Berkelok Jalan

Kadang diriku berkata-kata, tapi bukan berarti semua yang kuserat itu kucerna dan merasuk ke dalam sukma dan melahirkan amalan yang seirama. Terkadang, aku kelupaan. Huhu.

Please, remind me, “Prinsip dan fleksibilitas tidak boleh saling menyudutkan yang lain. Prinsip dan fleksibilitas harus saling berpilin menjadi sumbu yang akan membakar semangat kita masing-masing.”

Ada cita-cita, ada yang ingin kucapai. Ada idealisme, ada prinsip-prinsip yang kemudian hadir. Terkadang, demi memenangkan apa yang kucitakan membuat daku jadi agak abai dengan persoalan di luar yang menuntut diri untuk turut serta.

Sederhananya, sebagai contoh, besar keinginanku menjadi seorang tokoh yang kondhang. Ini contoh ya, aslinya sih, pengen kondhang-an, eh, hehe (sementara hanya mampu jadi tamu kondhang-an). Ok, misalkan citaku demikian, menjadi seorang yang populer dan terkenal. Demi meraih itu semua, banyak hal aku lakukan sekaligus banyak hal aku korbankan. Berbagai kegiatan unjuk diri aku geluti, tapi sedikit sekali kuberi waktu untuk berinteraksi dengan teman-teman sekitar. Kupersibuk diri mengikuti banyak kursus dan agenda bersolek, serta kutinggalkan beberapa hubungan yang kemungkinan menurutku tidak terlalu membuahkan keberuntungan, khususnya untukku sendiri. Muehehe.

Sebab diriku khawatir, cita-cita yang terjunjung tinggi harus melewati satu dua jalan yang malah menjauhkan dari apa yang diimpikan. Ugh.

Hehe. Tapi…. memang, who knows ya kan, perjalanan jauh itu akan mempertemukan kita pada tujuan yang di luar dugaan. Bisa jadi kelihatan lebih buruk dari apa yang dicitakan. Atau mungkin hanya jalannya saja yang lebih jauh, tapi tujuan akhirnya tetap sama. Atau, bisa jadi juga ya kan, tujuan yang tercapai sebetulnya malah lebih baik dari apa yang sampai saat ini terbayangkan. Bahkan terbaik!

Yep! Cita-cita.

Ah, memang selalu diidam-idamkan. Tapi jangan sampai sebab keinginan diri sendiri, jadi lupa pada apa yang perlu dipedulikan bersama untuk saat ini. Setelah di akhir kata, daku jadi ingat cerita soal sahabatnya sahabat, hehe. Ia seorang yang bagiku bercita tinggi untuk melanjutkan studi kuliah, tapi ternyata rela mengambil jarak jauh beberapa waktu dengan keinginannya itu demi membantu ayah dan ibu. Meski begitu, beberapa kali kutahu, meski hasratnya menuntut ilmu bukan disalurkannya lewat kuliah kelas maupun kampus sepertiku, tapi lebih luas dari itu, ia mendapatkan kuliah langsung dari buku-buku. Hehe. Sampai saat ini belum kutemui lagi kabarnya, hanya saja, semoga apapun yang dianggapnya bijak untuk diimpikan selalu dijawab oleh Yang Maha Bijaksana dengan balasan yang tiada duanya.

Darinya dan yang lainnya, daku belajar untuk berani berkelok jalan. InsyaAllah, cuma memutar, demi menemukan pemaknaan perjalanan yang lebih besar sebelum sampai pada tujuan.

Daaa, masa depan!

Yogyakarta, 6 Dzulqa’dah 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *