Berjarak dengan Instagram (plus Tips Tutup Akun Sementara)

“Ahimsaaaaaa, IGmu kenapaaaaa?”

Ada beberapa sahabat yang menyambut tindakanku dengan demikian. Hueee, emang apa yang sebenarnya barusan kulakukan? Ughhh. Rasanya pengen memeluk dan membisikkan pada mereka, “Aaaaa, ternyata kalian sangat peduli!!!”

Hehe, kubaper sekali. Hehe, maaf ya, namanya manusia kesepian ya ketika dapet perhatian langsung sulit mengontrol perasaan, eadaw. Ndak ding. Cukup tersentuh emang karena ada yang menanyakan.

Jawabannya adalah…. instagramku emang sedang hide untuk sementara. Ya, ditutup sementara sampai waktu yang masih direka-reka. Oh, iye, kepo nggak sih gimana caranya nge-hide atau menutup akun instagram sementara? Hoho, gampang ternyata sahabat (sok-sokan berkat barusan dapet ilmunya).

By the way and the bus way…. Salam! Ugh, sampai saat ini sudah kudapat dua kritik karena setiap menyapa orang lebih sering beruluk “salam”. Katanya, harus betul-betul beruluk salam. Pikirku, betul juga. Jadilah assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh. May the force…… eh, hehe, meleset ke jargon film. I mean, may the peace be with you.

CARA MENONAKTIFKAN AKUN IG SEMENTARA
(How to disable my account temporaly)

1. Buka akun IG sahabat melalui website (www.instagram.com), bukan aplikasinya

2. Terus klik bagian profil yang siluet bentuk orang

3. Klik simbol pengaturan di bagian pojok kiri atas

4. Di bagian account, klik “edit profile”

Sampai di sini, aing baru sadar kalau sebetulnya di bagian depan juga ada tulisan “edit profile” hehew.

5. Pergilah ke bagian bawah dari laman tsb (alias scroll down until the bottom), you will see tulisan “temporaly disable your account” dan kliklah itu

6. Daaan taraaa!!! Akun kamu akan nonaktif sampai kamu akan melakukan log in lagi. Di sini, orang-orang nggak akan bisa menemukan kamu. Hohooo!

Yah, kira-kira begitulah tips dan tricknya. Semoga bermanfaat! 🙂

***

unya kenangan dengan Instagram?

Di waktu luang, buka hape dan scroll instagram. Di waktu canggung ngobrol sama orang, akhirnya kita cuma geser-geser story orang. Di waktu bosan yang mana kita berpikir “there is nothing to do”, mainan instagram adalah “the one and the only think we can do”.

You know, I feel you.

Instagram udah jadi wahana yang akrab untuk kita kayanya ya, mulai dari sahabat-sahabat milenial dan adik-adiknya, bahkan sampai yang sepuh-sepuh satu-dua tergoda mencicipinya. Meskipun di awal hanya terkesan sebagai aplikasi tempat pamer gambar, tetapi ternyata ketertarikan orang dengan aplikasi ini kian lama kian gedhe juga.

Aku inget dulu di bangku SMP angkatan tua, banyak sahabat suka ngomongin orang-orang terkenal tapi aku sendiri nggak kenal (tapi ya, oke, emang selalu saja begitu sampai sekarang wkwk).

Ada perempuan yang katanya pinter banget buat tulisan typography begitu, hias-hiasan, gambar-gambar. Ada orang yang juga jago banget bahasa Inggrisnya, cantik lagi, modis lagi-lagi, kalau diminta memasang baju, celana, dan pernak-perniknya selalu cocok-cocok aja. Ada cowok ganteng anak SMA Jogja yang katanya sih dulu pernah ketemu kita pas try out di sekolahnya dan sebagainya dan sebagainya. Ada orang yang begitu, ada orang yang begini. Duh, pokoknya banyak sekali. Sampai aku nggak tahu lagi.

Semuanya diomongin. Ya, mulailah dari situ, muncul kata “selebgram”. Selebriti di instagram, kali ya panjangannya. Kalau dulu mungkin dengan followers sejumlah 1000-2000, orang udah bisa naik tingkat dan dijuluki selebgram. Tapi, sekarang, yang namanya selebgram cenderung orang-orang yang followersnya cuma puluhan atau ratusan…. dan dibelakangnya diekori satu huruf K…. ya jadilah 10K, 30K, 4000K, 9000K. Hehew, ngelawak.

Hehe, yaudah sih. Itu sekilas cerita soal instagramku sejak zaman bahula. Nah, waktu aku pertama kali punya instagram, rasanya itu emang aku yang paling telat deh. Soalnya bahkan seorang sahabat yang kunilai hapenya lebih senior secara umur daripadaku, ternyata pun sudah punya lebih dulu. Cuma emang sih, dia terus kalau on pasti harus minjem hape temennya. Ekekek, dialah Agistya Maharani, yang banyak kupelajari darinya: cari temen banyak-banyak, nanti manfaatnya enak-enak. Ya, beginilah, salah satunya.

Nah, oke. Balik lagi. Karena aku termasuk yang paling akhir punya instagram. Jadi, ya agak malu gitu. Hoho! Mana orang-orang tanggepannya, “Wah baru buat IG ya!” Agak malu gitu sih buat ngaku kalau baru. Duh, Ya Allah, gengsiku gedhe amat yak dulu. Sampai-sampai akhirnya sok-sokan ngaku, “Enggak kok, udah lama. Tapi biasanya cuma buat nge-stalk orang!” Buahaha, dasar manusia! Tapi beneran, untuk mencegahnya menjadi sebuah kebohongan, aku pun membenarkan pernyataan itu dengan di awal-awal pemakaian instagram stalking orang-orang tanpa nge-follow mereka. Sampai jadilah hitungan waktu yang nggak lama, baru nanti kufollow, atau kadang mereka duluan. Yah seperti itulah kekonyolan yang mengawali kisahku dengan instagram. *berasa kaya ngenalin mantan

Nah, oiya. Sebenernya kemarin diriku sempat keliru mempublikasi sebuah kalimat yang kucongkel dari tulisan Ustadz Salim A. Fillah. Kayanya, akan lebih tepat kugunakan kalimat itu untuk menguatkan apa yang tertuang di kiriman hari ini.

“Ada dua pilihan ketika bertemu cinta. Jatuh cinta, ini sakit. Atau bangun cinta, ini sulit. Padamu aku memilih yang kedua, agar cinta kita menjadi istana, tinggi menggapai surga.”

Dengan instagram, agaknya diriku sudah terlalu dalam jatuh cinta. Panas dingin hidupku kukeluhkan padanya, meski kadang malah tambah panas, hehe, tapi terus menerus bersamanya aku bahagia. *Allohuakbar, ini apa?

Tapi nggak selalu bahagia ding. Karena sering sekali aku berinteraksi dengannya, kadang-kadang jadi banyak terlenanya. Terlalu banyak fokusku dicuri olehnya, padahal hei, dunia tidak sesempit timeline instagram kita. Butuh contoh bagaimana aku terlena? Salah satunya adalah keseringanku ngintip-ngintip snapgram sahabat-sahabat. Sebagian mereka mengirim keseharian yang luar biasa, seperti pertemuan menarik, kegiatan asyik, penghargaan-penghargaan terbaik. Kadang membuatku…… heee, aku ngapain aja di hidupku ini? Kok mereka udah gaspol ke sana, diriku malah diem-diem baek. Kata sahabat Farid, “Yaudah sih, itu mereka, semua orang beda-beda.” Hmmm iya sih, tapi…

Kebetulan belum lama di semester lalu, kelasku sedang gemar membahas topik mengenai sosial media. Salah satu kesimpulan yang menarik adalah, “Bahwa sosial media menjadi wahana untuk menunjukkan momen-momen terbaik dalam hidup seseorang.” Jarang ya kan orang memamerkan depresinya, sedihnya, susahnya. Bahkan aku yang sering berkeluh kesah di mana saja (kayak sekarang), kalau dipikir-pikir juga jarang banget kan update keburukan atau permasalahanku sendiri. Huehue, oiya ya.

“You know my name, not my story” adalah ungkapan lama yang dulu sering kulihat bertengger di twitter orang-orang. Ya, betul. Semua orang punya cerita, tapi yang tahu keseluruhannya ya cuma dia dan penciptanya. Cukuplah kita tidak memikirkan sebaik apa kita di mata orang, karena itu percuma aja. Sooo, I am so sorry Instagram. I hardly ever realize that you’ve made me crazy. Tidak ada benci yang kuingin hadirkan sebagai alasan berhenti (sementara) mengenakan instagram, sama sekali ndak. Malah ingin kubersihkan kalbu yang asyik menikmati persinggungan dengan wahana yang satu itu.

Kata sebagian orang, instagram itu toxic. Ya, untuk kita yang memang menjadikannya demikian. Tapi, jangan lupa, obat pun aslinya juga toxic: hanya saja ketika dipakai sesuai kadar dan fungsinya, manfaatnya baru kerasa.

Salam, netizen!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *