Buku Harian

Ada sebuah puisi berjudul “Buku Harian” yang kutulis kurang lebih tahun lalu dalam lahan berkayaku.

—–

“Di kamar yang senyap ini
Semua jiwa menyembunyikan sedunya
Rona dan semburat merah hati
menyala ceria di luar kamar ini
Tiada yang berhak menyelisik sekat-sekatnya
Di mana para pengemis takdir Tuhan
sempoyongan diuji nasib dan cinta
Tangisan ganas di kamar ini
Adalah kebenaran sejati
Sesungguhnya di sinilah isi hati sekalian insan
Rintihan kata yang malu dan menepi
Secara sederhana tumpah dalam ruang yang abadi

Yogyakarta, 4 Agustus 2016
dengan sebuah catatan kecil :
Kepada siapa harus kuungkap rasa yang membelenggu? Semoga daku selalu ingat Tuhanku.”

—–

Hehe. Buku harian. Belakangan muncul hasrat untuk kembali mengulang bacaan “Catatan Seorang Demonstran” yang menyuguhkan kata-kata curahan Soe Hok Gie. Entah, rindu saja. Mungkin karena merasa saat ini begitu tepat waktu aku membacanya. Aku butuh impuls baru sebagai mahasiswa.

Beberapa momen aku selalu menyampaikan kepada sahabat lain yang sering mengeluh, “Hims, kok aku sulit nulis ya? Kok tulisanku nggak bagus ya?” dan sebagainya. Sosok Soe Hok Gie menjadi salah satu yang aku contohkan. Membaca catatan harian beliau sedari usia 15 tahunan hingga akhir hayatnya bisa membuat kita menemukan adanya perubahan yang pasti dalam diri Gie. Jujur saja, membaca tulisannya awal-awal sedikit membingungkan. Kacau balau dan kemana-mana. Bahkan kadang aku tidak mendapatkan topiknya. Tapi semakin maju, semakin maju, tulisannya tidak lagi membikin ragu. Dia semakin tahu, akan dibawa ke mana kali ini ceritaku. Semakin jelas, semakin khas. Ini dia Gie, ini dia Soe Hok Gie, seperti yang dikenal orang pada akhirnya.

Tapi, dalam mencapai Soe Hok Gie sekarang (sebagaimana dikenal orang), waktunya tidak pendek. Prosesnya lama. Bertahun-tahun. Tulisannya sempat aneh, sempat nggak jelas dan membingungkan. Tapi begitulah akhirnya ditemukan sosok Soe Hok Gie.

Menjadi penting (menurutku) kita tahu bahwa :
1. Semua cita-cita besar butuh proses yang tidak sebentar
2. Buku harian bisa menggambarkan sebuah perubahan

Maka, ada hal baik yang kuutarakan sebagai ajakan :
1. Ayo, mulai dari sekarang
2. Ayo, menulis buku harian

Untukku pribadi, sempat beberapa kali mencipta buku berwujud nyata sebagai wadah aku bercurah. Sempat buku note bercover lucu, sempat di kertas binder, dan sebagainya. Sebagian masih kusimpan meskipun tidak yakin di mana. Sebagian lain sudah kubuang lantaran malu akan kebodohan masa lalu. Hehe. Sedikit menyesal, sebab aku jadi lupa-lupa ingat akan diriku yang dulu, sehingga putus-putus nyambung melihat perkembangan pada diriku.

Belajar dari Soe Hok Gie dengan “Catatan Seorang Demonstran”-nya, Ahmad Wahib dengan “Pergolakan Pemikiran Islam”-nya, Anne Frank dengan “The Diary of a Young Girl”-nya, Indi Sugar dengan “Waktu Aku Sama Mika”-nya, juga beberapa sahabat yang sudah kerap mengisahkan pengalamannya dalam keseharian… rasanya aku juga ingin. Bagaimana kemudian itu membentuk pribadi mereka. Bagaimana kemudian itu menjadi representasi dari tiap pemiliknya.

Oke, mungkin tiada perlu kita bermimpi-mimpi bahwa buku harian yang kita tulis bisa seterkenal itu hingga mampu menginspirasi banyak orang. Melainkan baik sekali kita kembalikan kepada niat awal : sebagai langkah untuk berproses dan memahami diri kita sebenarnya.

Buku harian.

Buku harian.

Buku harian.

Semoga kamu bersedia membersamaiku, lewat blog ini (meskipun tetap saja tiada perlu semua hal kutumpahkan, sebagian yang tidak tepat diumbar hanya akan menjadi posting-an tersimpan). Hehe. Semoga Allah meridhoi setiap jalan kami.

Yogyakarta, 7 Shafar 1439

Foto-foto di bawah adalah buah gelisah dan rasa membuncah yang akhirnya tumpah lewat sebuah media baru bernama snapgram. Hehe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *