Bahagia Melekat (Notes on 29 Rabbiul Awwal 1439)

Bila ada yang bilang, bahagia adalah soal menyadari, itu diriku percaya sekali. Hanya saja yang jadi masalah adalah seringnya kecolongan dan melupakan hal itu.

HARI SENIN, 18 DESEMBER 2017/29 RABBIUL AWWAL 1439
Mulai dari malam sebelumnya dengan tepar yang sangat mengganggu akibat usai acara Jambore, kupaksakan membaca materi ujian Bahasa Indonesia. Ya, tapi mau bagaimana? Hasratku itu payah sekali dan badanku sudah sulit diajak kompromi. Akhirnya tidak terusaikan belajar malam itu. Esok paginya usai sholat Shubuh, penat masih menempel, lagi-lagi tepar lagi. Astaghfirulloh. Duh.

Baru sekitar pukul 7 aku bangun dan mulai bergerak membaca materi dengan mata berkunang-kunang. Di jadwal, aku akan ujian pukul 13.30 WIB, masih ada waktu. Kuusahakan semantap mungkin.

Hampir saja terlupa, aku ada janji mengambil kartu mahasiswa yang ndak sengaja terbawa kakak tingkat pariwisata saat pemilwa lalu. Duh. Kami janji bertemu di waktu Dhuhur. Tapi, ya, namanya Ahimsa emang sukanya menunda-nunda (saat itu, habis ini bismillah ya gaskan pol). Aku sampai ke kampus sudah jam setengah satu lebih dan Mbak Aivi (yang membawa kartuku) barusan akan meninggalkan mushola. Duh! MasyaAllah! Nyaris sekali! Kumohon maaf karena merepotkannya. Muehehe. Barakallah, Mbakku!

Setelah itu kusempatkan belajar sebentar. Lalu melihat jam. Kupikir, ah, belajar aja di deket ruang ujian biar bisa bareng anak-anak.

Eh, eh, belum sampai ke gedung yang seharusnya, di bangcok alias bangku cokelat ketemu Ressa, Rifa, dan Kiku lagi berhadapan dengan laptopnya masing-masing. Ugh, pikirku, “Mereka belajar di sini ternyata!”

Tapi, sapaan yang kudapat dari mereka ganjil sekali. “Kamu ngapain e, Hims? Mau ngerjain tugas makalah po?” Aku bingung. “Lah, kan, mau ujian kita!” Itu masih dengan tawa ceria.

Respon mereka apa???

“HAAA? UJIAN APAAA?” Allohu akbar!

“Bahasa Indonesia, kan?!” aku agak ragu jadinya.

“LOH? KAN HARI RABU HIMS!”

“WHAAAAT??? SUMPAAAAH?” geger aku. Serius setelah itu aku mencak-mencak di deket bangcok. Gilak! Perasaan nggak mungkin aku salah baca. Seingetku jadwal ujian hari ini. Heeeee? Kok bisa?

Kubuka kartu ujian. Bener! Hari Senin! Tapi punya yang lain terbaca Rabu! Aku bingung, panik! Kudu gimana? Langsung gaskan ke bagian akademik, lari kocar-kacir. Tapi, ya, yang namanya Ahimsa emang kelakuannya. Panik begitu ketemu anak Sejarah di tengah jalan, malah curhat dulu dan nggak keburu menuntaskan. Malah anak Sejarah yang mengingatkan biar buruan. Oh, iya, batinku. Naik deh ke lantai dua. UGH.

Takut salah. Jeng, jeng, jeng. Kutemui bapak ini, dilempar ke sini, bapak itu dilempar ke situ. Sampai akhirnya ketemu salahnya ada padaku. Allohu akbar, payah tenan aku. Jadi, dari semester awal ternyata aku salah ngisi KRS. Masa aku ambil punya kating 2016. Jadilah namaku ada di ruang ujian mereka. Pantas selama ini presensi Makul Bahasa Indonesia aku selalu menulis nama sendiri sebab namaku nggak terketik. Padahal kubayangkan waktu itu petugasnya sengaja nggak ngetik karena mungkin namaku terlalu keren kalau diketik, biar ditulis tangan aja sama yang punya (?) apaan, ahahaha.

Begitulah. Ada sesal dan senang. Untunglah aku belum masuk ke ruang ujian. Kan nggak lucu kalau aku duduk di sana dan di sekelilingku isinya kating. Mana soalnya kan aku gagal paham. Ngekek. Aku bahagia. Semoga manusia-manusia yang dipertemukan denganku dan mengingatkanku itu diberi balasan yang setimpal oleh-Nya. Aamiin:”)

Ya sudah, akhirnya aku duduk di bangcok bersama mereka bertiga sambil menertawakan kebodohanku sendiri. Ressa bilang, “Kamu ya, Hims, ada ujian nggak berangkat, nggak ada ujian malah berangkat! Hahahaha!” Okay untuk tulisan yang kutebalkan memang belum sempat kuceritakan. Sumpah, untuk pengalaman yang itu aku nggak bisa nahan tangis soalnya. Keterlaluan. Serius. Ahimsa nih emang. Parah. Oke, cukupkan. Hehe.

Nah ternyata Kiku, Rifa, Ressa lagi sibuk mengerjakan tugas makalah. Gile. MasyaAllah. Ahimsa aja baru ngebut ketika sebelum ini nih nulis di blog ini sekarang ini today banget, hehehe. Padahal deadline hari ini juga. Astaghfirulloh.

Lalu aku sibukkan diri menyelesaikan tulisan soal Jambore kemarin sambil menunggu kegiatan selanjutnya. Apa itu? Hehe. Ada wawancara buat kepanitiaan English Day 2018. Akhirnya kupilih panitia workshop dan stand. Sudah kumantapkan. InsyaAllah sekalian belajar. Perkara keterima atau nggak jadi panitia, nggak masalah ah. Kalau nggak jadi panitia, berarti Allah nyuruh aku jadi peserta. Hohoho.

Wawancara mulai pukul 3. Yah. Alhamdulillah. Cepat ternyata. Aku diwawancarai Mbak Nadine. Baru sadar di situ, sebab kemarin nggak terlalu banyak aktif di kepanitiaan sebelumnya, masalah hubungan pertemanan dengan kating aku masih kalah jauh dari teman yang lain. Mereka udah gaspol aja. Bahkan ada yang udah cihuy dapet pasangan, uwadaw. Hehe. Ndakpapa. By the way, di tengah-tengah ngobrol sama anak-anak aku malah baru tahu ternyata anak Sasing ada yang barusan terpilih jadi ketua KMIB (Keluarga Muslim Ilmu Budaya). WOH! Malah nggak terbayang aku. Keren juga ternyata. Mas Juno apa ya namanya kalau ndak salah. Ehehehe, selama ini ada sedikit nggak yakin aja dengan suasana islami di jurusanku, tapi ternyata fakta ini menamparku. Uwaw.

Yah begitulah akhirnya selesai wawancara aku langsung gaspol pulang duluan. Karena ada waktu sore sedikit yang bisa dimanfaatkan, yuhu, kubawa Pilek menuju rumah kedua. Mana lagi? Jelas PDM Jogja. Kupikir akan sendirian karena terakhir kulihat Pak Alwan barusan keluar. Ternyata ndak lama ada Bunda Laila. Setelah diem-dieman karena sibuk dengan handphone masing-masing, sempat cerita beberapa masalah, lalu kemudian ditutup dengan agenda kerja bakti kantor bersama. Berantakan banget sumpah habis dari jambore kemarin. Ugh. Tapi seneng. Hehe. Sebab juga menemukan barang yang membuatku trenyuh, hehe. Meskipun ternyata beberapa waktu kemudian juga membuat jengkel. Tapi setelah itu aku bilang ke diriku sendiri, “Siapa sih kamu?” Terus tenang deh. Hohoho.

Di akhir, Bunda Anggit dan Pak Alwan pun ikutan membereskan. Nice, nice.

Aku nyaris lupa malam ini punya agenda. Babe sudah mengirim pesan WA dan meminta pulang segera. Oh, iya. Lalu aku pamit duluan.

Aku pikir malam itu hanya akan menemani Babe ngisi acara seperti biasa. Ternyata ini “menemani” yang sesungguhnya. Aku pun disuruh maju ke depan. Muehe. Belum siap bahan. Mau ngomongin apaan? Singkat cerita, Babe diminta mengisi soal motivasi pendidikan begitu di Kampung Ngadisuryan. Kalau tidak salah ini sebab sedang ada rencana diberlakukan kembali adanya jam malam demi mengusung kampung panca tertib (KPT). Dan aku di situ diminta menambahkan materi Babe, untuk mewakili para anak, sebenernya anak-anak itu pengen diseperti apakan sih oleh orang tua. Ugh.

Duh. Apa ya? Kureka-reka topik apa saja, sambil kuselipkan beberapa cerita yang mungkin pernah kusampaikan dan ada sedikit banyak pengalaman teman. Bismillah. Lillah. Cukup menyenangkan. Akhir acara seorang ibu mendekat dan meminta kontak. Pak Warno teman Babe membikin bercandaan yang membuatku terbang, duh, ampuni aku Tuhan, “Wah, mau dipek mantu itu!”

Sang ibu berseru, “Wah, kalau anak saya tiga tak jadikan mantu!”

Uwadaw. Seperti biasa diajari ibu, untuk meruntuhkan baper yang ada, “Duh, ini baru ketemu sekali lho, Bu. Besok-besok ketemu lagi malah kecewa!”

Lalu kami tertawa.

Selama beberapa waktu diberi kesempatan ngopyok untu selama ini, Babe belum pernah secara full membersamai. Tapi kali ini, karena di momen bersamaan, beliau berseru dan memberi komentar untuk disampaikan pada ibu. Satu kata yang rasanya ingin membuatku tersedu : memukau, kata beliau.

Huhu. Ingin kubilang. “Kalah, Be, kalau sama Babe!”

Iya, memang. Sebab menurutku apa yang disampaikan Babe sepanjang waktu selama aku mendengarkan beliau menyampaikan materi, selalu saja, pinter di pandanganku. Kadang kupikir, mana mungkin aku kepikiran begitu. Aku bukan orang seintelek itu. Ugh. Kadang aku bertanya sendiri, “Aku ini anaknya Babe beneran nggak sih?”

Melihat saabat lain yang otaknya lebih cocok jadi anak Babe, kadang aku minder. Muehe.

Sejujurnya belakangan aku sadari banyak mengalami luka (memang kebanyakan kubuat sendiri). Tapi, jangan lupa, sebagaimana Chairil Anwar membangkitkan semangat dengan puisi Aku-nya. Ya, kita harus tetap berlari, hingga hilang pedih perih. Lanjut lagi 🙂

ALHAMDULILLAH. Bahagia datang pada orang yang sadar. Iya kan? Kita cuma perlu mengikhlaskan sedikit kepergian (bahagia) untuk menyadari banyak kedatangan (bahagia).

Yogyakarta, 1 Rabbiul Akhir 1439

diingetin, hehe.

deg-degan eh.
al-kautsar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *