Batas Pembaperan

Sebenernya diriku sedikit ragu akan ada yang setia membaca blog ini atau nggak. Hehe. Berasa kaya aku lah penulis sekaligus pembacanya. Tapi, bismillah dan baguslah, setidaknya itu menyingkirkan godaan untuk sekadar pamer tulisan. Muehehe.

______

Baik, kutulis judul entri ini, setelah bicara pada Tuhan siang tadi. Tidak mengobrol banyak. Karena to be honest hanya berisi pengakuan dan pengaduanku pada-Nya. Masya Allah.

Mungkin sebagian besar orang memandangku sudah melangkah di depan yang lainnya, seolah aku lebih baik, seolah aku sudah lebih maju, padahal hanya pemandangan yang diolah-olah, yang sesungguhnya jauh dari kebenarannya. Aku sadar ada langkah yang semakin menjauh perlahan dari-Nya. Itu yang membuatku tidak tenang belakangan. Aku kehilangan pedoman. Kehilangan pondasi. Apa yang sebenarnya aku cari dalam hidup ini.

DALAM DUNIA TULIS MENULIS
Aku memang masih payah dan masih perlu banyak belajar, hanya karena sebagian kawan yang berbaik hati memberi pujian berarti lah yang membuatku terlena dan sok-sokan. Pun mengapa bisa booming dan membikinku semakin mengenal banyak pribadi, ya tiada lain karena peran dari sahabat-sahabat tulus yang membagikannya lewat cara yang mulus. Masya Allah. Betapa tega kuhianati mereka dengan jadi arogan, kadang melupakan siapa tangan ajaib yang mencipta tangan manusia yang kini kupakai mengetik. Astaghfirullohal adzim.

DALAM ORGANISASI
Kalau tulis menulis saja aku masih kacau balau, apalagi yang satu ini. Berapa lama waktu aku terjun tidak menjadi penilaian baku yang menentukan kualitas kemampuanku. Aku masih lemah mengkritisi banyak hal. Masih perlu belajar dari orang-orang keren di sekitar. Ah, hanya saja, kadang tingkahku pongah, sok sudah bisa menguasai ini itu, hingga lupa bahwa segala jalan kemudahan berasal dari yang Maha Satu. Betapa aku jadi sering meremehkan orang, bersikap kurang bijak. Astaghfirullohal adzim.

DALAM MENJADI PUBLIC SPEAKER
Jujur, ini masih jauh dari kesempurnaan. Meskipun aslinya ya tetap saja nggak akan sampai pada tahap sempurna itu sih. Hehe. Tapi tetap saja, aku masih lemah dan perlu bekerja keras untuk semakin meningkat. Belakangan jadi mudah terbang hanya karena oleh-oleh ba’da ngisi, selipan amplop yang berisi, dan plakat kayu yang dipahat sepenuh hati. Aku puas. Aku sangat mudah dipuaskan. Baru juga di sini tapi berasa kaya udah nggantiin Najwa Shihab di layar tivi. Baru juga ngomong kaya gini berasa udah telak menginspirasi. Astaghfirullohal adzim.

DALAM DIKAGUMI DAN MENGAGUMIMU
Pertama, dikagumi. Lihat saja betapa membusungnya kepercayaan diriku menyerat kata “dikagumi” di sini. Dengan latar belakang dan kemampuan yang sejujurnya sangat patut diremehkan, sok betul aku kegeeran ada yang menjadi pengagum diam-diam. Dalam sebuah momen ketidaksengajaan bila aku menangkap mata seseorang yang membalas tatapanku, segera cepat hati mengambil kesimpulan : ah, dia curi-curi pandang. Dalam sebuah kalimat di status atau posting-posting yang kebetulan kubaca, dan ditulis oleh seseorang begitu trenyuh dan mendebarkan : ah, dia memberiku sinyal kemesraan. Betapa gampang kalbuku ditendang-tendang, di bawa ke tengah lapangan, dipermainkan.

Kedua, mengagumi. Banyak orang ketakutan memiliki perasaan “i love you because you love me”, aku juga. Karena menurutku itu adalah perasaan ter-“tidak tulus” sedunia (meski tidak perlu kita bahas terlalu dalam makna love sebenarnya, abot rek). Dan aku ketakutan setiap memiliki perasaan, karena khawatir itu sebenarnya yang aku rasakan. Melihat betapa banyak sahabat lain yang sepertinya lebih mantap dan sigap memberikan kepada seseorang itu seisi dunia daripada aku yang malu-malu dan takut menghadiahkan neraka. Minder dan baper teramu menjadi satu di dalam mangkuk batinku. Astaghfirullohal adzim.

______

Hidup itu penuh pembaperan. Selalu dan akan selalu. Kapan muncul dan berhentinya, kita nggak tahu. Tapi boleh sekali kan, ketika kita sadar itu sudah menjadi asap yang terlalu mengepul dan menutup langit indah yang membentang luas, perlu kita sudahi dan batasi. Perlu kita usaikan supaya tidak menjadi pengganggu.

Hidup itu penuh pembaperan. Yang kala itu menjadi baper yang membahagiakan, membuat terbang terlalu mencapai ketinggian yang tak terbayangkan, kita lupa bahwa bisa jadi di atas sana tiada sesuatu yang dapat dipegang. Itu artinya, ketika massa sudah tak mampu terbang jauh lagi, jatuh adalah fenomena yang tidak bisa dihindari. Dan aku tidak mau diucapi “selamat datang di jurang penyesalan” lagi-lagi, seperti dulu, saat hidup penuh pembaperan dan aku tidak tahu cara membatasi.

Hidup itu penuh pembaperan, sayangnya kita dari tadi bicara soal hidup. Tapi setelah hidup ini, tentunya akan ada pembaperan lagi. Saat mati. Saat kembali. Itu, insya Allah yang sejati. Dan di kala waktu hidup ini, semoga aku bisa perlahan menemukan itu: pembaperan yang sejati.

Semoga barokah Allah selalu membasahi keringnya jalan kami. Aamiin. Aamiin. Aamiin.

Yogyakarta, 11 September 2017
Dimulai dari 00.47 – 01.21 WIB

______

BEHIND THIS

1. Sebetulnya tulisan ini diberi judul “BATAS PEMBAPERAN” juga diharap postingan setelah ini isinya bukan tumpahan kegalauan lagi. Karena khawatir, kalau-kalau ternyata aku galau untuk seorang pribadi, eh, ternyata yang digalauin bukan yang jadi suami, yah kan malu-maluin. Wkwkwk. Opo sih, Hims. Hehehe. Ini rada-rada becanda, rada-rada serius, dipahami aja sendiri.

2. Foto yang aku pilih ini adalah……. momen yang aku rindukan. Di mana segala niat dan keputusan rasanya begitu bening dan jernih aku putuskan. Di mana perjuangan adalah soal membangun keberanian. Bukan seperti saat ini, di mana perjuangan adalah berupaya mengingat niat awal untuk kembali diluruskan demi masa depan. Serius, aku rindu. Rindu sekali.

2 comments on “Batas Pembaperan

Tinggalkan Balasan ke FAIZAL FAQRI Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *