Perlahan, tapi saya yakin akan mampu. Memang harus berusaha sendiri, kan? Tiada guna mengusung-usung harapan kalau nyatanya tidak ada perjuangan.

Saya berjuang soal ini, seperti yang lain juga dengan persoalannya masing-masing. Semoga kami mampu mengatasi. Pernah saya bilang di line, hehe, kita sedang berjuang di tangga masing-masing. Berat, hehe. Tapi, tetep kudu kuat. InsyaAllah, Aamiin. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri.” (Ar-Ra’du : 11)

BTW, KOK JADI “SAYA”?
Haha. Iya ya? Malah baru sadar. Okeee, balik lagi jadi Ahimsa. Jadi, aku.

MOODBOOSTER BELAKANGAN
Siapa lagi kalau bukan si kecil upil yang enak banget kalau dijahilin? Si Sobit, yang kecil-kecil begitu tapi pengen dipanggil Mas. Seneng aja lagi-lagi main jadi presenter dengannya. “Oke pemirsa, lihat ini ada anak upil di sini.” Langsung ditendang aku! Hahaha!

Hehe. Sebenernya ada satu lagi, Bu Sum, yang setiap kusapa selalu berseru menyenangkan. Rasanya ingin lagi main ke sana. Kira-kira bawa apa ya? Aduh, kapan emangnya?

PASRAH
Telah penuh usahaku untuk memantapkan, masalah biaya nantilah (Insya Allah) siap, beberapa sahabat sudah iya kalau mau membersamai. Tapi, betul-betul soal keputusan perlu dikembalikan lagi. Ketika kukontak salah satu panitia Taruna Melati III Lampung, disampaikannya untuk saat ini baru dibolehkan bagi teman-teman wilayah. Rasanya jengkel, tapi bukan amarah yang keluar, malah sekadar desah napas. Kupikir, kemungkinan ini bisa terjadi. Segera kuhubungi Pak Nabhan selaku yang sebelumnya menghubungkan. Kusiapkan berbagai kemungkinan. Kecewa? Kadang hanya kerikil jalanan saat kita on the way menuju kebahagiaan.

KURANG MAKSIMAL, BERAKHIR SESAL
Sedih, semalam memaksakan dan mencipta penyesalan. Akhirnya pagi-pagi yang harusnya termanfaatkan, malah jadi ketiduran. Saat soal UAS literature dihadapkan, ah, bisa dibayangkan. Allohu Akbar, maafkan. Kalau begini bukan soal malu lagi, tapi ndak enak hati pada yang sudah membiayai. Kalau bukan karena seharian sebelumnya habis bareng Fithrotul Izzah yang masya Allah sekali tenangnya, aku pasti nggak akan inget, di setiap keluhan muncul juga, “Alhamdulillah.”

Catatan lagi, harus bisa mengatur waktu dan memanfaatkan setiap keseloan. Don’t say “I feel a bit lost” or you will get lost.

ENGLISH DAY 2018?
Hari ini ada pemakaran konsep kasar dari kating 2016 soal English Day 2018. Tawaran menjadi panitia atau pemain teater disampaikan kepada kami. Ressa bilang padaku, “Sana, Hims. Daftar cast!” Haha, aku tertawa dan balik menyuruhnya ikutan.

Entah, belum terbayang akan bagaimana. Tapi, harus segera. Setidaknya momen ini untuk makin memahami kepribadian sahabat lainnya. Sedikit-sedikit. Untuk ikut casting, kayanya mundur dulu deh. Belum terbayang soal manajemen waktunya yang pasti akan digenjot sekali, ada takut soal batas-batas prinsip yang masih rawan dibenturkan. Malah tergoda ke workshop tentang writing, hehe, jadi panitia. Tapi aku bilang ke Nabila, “Lah, cuma kok kayanya daripada jadi panitia, aku lebih butuh jadi peserta ya?” Hahaha. Tapi, gaskan, bismillah. Kusenang dan sangat mengapresiasi. Mbak Nadin menyebutkan beberapa konsepnya dan aku tersentuh, “English day kan emang buat merayakan ulang tahun, tapi ya masak cuma happy happy aja.” yang kemudian membawa kepada pembahasan soal charity dan education. MasyaAllah, alhamdulillah. Setidaknya kesan positif di awal seperti ini, akan enak selanjutnya untuk dilanjutkan spiritnya.

MENDENGARKAN
Sedikit-sedikit harus paham, nggak cuma kita yang pengen menyuarakan. Orang lain juga ingin didengarkan dan aku harus selalu berupaya siap. Lucunya, dari cerita beberapa sahabat aku malah sadar, “Loh, aku mengalami hal begitu!”

Seorang sahabat berkisah soal hubungannya yang making nggak jelas dengan seseorang. Aku tersentuh dan terkekeh membaca catatannya yang dibiarkan aku membacanya. Lucu! Beberapa lagu yang aku tahu (tapi kukira tidak banyak orang tahu) ada di sana. Ini lagu waktu jalan SMP, hahaha. “Sudahkah kau yakin, untuk mencintaiku, kuingin hanya satu tuk selamanya…” Ugh!

Lalu sahabat lain bercerita soal persoalannya dengan sahabatnya di organisasi. Sejengkel apa dia sebab sahabatnya itu terlalu apa banget, terlalu kekanak-kanakan, terlalu baperan. Sampai dia bilang, “Kepedulianku ke dia udah jadi nol, Hims!” Entah gimana, mendengarnya aku ikut luka. Aku bilang, ini sebab emosinya lagi naik. Sebentar lagi, dan harus tetap diupayakan, berpikir tenang dan santai. InsyaAllah ditemukan jalan damai. Waktu aku bilang begitu, rasanya mangkel juga, cuma omong. Aku kerap berlaku di luar nalar dan membiarkan emosi menjalar. Hmmm.

Tapi dari mereka kutemukan berbagai respon. Sedikit banyak belajar bagi masalahku sendiri. Nice sekali. Pun, (tapi belum kubaca lagi sih) aku belajar lagi dari cerpen Ahmad Tohari. Ketika di tengah merenung, tiba-tiba inget cerpen terakhir di buku Mata yang Enak Dipandang, dan kupikir, “Yaampun, pantas. Maafkan. Betapa diri ini masih perlu belajar bersikap.”

SUDAH CERITA, TINGGAL APA SELANJUTNYA?
Sudah menuangkan ke Ibu, ke Izzah, ke beberapa sahabat. Udah bukan waktunya lagi gulung-gulung badan dan mengutuk diri sendiri, makin pesimis atas kondisi. Ini saatnya lari! Ini cuma soal mau atau nggak. Merdeka atau mati. Kata Ibu, “Dinikmati dulu, Mbak.” Kata Ijah, “Jangan mikir gitu.” Kata sahabat lain kebanyakan, “Perasaanmu doang.” Lalu ndak sengaja kubuka selipan kertas dalam bukuku dari Evinda dulu, serius, itu impuls sekali.

PENGEN NGOBROL
Seriusan, sebetulnya ada yang masih mengganjal perihal semua perasaan yang berkecamuk. Pengen ngobrol berdua sama diriku. Tapi, nggak tahu gimana caranya. Pengen tanya, “Kamu itu sebenernya orangnya gimana?” Biar jelas semua-muanya.

DI SHOPPING
Mungkin sekarang ini jadi rumah yang lain. Apalagi di kos Bude Muji, nikmat! Meskipun isinya adalah hujatan dari manusia-manusia di sana yang tidak menerima keisenganku, hahaha. Barusan beberapa hari ini aku diberi les intensif berbahasa jawa krama hinggil. Kami tertawa-tawa karena kepayahanku. Kata Bude, “Kedahipun njenengan nika nguri-uri bedhaya Jawi.”

Hahaha. Aku yang kesulitan menyusun kata-kata, dan akhirnya campur-campur Jawa Indo, menutup dengan, “Menikalah!” Hahaha. Bingung, eh!

Dan kurasakan… teduh sekali sorenya. Ini ditulis di Toko Shopping, entah gimana Allah paham banget. Musik yang terputar di radio Om Dani adalah lagi Michael Jackson, “You are not alone, ’cause I’m here with you…” Barakallah sahabat. Alhamdulillah.

Yogyakarta, usai di bangunan “lama” yang kita sama-sama paham di mana itu, 20.03 WIB, 25 Rabbiul Awwal 1439

Aslinya, sih, tulisan itu sudah usai di sana. Tapi ternyata saat aku berpulang, sudah ada ujian menanti. Mencipta pesimis (lagi). Ingin menetes, tapi ndak, barusan mantap masa ada ujian terus langsung lenyap? Allohu.

Hei, Ahimsa! Kamu punya ALLAH! ALLAH! ALLAH, HEI!

Tinggalkan Balasan