Ah, iya, ini hanya perkara cara pandang.

 

Itulah yang aku pikirkan saat mendengar lelaki separuh baya itu bicara semalam. Sebuah pandemi telah melelahkan penglihatan dan pendengaran kita yang tiap hari menonton dan mendengar pemberitaan. Bukan sekali dua kali aku membaca sambatan dan keluhan sahabat di media sosial. Isinya, ya soal merananya hari-hari mereka sebab rencana berbulan-bulan lalu untuk bermain, berkumpul, dan bersenang-senang di luar rumah ambyar seketika. Secara tidak langsung, aku jadi terbiasa untuk ikut-ikut sambat dan merana dengan kondisiku sendiri. Aku sampai berandai-andai bila pandemi ini tidak terjadi, huhu, sebuah perilaku yang percuma kan sebenarnya.

 

Tapi, tadi malam, seorang lelaki paruh baya menyadarkanku akan sesuatu. Sapaan beliau Cak Lis. Belum lama sebetulnya kami berkenalan, tapi sikapnya yang cair dan santuy selalu meninggalkan kesan di tiap pertemuan.

 

“Kalau begini kan, yang biasanya susah dihubungi dan diajak ketemu jadi lebih santai dan lebih bisa kalau diajakin tatap muka,” begitu kira-kira katanya. Wah, iya. Dari kemarin, aku cuma terus-menerus memikirkan orang-orang yang biasanya kuajak bertemu, “Wah, nggak bisa ketemu dia, nggak bisa ngeliat si itu, nggak bisa ngobrol sama si ini.” Tapi, kutabok jidatku ketika sadar, betapa sebenarnya disebabkan harus lockdown #dirumahaja, jadi banyak ruang interaksi yang dimunculkan orang-orang lewat berbagai media. Diskusi, pelatihan, bahkan forum-forum silaturahim kecil yang mengusahakan sebuah pertemuan.

 

Aku ingat beberapa waktu lalu iseng-iseng mendaftar sebuah diskusi milik salah satu universitas di Yogyakarta dan begitu terkejut ketika menemukan seorang sahabat lama zaman SMA yang rupanya juga join grupnya. Lama sekali sih kita tidak bertegur sapa setelah ia melancong ke kota yang terkenal dengan buah apelnya. Sampai akhirnya setelah tutup diskusi, dia menyapaku lewat japri dan kita sedikit hahahihi. Menanggapi semangatnya yang sampai nyasar ke sebuah diskusi lintas kota lintas organisasi, kuserukan, “Josh sekali memang kanda satu ini.” Hihihi, ketahuan kan ya jadinya diskusi apa dari sapaannya.

 

Pun salah satu yang mengagumkan adalah seorang sahabat yang sudah lama tidak kutemui tiba-tiba saja mengirimkan sebuah link grup WhatsApp. Awalnya ini membuatku memicingkan mata, “Haaa, grup apaan nih? Kok tiba-tiba?” Nama grupnya “Ruang Belajar Perempuan” hohoho, sengaja dibuatnya untuk menjadi grup sharing untuk banyak kenalan perempuannya. Sahabat perempuanku yang satu ini kebetulan jaringannya banyak sekali, jadi anggota grupnya dari Indonesia bagian ujung satu ke ujung satunya lagi. Ncen jos sekali. Isinya cerita-cerita perasaan, curhatan, transfer ilmu, tips memasak, dan banyak lagi. Di grup itulah satu dua kali aku coba menikmati sharing dan cerita berbagai teman-teman yang mungkin kalau di kehidupan nyata aku tidak mesti berkesempatan untuk bertemu mereka. Seru sekaliiii!

 

 

 

Selain itu, banyak lagi sih mungkin cerita-cerita pertemuan dan interaksi yang alhamdulillah-nya baru bisa terbangun karena didorong oleh kondisi pandemi ini. Tentu, kita menginginkan ini segera mereda. Tetapi jangan sampai, kita sibuk untuk memikirkan dan berujar hal-hal buruk sampai lupa untuk berdoa dan berusaha, serta tentunya kufur dengan nikmat yang tetap deras mengalir sampai hari ini.

 

Mungkin, sedikit mengubah cara pandang bisa membantu.

Sehat-sehat ya, kamu, meski kita belum bisa bertemu!

 

Hanya sekadar #selfreminder sebenarnya,

Yogyakarta, 23 Sya’ban 1441