[BUKU] Hatta, Om Berkacamata

Mohammad Hatta, atau Bung Hatta, atau Kak Hatta sebagaimana sang istri memanggil. Sepanjang pertemuan dengan beliau lewat satu-dua pembacaan sejarah di bangku sekolah, kata kunci yang akan keluar segera tentunya ialah bahwa beliau merupakan wakil presiden Indonesia yang pertama. Sesekali disebut tokoh proklamator yang bersanding dengan Ir. Soekarno, beliau juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, seorang pecinta sekaligus penyayang buku, dan banyak hal lainnya.
Lewat novel biografi karangan Sergius, muncul panggilan tambahan untuk beliau yang aku temukan. Hehe, Om Berkacamata, begitulah kira-kira anak-anak Sutan Sjahrir (sahabat beliau) menyapanya. Lucu sekali! Oh, sebelum jauh-jauh, mari berkenalan dulu dengan buku apakah itu.

Judul : Hatta: Aku Datang Karena Sejarah
Penulis : Sergius Sutanto
Penerbit : Qanita
Halaman : 364 halaman
ISBN : 978-602-402-096-5
Jujur diriku belum pernah mendengar nama sang penulis. Awalnya ragu-ragu, baca ndak ya, kalau penulisnya ndak terkenal (aku ndak tahu), apakah isi bukunya bermutu? Astaghfirulloh. Maka yang awalnya muncul niat mengintip-intip bagian informasi penulis, segera keinginan itu kuhadang dan kusuguhkan pedang, kuminta mundur teratur hingga dia akhirnya kabur. Sebagaimana kata orang bijak, “Dengarkan apa pesan yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan.” Harusnya aku belajar lebih baik untuk nasehat yang satu itu.
Jadi, mantaplah, kulahap alurnya. Bung Hatta, bagaimanakah sepak terjang beliau semenjak memperjuangkan kemerdekaan? Pun yang tidak terlewat untuk diceritakan adalah dorongan apa yang membuat beliau memutuskan mundur dari kursi pemerintahan?
Seorang lelaki berdarah Bukittinggi, Sumatra dengan keluguan sekaligus keteguhan prinsip yang sangat patut diteladani. Sikapnya yang kedua ini, mungkin juga, sebagai dorongan utamanya memilih mantap untuk melepaskan ikatan kepemimpinan dan memilih apa yang ia yakini sebagai kebenaran dalam hatinya. Ketidakcocokannya dengan rezim yang ada mendorongnya berbulat tekad. Ketika Demokrasi Terpimpin mulai diusung dan kejayaannya makin menggunung, ia sudah bulat tekad untuk memilih jalan yang lain. Apa yang menurutnya tidak sesuai prinsipnya, bilamana sudah tidak ada daya merubah, maka untuk apa bertahan lama-lama?
Diriku yang terlanjur terkesan pada kemampuan berbicara di depan, mengompor-ngompori banyak orang, menggerakkan massa dengan suara, seketika diingatkan (sekaligus disemangati).
Ada suatu kebenaran yang sering dilupakan, kemerdekaan Indonesia tidak dapat dicapai oleh para pemimpinnya saja, melainkan oleh usaha dan keyakinan rakyat banyak. (p. 163)
 Yang arahnya, dibawa menuju bagian ini:
Agitasi, menurut Sjahrir, memang ampuh untuk membangkitkan kegembiraan orang banyak, tapi tidak membentuk pikiran orang.
Kau benar, Teman, kata Hatta dalam hati. Firasatku tak salah menggandengmu dalam partai ini. Agitasi memang bagus sebagai pembuka jalan, tapi pendidikan yang membimbing rakyat ke organisasi! (p. 166)
 Kemudian dilanjut dalam halaman lain.
Pergerakan tidak hanya dipompa lewat agitasi dan pidato-pidato, tapi juga lewat karangan-karangan yang akan memberikan kepinaran para rakyat banyak. (p. 168)
Pribadi yang serius, walaupun satu dua kali bisalah diajak mencipta humor. Pribadi yang dibilang sebagai pendengar yang baik. Lewat buku-buku sekolah, perjalanannya bersama Soekarno dan Sjahrir dulu kubaca sebagai pertentangan para pemimpin. Petinggi-petinggi negara yang sedang gelisah memikirkan nasib Indonesia. Tetapi, Om Sergius berhasil membuatku memaknai bahwa kejadian beberapa tahun silam, seperti ketika peristiwa Rengasdengklok, kemunduran Hatta dari jabatannya, peristiwa berpulangnya Soekarno semua itu tidak hanya diisi oleh peran-peran pemimpin yang sedang bersama-sama menjalankan tugas untuk memikirkan negara. Mereka kesemuanya, terkhusus beliau bertiga yang namanya kuseratkan, pun datang karena sejarah… persahabatan. Keakraban. Mereka memiliki kenangan kebersamaan.
Sebagaimana saat Soekarno melamarkan Rachmi untuk Hatta. Sebagaimana saat Hatta dan Sjahrir maupun Soekarno dan Sjahrir ditempatkan pada lokasi pembuangan yang sama oleh Pemerintah Hindia Belanda. Mereka saat itu menjalin persahabatan. Pun ketika peristiwa Rengasdengklok, keengganan Hatta melanjutkan kepemimpinan, berpulangnya Sjahrir dan Soekarno, kesemuanya termasuk bagian dari cerita persahabatan.
Lika-likunya banyak. Sayangnya, di buku sejarah tidak tertuang banyak. Buku Hatta: Aku Datang Karena Sejarah cukup membantuku menuai lebih banyak. Sebab disusun seperti novel, maka lebih santai. Banyaknya peribahasa baik Indonesia, Minang, maupun asing cukup memberi warna pada pribadi yang sangat butuh dorongan dan motivasi, hehe, contohnya aku sendiri.
Hanya perlu disayangkan, bagiku, mungkin sebab cerita yang diangkat ialah berdasarkan sejarah, maka kesan mengalirnya tidak terlalu terasa. Beberapa momen terpotong-potong dan terkotak-kotak sehingga alurnya terlalu tegas tanpa sebab-akibat yang jelas. Namun, meski begitu, daku yakin penulis telah memberikan yang terbaik hingga novel ini telah mencapai edisi kedua dan dicetak lagi pada Januari 2018 setelah pertama kali dicetak pada 2013.
Asyik, coba deh baca sendiri.

Yogyakarta, 18 Sya’ban 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *