Berbakti, Sebuah Nasehat Bocah

(1)

Namanya Dilla, seorang gadis lulusan SMP yang buatku dewasanya luar biasa. Ia sahabat dan salah satu partner di organisasi keperempuanan, yakni Nasyiatul Aisyiyah (NA). Diajarkannya banyak hal padaku. Darinya terbukti, pembelajaran bukan sekadar soal sekolah, guru ndak selalu pribadi yang dilahirkan lebih dulu. Kapan saja dan dimana saja, kita mampu belajar.

Pada suatu momen romantis teman-teman NA di Ramadhan lalu, daku berkisah soal keadaan Eyang yang untuk beberapa hari belakangan harus beristirahat di RS PKU Muhammadiyah. Sebab sudah sepuh, maka memang kondisinya menuntut banyak perhatian, khususnya soal makan. Muehehe, ini, Eyang kebetulan berlawanan sekali dengan cucunya. Beliau nikmat sekali makan dengan sensasi pedas, serunya, “Kalau ndak pedas, hambar. Kayak ndak makan.” Haduh, duh, duh. Padahal semakin menua, tangguhnya lambung semakin menyusut. Begitulah kemudian Eyang iseng-iseng makan pedas dan jatuh sakit.

Di kala pertemuan dengan Dilla itu tersampaikanlah padaku nasehat-nasehat yang meneduhkan, membuka pandangan, dan menyegarkan semangat sebagai seorang cucu keturunan. “Eyang!!! Maaf banyak absen dalam membersamai!!!” ingin segera kuserukan itu usai berbincang dengan Dilla.

***

(2)

Om Eko Prasetyo menyebut dalam buku “Kitab Pembebasan” bahwa gambaran hidup manusia bisa dipelajari berkat revolusi bulan terhadap bumi. Wajah rembulan yang tampak dari planet kita, berhasil memberi ilustrasi. Pada awalnya, rupanya tampak mungil hingga kemudian terus mengembang menjadi sabit dan penuh setengah. Ketika bulat di situlah kejayaannya, cerah berseri dan berisi. Namun, kita tahu pada saatnya ia akan kembali menyusut sedikit demi sedikit, mengecil kembali. Kita yang dahulunya lahir dalam wujud dedek bayi dan wajah imut sekali, bertumbuh kembang menjadi remaja dan mendewasa, hingga suatu hari nanti akan kehilangan kebugaran satu demi satu secara perlahan. Menjadi tua dan papa.

Sekarang, mungkin kita belum. Tapi kita akan.

Sekarang, kita hanya perlu lebih sering diingatkan, bahwa kita akan menjadi seperti itu. Kita diingatkan lewat adanya nenek kakek, kakung uti. Bagiku, eyang dan simbah, begitu kumenyapa keduanya. Kedua kakungku sudah terlebih dulu menyapa illah, sedang eyang dan simbah putri masih bersamaku menikmati kesempatan beramal.

Sebagaimana telah tersampai, menjadi tua akan kehilangan sedikit demi sedikit apa yang biasanya tertata. Kekuatan, ingatan, dan sebagainya. Bagi kita yang masih segar bugar, terkadang terasa sebal bila dihadapkan pada pribadi yang sudah berumur lanjut. Gemas, mungkin karena obrolannya membosankan. Kesal, mungkin karena sering minta macam-macam. Muangkel, bisa jadi sebab berulang kali harus mengulang perkataan bilamana yang di hadapan memiliki kekurangan pendengaran. “Ha? Apa, Nduk? Apa? Mbok seru yang ngomong!” Duh, rasanya pengen mengelus-elus dada, berharap gemas kesal bin muangkelnya lantas ndak ada.

Sebuah pesan Babe sebagai putra dari Eyang memberikan kemantapan, “Mbak, Eyang dulu itu yang besarin Bapak, sabar sama nakalnya Bapak. Kamu yang baik ya sama Eyang.”

Ketika ada yang memanas di dalam dadaku sebab pernah suatu kali ada percik-percik beda pendapat dengan Eyang, meskipun tidak se-lebay yang aku jelaskan sampai panas-panas hihi, Ibu pun turut mendinginkan, “Mbak, kalau gitu inget kata Bapak (ehehe, akhirnya juga ternyata Bapak yang ngomong). Kita masih muda, beliau-beliau sudah tua. Mereka sudah sulit berubah, kita yang masih punya tenaga ini yang harusnya menyesuaikan dan ikut saja.”

Sahabat Dilla yang kaya akan pengalaman membersamai orang tua mewanti-wantiku untuk betul-betul hormat dan patuh akan Eyang. Penuhi segala itikad baiknya, sabar, sabar. “Jangan sampai menyesal karena nggak sempat berbuat untuk mereka ya, Mbak,” serunya tulus mengingatkan. Duh, Dilla. Ia bilang hendak melanjutkan menuntut ilmu hingga mampu menjadi perawat. Aku mengangguk dan meyakinkannya insyaAllah itu tepat baginya. Barakallah sayang.

Terima kasih sudah sangat mengingatkan. Betapa masih kurang terjaga perhatian untuk Eyang, masih jarang diriku memberi prioritas baginya. Malah sering absen dari menyapanya.

Ampuni aku Eyang. Juga, ampuni hamba ya Gusti.

Yogyakarta, 19 Dzulhijjah 1439

Sumber gambar :
(1) https://ahimsawardah.com/wp-content/uploads/2018/08/katakatauntukibu2-1.jpg 
(2) https://scontent-atl3-1.cdninstagram.com/vp/8052d41eb644392f14fbd2f8ca8aed88/5BEFD5BD/t51.2885-15/e35/36879775_229883700972297_6162607427796598784_n.jpg

1 comment on “Berbakti, Sebuah Nasehat Bocah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *