya kuning!”

 

“Gulingku kado dari tanteku!”

 

Bahkan mungkin ada yang bilang, “Gulingku suka aku ilerin!” Hehehe, banyak kan ceritanya, beraneka ragam.

 

Bisa jadi setelah kita berbagi sedikit cerita (setelah kita banyak mendengar tentu saja—sebagai modalnya), akan muncul banyak cerita-cerita lain. Karena kita bisa sharing, oh ternyata teman kita ada yang punya pengalaman mirip, oh ternyata pendapat orang lain berbeda, dan sebagainya. Itu namanya investasi. Kita memperkaya cerita yang tadinya sedikit, jadi beranak pinak. Yeyyyy dan kita jadi kaya raya! Uwuwuu

 

3. Okay, bermodal mendengar, berinvestasi dengan bercerita, selanjutnya apa?

Ya ayo, lagi, lagi, diulang lagi, jangan berhenti. Karena nggak ada hal yang bisa selesai untuk dipelajari atau dibagi. Contoh, dulu cuma bisa cerita ke temen sebangku, sekarang ceritanya ke temen temen yang bahkan belum pernah kenal sama sekali.

 

Dulu ceritanya cuma biasa lewat ketemuan langsung, sekarang dituntut belajar cerita lewat temu virtual. Mungkin kegiatannya nggak bisa seinteraktif kaya kalau pas ketemu langsung, tapi kita pasti bisa belajar cara ngontrol  alur pertemuan supaya lebih enak.  Misalnya dengan memberlakukan peraturan bahwa selain pembicara, microphone yang lain harus dimatikan. Kita maksimalkan tampilan kita baik di layar, suara kita terdengar baik, dan banyak lagi. Nah, selalu ada ilmu baru kan yang bisa didapatkan, selalu bisa belajar hal baru. Ye ga ye ga.

 

 

Jadi tetap semangat ya kamu yang bermimpi untuk mau jadi orang kaya! Yuk kita berlomba-lomba fastabiqul khoirot menjadi orang kaya! Yeyyyy

 

Yogyakarta, 1 Ramadhan 1441