[BUKU] Tuhan Maha Romantis

Tuhan Maha Romantis. Sungguh judul yang magis, kovernya pun dirangkai sedemikian manis. Maka tatkala menemukannya dalam suatu lini masa di akun Instagram sang penulis, ada godaan ingin mencicipinya. Beruntunglah seorang adik kelas berbaik hati meminjamkan apa yang ia punya, Sahabat Septian Galuh.

Judul : Tuhan Maha Romantis
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penerbit : Azharologia
Cetakan : IV, September 2015
Hal : 208 halaman

Kekuatan yang membuatku tertarik oleh buah karya Mas Azhar ini sebetulnya ndak cuma karena judul atau wajah bukunya sih, walaupun itu juga begitu menarik. Hehe. Pun, itu karena penasaran juga dengan pribadi yang sering diobrolkan banyak orang ini, Mas Azhar. Bagaimana sih beliau memainkan perasaan para pembacanya? Dan, yang paling kuyakini adalah bahwa daku akan mendapat hiburan sekaligus impuls iman dengan menyimak beberapa patah katanya.

Oke, apa yang diceritakannya di sini? Inilah novel romance mengenai seorang berondong; seorang lelaki muda bernama Rijal yang jatuh cinta dengan kakak tingkatnya di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia. Nama gadis itu Annisa Larasaty, atau Laras lebih tepatnya. Ceritanya, sederhana sebetulnya sederhana, tapi pembawaannya bisa jadi membuat kita terkesan. Bagaimana seorang Rijal tidak terkesan pada pribadi Laras? Secara dia cantik, aktif, cerdas, dan…

Rijal, kadang kita perlu menjadi tuli. Kadang kita perlu mengabaikan kalimat-kalimat negatif yang menghampiri kita, bahkan ketika teriakan itu diucapkan oleh diri kita sendiri. Sebagian suara barangkali ada untuk kita dengar, sisanya ada untuk kita abaikan. Hidup kita nggak lama, Jal. Kita nggak perlu habiskan waktu dan energi untuk lakukan hal-hal yang justru menghambat kita melakukan kesibukan. (p. 87)

Begitulah dukungan yang disampaikan Laras ketika lelaki itu sedang dalam fase pesimisnya. Aduh, di situ, seorang Rijal betul-betul dibuat terpana. Tapi, perlu diingat, Rijal adalah pribadi yang selalu berusaha menentukan betul-betul langkah mana yang harus diambil untuk menunjukkan ke mana kakinya harus menapak, ia orang yang bijak. Maka tatkala perasaan cinta yang membumbung itu telah sedemikian memuncak, ia mulai meraba-raba, ia mencari apa-apa yang mampu mengendalikan perasaannya. Ia memastikan apakah cintanya tertata rapi di dalam hati atau malah kalang kabut tidak tahu diri.

Dengan penuh upaya dikerjakannya usaha terbaik untuk mengatasi cinta yang terlanjur menyergapnya. Sampai akhirnya cobaan datang lebih parah ketika jarak menjadi masalah yang dihadapi keduanya. Sudah kuduga, akhirnya akan menyinggung-nyinggung soal perpisahan dan kerinduan, sebagaimana judul kecil yang sudah disajikan oleh Mas Azhar di sampul depan, “Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia.”

Kemudian, untuk membangkitkan diri beserta imannya yang naik-turun disiksa perpisahan, Rijal mendorong diri dengan sebuah upaya, “Seperti biasa, aku tak pernah benar-benar bisa menahan perasaan yang begitu kuat pengaruhnya. Termasuk rindu yang begiu mendera ini. Dan menulis, sudah sekian tahun aku membuktikannya, sedikit banyak manjur untuk meredakan hampa itu. (p. 175)” Ah, Rijal, terima kasih, kau menyulut semangat yang mulai meredup.

Ketidakjelasan akan apa yang terjadi pada masing-masing pribadi, Rijal maupun Laras, membuat ragu sudut pandang pembaca: apakah masih harus mempertahankan perasaan pada orang yang tiada kepastian? Perpisahan itu telah bertahun-tahun berlalu hingga Rijal sampai pada keadaan harus segera meresmikan hubungan dengan seorang perempuan. Tapi, tapi. Perasaannya dengan Laras sudahkah betul-betul hilang? Haruskah ia menjalin hubungan serius dengan perasaan setengah-setengah? Bagaimana?

Suntuk saya dibuatnya.

Pada akhirnya, ikhtiar yang dibalut keikhlasan untuk menunggu petunjuk dan jawaban adalah apa yang diusahakan oleh Rijal. Dan itu membantunya menentukan pijakan apa yang harus dipilihnya. Diriku merasa diingatkan sekali di sini, thank you.

Selanjutnya, tidak hanya sekadar perihal romantisme laki-laki dan perempuan. Momen-momen membaperkan lain pun dikisahkan. Di antaranya ialah keberhasilan penulis mencipta suasana hangat dan melekat lewat nasehat-nasehat yang disampaikan oleh ayah kepada anaknya. Bapak-nya Rijal. Peran seorang Bapak di sini betul-betul ditunjukkan lewat hasil tumbuh kembangnya kepribadian Rijal sebagai tokoh utama.

Hidup bukanlah tentang mampu atau tidak mampu, melainkan mau atau tidak mau. Kalimat itu kemudian resmi menjadi motto hidupku.

 Sekali lagi, bapak adalah guru yang tak pernah menggurui. Pelajaran-pelajarannya adalah cerita, bukan angka-angka atau rumus. Tak pernah ada titah, yang ada hanya ajakan-ajakan. Dan entah bagaimana entah bagaimana caranya aku selalu berhasil dibujuk. (p. 27)

Hehe, alhamdulillah begitulah. Tuhan Maha Romantis. Tetap paling enak, dinikmati sendiri dan bukan sekadar menyimak.

Yogyakarta, 22 Sya’ban 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *