Halo readers, aku harap siapa pun kalian, dari SMPN2 atau pun bukan, tetap akan mendengarkan (membaca) ceritaku ini.
     Oya sebelumnya bila kalian memiliki anak kecil, entah punyanya tetangga atau siapapun, yang duduk dibangku sekolah dasar atau orang tuanya, ajak mereka membaca entri ini ya.

     Sebenarnya aku hanya ingin berbagi pengalamanku selama 3 tahun ini di SMPN2 YK atau yang dikenal dengan ESPHERO. Biasanya sih para penganut vandalisme mengenal kami dengan sebutan EZP.
     Rasa syukur yang luar biasa bisa ditakdirkan berada di sekolah hijau mungil ini. Mungkin beberapa orang tidak mengetahui letaknya, atau kalaupun tau mungkin kalian juga akan bingung membedakannya dengan terminal. Lapangan kosong di depan sekolahku memang menjadi tempat pemberhentian bus pariwisata. Mungkin hal itu yang menyebabkan gedung sekolahku itu juga tak (terlalu) kelihatan. Selain itu, saat sore hari dan musim libur, gedung EZP juga digunakan sebagai mushola dan toilet umum, itu menyebabkan kami semua kerap bertatap muka dengan warga asing. Bukan hanya itu, kalian pasti tau kalau di tiap sekolah memiliki lapangan masing-masing, maka jelas kami pun punya. Sebuah lapangan multifungsi (seperti yang disebutkan dalam buku tata tertib: lap badminton, futsal, voli, dll) ukuran kurang lebih 20×5 meter yang terdapat di tengah sekolah. Selain lapangan tersebut, kami juga dipinjqmi lapangan rumput luas (baca: Alun-alun Utara) oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Bukankah itu sebuah kehormatan?
     Bukan hanya bentuk fisiknya yang mengagumkan, tapi semua makhluk hidup di dalamnya. Yah, termasuk burung dan tumbuhannya juga. Di sekolah lain, kalian gak akan menemukan manusia-manusia langka seperti yang ada di sekolah ini…
     Aku bertemu Desi Laraswati di sana. Badannya aku rasa (cukup) gemuk, apa pun bisa keluar dari mulutnya. Seorang temanku menyebutnya cewe repper hahaha. Cewe ini adalah cewe yang paling sering muncul di beranda facebookku, setelah melalui berbagai penelitian, bisa disimpulkan kalau Desi sering mengambil gambarnya dari sisi atas, entahlah. Aku yakin bila kalian tidak mengenalnya cukup dekat kalian tidak akan menemukan sisi menarik dari gadis itu. Yang jelas ‘ga ada dia ga rame’.
     Selain Desi, aku juga bertemu Rizka. Haha cowo yang satu ini sangat misterius. Eh, aku tadi menyebutnya cowo ya, emang cowo. Rizka Angga Nuari. Emm aku biasa memanggilnya ‘kak’ karena…em…aku tidak begitu ingat. Mungkin karena dulu aku pernah membuat silsilah keluarga di kelasku dan kebetulan dia menjadi kakakku hahaha. Selain namanya yang cukup spesial, ada hal lain yang membuatnya istimewa untuk diceritakan: kegagalannya dalam move on. Sebenarnya tidak bisa dibilang gagal juga sih, karena memang dia tidak ada niatan untuk berpaling ke lain hati meski sudah ditinggal jauh. Mungkin kalian menganggapnya menyedihkan, tapi dia tidak pernah sedih, aku rasa hidupnya tetap bahagia. Entahlah.
     Selanjutnya aku menemukan sosok Bongga dan Adnan, yaa walaupun tidak cukup lama. Oke, mungkin kalian bertanya: kenapa aku menyebut mereka bersamaan? Karena kembar? Bukan. Jawabannya adalah karena mereka satu spesies, emm maksudku mereka memiliki banyak kesamaan sifat, kecuali ukuran tubuh, itu jelas. Bongga memiliki tubuh lebih kecil namun (agak) tegap, sedangkan Adnan memiliki tubuh besar. Emm sekilas cerita, dahulu saat awal kami masuk ke EZP Adnan sempat tidak memiliki seragam batik sekolah karena ukurannya tidak ada yang sesuai, berkali-kali ia mencoba-coba baju namun masih harus pesan lagi sampai pada akhirnya seragam itu pun jadi.
     Masih bersama Bongga dan Adnan, dulu mereka pernah melempar daging sapi (pada saat itu sedang merayakan hari berkurban) ke langit sekolah sampai tidak bisa turun, alhasil ya dihukumlah. Dan sebuah kenangan terindah tentang mereka untukku adalah saat sekembalinya kami dari Bali. Waktu itu kebetulan aku satu bus dengan mereka berdua, Bus Panorama. Malam sangat gelap, seharusnya sih bisa dimanfaatkan untuk istirahat, namun dua makhluk yang menjadi penghuni bangku belakang itu malah bernyanyi sambil berjoget. Penumpang lain jadi terjaga dan sibuk mengambil gambar mereka hahaha.
     Emm siapa lagi yaa. Aha, Defa dan Ditya, mereka cowo-cewe lho, dan spesialnya mereka berdua di sini adalah karena mereka sama-sama memiliki……buras! Sebenarnya asal-usul munculnya buras itu dari Defa, entah mengapa bisa sampai ke Ditya, emm mungkin karena dia sering membuat hastag #IndahnyaBerbagiBuras hahaha. Duh, dan parahnya mereka itu sempat tidur berdua! Haha jangan salah paham, hal itu tidak seperti apa yang kalian fikirkan. Sebenarnya mereka sama-sama tiduran di depan kelas waktu itu, ya mungkin karena mereka itu sering lupa jenis kelasmin mereka sendiri, jadi ya gak sadar hahaha.
     Lalu ada sebuah pasangan gila: Dimas dan Sekar. Emm sebenarnya mereka baru saja meresmikan hubungan di tahun ini, tapi menarik untuk dibicarakan. Liat mereka berdua itu adalah hiburan tersendiri, lucu aja gitu diliat. Aku yakin mereka menjalani hubungan serius tapi dengan cara yang tidak serius, mungkin itu efek mereka terlalu weng sampai-sampai sifat weng-nya itu kebawa waktu pacaran hahaha.
     Nah. Ada lagi manusia super nyebai: Lutfi. Sebenarnya aku baru mengenal makhluk yang satu ini di kelas sembilan, meski seharusnya aku sudah sering melihat rupanya. Yang membuat aku jengkel karena setiap saat kami bertatap muka, sapaannya selalu, “Dah kowe di golek i lho…” dan saat perasaanku terbang karena ada yang mencariku, rasa penasaranku pun timbul, “Hah? Sopo?” lalu Lutfi menjawab…”Gusti.” aku berfikir sejenak, sama sekali tak terlintas dalam bayanganku pernah mengenal nama itu. Dan kejamnya Lutfi mengatakan “Gusti Allah….” hatiku tersakiti.[]
     Dan di EZP aku menemukan kembaranku. Selama menyadari bahwa zodiakku gemini, aku merasa bingung, kenapa aku tidak kembar, eh ternyata oh ternyata aku menemukannya di sini. Irba, namanya, atau lebih dikenal dengan sebutan Cino, karena matanya yang sipit. Kalau aku memakai kacamata aku dibilang mirip dengannya. Dan pada suatu hari Irba menceritakan padaku sesuatu yang membuatku geli. Hari itu seorang adek kelas dengan pedenya memanggil Irba ‘Mbak Wardah’ tanpa menyadari bahwa ia salah objek hahaha.

     Bila aku ceritakan semua manusia di angkatanku itu takkan cukup.
     Aku bahagia bisa menemukan mereka semua. Oh ya readers, maaf bila kata-kataku kurang sopan. Oh, hei….kalian jangan takut untuk masuk atau memasukkan anak atau adik atau keponakan kalian ke SMP Negri 2 Yk hahaha anggap saja kejujuranku tadi hanya bahan becandaan. Tapi tadi kalian paham kan kalau aku bahagia di sana, itu artinya memang di sana tempat terbaik.
     Namun ingatlah…..”dimana pun kamu jatuh, di situlah tempat terbaik kamu tumbuh.”
     Aku sudah membuktikan kalimat itu, aku sudah menjadikan EZP sebagai tempat tumbuhku yang terbaik, dan begitulah kenyataannya.

Tinggalkan Balasan