Malu.
Ingat akan tempo dulu.
Ada rencana demo yang digelar Rifat dan beberapa sekutu.
Protes pada bapak ibu guru.
Kenapa yang boleh dengar orasi calon Kosis hanya orang tertentu?
Sedangkan semua telinga dan mulut punya hak itu.
Sayang, beribu sayang yang pilu.
Kok ndak tergerak batinku.
Mau.
Berani dan maju.
Di ruang guru.
Dengan almamater merah berseru-seru.
Yah, mungkin demonya batal sih waktu itu.
Sebab sebelum berlalu,
ternyata sekolah sudah menerima lebih dulu.
Tapi kok ya dalam proses gemas-gemasnya aku tidak di situ?
Malu!
Makin ke sini makin tahu.
Betapa payah seorang Ahimsa yang banyak ragu!
Kelamaan mikir mulu.
Kesenengan di antara hal syahdu.
Apatis dan banyak nulis kecu.
Akhirnya banyak hal buruk di hadapanku.
Tinggal lalu.
Dan aku,
cuma termangu.

Salam dari mahasiswa kecut dan bau,
gerah tapi malas mandi, cukup bergincu,
6 Shafar 1439

By the way sepatu ini hadiah tidak terduga dari dua sahabat yang semoga selalu bahagia, Amanda Maishella dan Febiola Aurora. Barakallahulakum sayang-sayangku.

Tinggalkan Balasan