Hehe, bismillah. Kepalaku nat nut aslinya sekarang, tapi sedemikian besar kerinduan untuk menyapa yang tidak bisa kuelakkan. Salam persahabatan!

Kalau ditanya mengapa alasannya, ah, jadi tidak menarik. Kok rasanya aku jadi terkesan lemah hanya sebab satu dua hal yang sebetulnya juga nggak belibet amat. Sepertinya bukan begitu maksud dari dianugerahkannya kepala nat nut ini. Mungkin biar aku tidak terlalu memaksa untuk mengerjakan banyak hal sekaligus, kata Cak Nun, ada yang kudu digas, ada yang kudu direm. Muehehe (by the way, kurindu tawa ini, hahaha).

BUKU
Lapor, sekarang masih dengan tulisannya Pak Abdul Munir, jawaban-jawaban Pak AR mengenai beberapa persoalan Islam. Nah, sumpah ya, ada cerita yang rada nggesrek-nggesrek ati juga sih. Jadi ceritanya waktu itu, aku dan Balqis lagi cari kain untuk seragam NA nih di Suara Muhammadiyah. Nah, kupikir-pikir, ah, mumpung ke sini enak juga cari buku yang siapa tahu bisa nambah isi kepala yang allohu akbar sepinya ndak ketulungan. Cari ah soal fiqih Muhammadiyah, yang gitu-gitu. Awalnya mata tertarik pada buku himpunan tarjih, tapi kupikir, kalau ini harusnya Babe punya. Nah, cari ah buku lain yang kemungkinan Babe nggak ada.

Setelah beberapa lama, kupikir buku Pak Abdul Munir ndak dipunyai Babe. Kudapatkan itu dengan biaya Rp 60.000. Uwww. Beberapa hari kusimpan dulu selagi menikmati bacaan sebelumnya.

Ibu sempat melihat, tapi biasa aja, karena mungkin nggak terlalu memperhatikan. Sampai beberapa hari kemudian saat di rumah GACA, beliau terkejut. “Loh, Pak Abdul Munir ya!”

“Iya, kenapa, Bu?” kupikir siapa, sekeren apa begitu.

Ternyata, apa kata beliau? “Itu, Bapak juga nyetak bukunya.”

“Heeeee?”

Jadi ternyata, yang awalnya aku ingin menghindari beli buku yang “kayanya Babe punya” yaitu Himpunan Tarjih Muhammadiyah, eh, ternyata aku malah beli buku yang “dicetak sama penerbitnya Babe”. Hmmm oke, I see. Yah, ternyata selain penerbit Suara Muhammadiyah (SM), Media Insani juga menerbitkannya, hmmm. Apalah dayaku. Salahku pula nggak pernah (eh, belum) hapal buku-buku punya Babe-nya sendiri. Oh my Allah. Ya sudahlah.

Hehe. Kemudian menyoal…. Deadline bacaan semakin mundur-mundur, aduh, payah tenan. Mana list dan tumpukan buku yang menunggu semakin menggunung. Oh my Allah, rasanya pikiran mati muda kok terasa percuma ya lama-lama. Udah tahu makin waktu makin sempit, tapi lari tiada terbirit-birit. Haduh, haduh. Astaghfirulloh.

Oke, bismillah. Hims, selak sampai pada penyesalan.

KAMPUS
Jam 10.00 WIB janjian bersama Ijah. Tapi apalah daya, masih kalah aku sama Mas Fachri yang “rela mati demi memenuhi janji, walaupun cuma janji sama diri sendiri” masa aku telat sampai 45 menit. Dan if you know aku baru mandi sekitar 15 menit sebelum waktu yang ditentukan untuk bertemu. Allohu. Ampuni aku, rasanya malu pada-Mu. Mohon-mohon biar begini begitu, tapi upaya ya masih kurang memburu.

Hari ini pukul 13.00 WIB ada rapat ED 2018 pertama. Agak krik-krik juga di aku, maksudku ke kating. Kenapa ya? Belum luwes aja kalau mencipta obrolan dengan mereka. Padahal yo jane biasa wae. But, I dont know why, mungkin karena aku merasa minder, mungkin karena merasa, “Duh kemarin temen-temen udah lebih dulu ikut kepanitiaan dan mereka jelas lebih deket dengan kating. Sedang aku?” Tak tung tuang. Berat sih, tapi emang kudu berat biar ketemu nikmat. Ekya.

Bismillah, gaskan. Relasi, bukan untuk eksistensi. Siapa tahu bebarengan malah lebih gereget membangun kebermanfaatan.

Sebetulnya lebih kepada aku belum banyak paham kultur Sasing dan tetek bengek dunia perfilman-musik barat-dan sebagainya. Yuhu, mau nggak mau biar obrolannya makin yahut, kudu nih jadi modal, hehehe. Oh my Allah bantu aku. Prinsip dipegang, fleksibilitas pun jalan.

PENDAMPINGAN ALUMNI SALC
Okey, jadi hari Selasa lalu sebetulnya teman-teman ASALC kumpul. Cuma aku telat. Dan, aku akui emang keterlaluan banget aku telatnya. Masa mereka on the way pulang, aku baru datang. Itu sebab sebelumnya kuhabiskan terlalu banyak waktu di rumah Atim bersama Ririn (alhamdulillah, hari itu cukup sudah aku dibuat baper oleh-Mu, semoga barokah). Maafkan aku adikku. Selanjutnya aku berjanji untuk hadir di rapat selanjutnya, hari Jumat ini.

Di Masjid Gedhe ba’da Ashar. Sebab aku sedang halangan, aku langsung cus dari kampus, ke kantor PD IPM mengambil cap, lalu langsung bergerak ke Masjid Gedhe. Masih kosongan. Akhirnya beberapa waktu dihabiskan dengan ngobrol bersama penjaga parkiran. Kupikir-pikir ini sudah kesekian kalinya kami bertemu. Tapi, malam ini kusadari, kok aku ndak tanya nama beliau? Hmmm, kebiasaan.

Itu sampai pukul setengah 5 dan belum ada batang hidung anak-anak ASALC. Aku sempat memutuskan akan pulang. Tapi tertahan, mau beberapa saat menikmati pembaperan. Seluruh rangkaian perjalananku di IPM…. bukannya banyak ya di serambi masjid ini? Allohu.

Emang rada alay sih. Aku pandangi lantai-lantainya, aku pandangi sudut-sudut mana yang biasa aku dan teman-teman tempati. Kuingat-ingat siapa yang waktu itu duduk di sana, di sini. Kuingat-ingat kebodohan atau lelucon apa yang mewarnai semua itu. Dari RKTL Sekolah Advokasi, RKTL PKTM II, rapat Lulus Seru, aduh, baper sekali. Lalu baru saja kuingat malam ini, untuk pertama kali kudapatkan sebuah surat permohonan menjadi pemateri (walaupun jane itu bukan yang betul-betul spesial, sebab saat itu emang ndak ada yang bisa ngisi selain aku yang selo sekali hahaha) di Mualimin waktu itu. Oh my Allah! Why, why gitu loh terlalu banyak cerita di sini? Muehehe:”)

Yah, sudah, di tengah rasa baper begitu, kualihkan pandang pada gerbang depan. Dan hei, ada beberapa sahabat Mualimat di situ. Baru saja datang.

“Jadi kan?”

“Jadi, Mbak, harusnya.”

Ah, pembaperan itu menguntungkan. Aku jadi ndak keburu pulang dan tahu mereka datang. Alhamdulillah. Tidak terlalu produktif memang waktu itu menyoal RKTL mereka. Tapi setidaknya obrolan lain menciptakan pemahaman kondisi di teman-teman secara pribadi. Semoga perjalanan ini, apa yang dilakukan oleh kami, masing-masing mendapat kesempatan untuk melatih kedewasaan. Bertemu dengan orang baru, menggarap sesuatu yang seru, semoga memberi kebaikan lahir batin.

Sayang deh dengan kalian! Yakduh.

SARIANTO
Agak diingatkan oleh suatu momen, tapi aku menahan itu. Sekadar senyum atas impulsnya.

Sebetulnya hari itu ada beberapa anak yang dikenalkan Allah padaku. Sembari menunggu teman-teman ASALC, aku bertemu dengan Arda dan Vino, anak Kauman. Mereka ini, bandel, Arda khususnya. Tapi yah percayalah, mereka anak yang sholeh, InsyaAllah, aamiin. Mereka berdua main sepedaan bolak-balik, agak ngeri juga kecepatannya. Dasar bocah.

Lalu beberapa saat setelah teman-teman Mualimat datang, ada satu lagi. Sebenernya kalau nggak ada satu putri Mualimat yang mengenalkan, mungkin aku nggak akan kenalan sama anak ini. Agak dekil, baju dan wajahnya. Setidaknya yang aku tangkap, kondisinya nggak sebaik dua anak sebelumnya. “Sarianto!” dipanggilnya.

“Sarianto! Sini!” aku ikutan. Hahaha. Kata seorang anak Mualimat, “Dia baik banget, Mbak. Kalau waktu main kasti, dia yang ngambilin bolanya kita!” Aku tersenyum. Nice!

Anak ini menyenangkan. Sama sekali tak kutemui logat jawa yang kasar padanya, jauh lebih banyak memakai bahasa Indonesia yang rapi sekali. Satu lagi pembaperan, dia bilang “saya” sedari awal. “Saya sama temen-temen tadi,” katanya menjawab tanyaku. Dia lugu. Kutawarkan jajanan yang baru saja kubeli, kata dia, “Tadi udah makan.” Lalu kami ngobrol saja. Habisnya rapat belum mulai juga.

Sampai dia bilang, “Aku haus.” Hahaha, dasar bocil, kode tenan.

Hehe, ya sudah, pas juga, aku habis makan dan ndak ada minuman. Lalu kata dia, “Aku tahu minuman yang harganya seribuan!” dan dia bilang akan mengantarkanku kalau mau. Kutanya dimana, takut-takut ia becanda atau asal saja. Kuperkirakan lokasinya, sedikit-sedikit tahulah ya peta Kauman, uww. “Oh, tempat jualan jus!” tapi ia tidak mengiyakan. Cuma menurutku, kayanya sebagaimana yang dia maksud, aku tahu itu.

Lalu jadilah kami pergi.

Oh iya, lupa kusampaikan di sini juga kebetulan sedang ada RKTL PDPM. Dari PD IPM yang mendampingi adalah Pak Robbi dan Irsyad (tapi waktu itu Irsyad belum datang). Saat melalui mereka, kutanya iseng pada Sarianto, “Sar, kamu kenal yang itu?” hingga didengar oleh semua anak IPM. Mereka melirik kami berdua. Sarianto tertawa. “Enggak!” katanya sambil mengalihkan pandangan. Aku ikut-ikutan, “Iya, siapa sih nggak kenal!”

Lalu cus kami menuju lokasi yang ia inginkan.

Tapi sebelum ke sana, sempat aku bertemu ibunya Sarianto yang mungkin khawatir awalnya, “Loh, anakku mau dibawa kemana?” hehehe. Kemudian Sarianto memohon izin, dan aku memohon maaf nggak izin-izin. Tapi oleh beliau diijinkan. Cus, kami lanjutkan perjalanan.

Di tengah jalan, kami bertemu Arda. Eh, anak itu iseng-iseng meledek Sarianto soal kulitnya yang gelap. Duh, dasar bocah. Dibalas oleh Sarianto. Aku cuma bisa bilang, “Heh, heh, uwis!” Arda melanjutkan, tapi Sarianto diam. Kata dia, “Udah nggak papa, Mbak. Biar dia yang dosa.” Nah loh. Kok pinter? Anak sholeh, anak sholeh.

Dengan Arda, aku tertawa saja. Kubiarkan, sambil didoakan.

Aku mencoba tidak iba pada Sarianto, sebab menurutku dia tidak pantas mendapatkannya. Pujian dan rasa terkesan, itu sepertinya lebih tepat. Hehe. Hai Sarianto, barakallahu!

Selanjutnya benarlah kami sampai ke tempat jus. Pop ice-nya segar. Sarianto lucu sekali mengekspresikan kesegarannya. “Wah, segar!” Hahaha. Beberapa kali iseng-iseng mempermainkanku. Kubilang, “Eh, sambil duduk.” terus dicuri-curinya kesempatan memperlihatkan padaku nyeruput-nyeruput minumannya. Ealah. Aku tertawa.

Sampai saat pulang, “Besok sini lagi ya Mbak!” Mudah sekali aku bilang, “Iyaaa!” eh? Oke, besok means… pada kesempatan yang Allah ridhoi. Betul ya?

KRITIK MENCEKIK
Aku pikir memang seorang Ahimsa harus biasa, harus rajin, harus sering-sering dikritik. Sumpah! Karena kalau nggak biasa, ya nggak bakal terbiasa. Akan terkejut-kejut dan sulit untuk menyesuaikan. Kritik pedas, kritik keras, come to me dan ajarkan aku banyak hal!

Jadi hari ini selepas Maghrib aku pulang, melewati pertigaan dekat masjid rumah, aku sempat mengagetkan motor di belakangku yang nggak tahu kalau aku akan menyeberang. Dalam kepalaku, tidak terpikir kalau itu parah sekali. Ya harusnya kepikiran, cuma kok nggak muncul kepekaan? Ealah, Hims!

Lalu di tengah jalan sebelum pulang, aku dicegat Mas Eddy (iya bukan ya namanya?), kakaknya Yudha-Yudhi (yang yah I understand kalau mereka berdua sudah menyerukan ketidaksenangan rasanya kadang menyesakkan, atau aku saja yang kurang membiasakan?). Dengan nada yang sebetulnya tidak nyaman memasuki telingaku, aku diingatkan. Mmmm, diajarkan. Ya, mengenai bagaimana sebaiknya dan seharusnya aku tadi menyeberang. Agak kaget juga sih.

Dalam kondisi begitu, secepat kilat kutata hati biar siap. “Oh, oke mas, siap! Terima kasih!” dengan sikap biasa sembari memberi gaya hormat dan senyum nikmat. Sebetulnya khawatir juga aku kalau di pihaknya malah terkesan aku mempermainkan. Tapi kuyakinkan hati, ini adalah gayaku yang menunjukkan aku serius menerima kritiknya. Jadi, ndak masalah lagi bagaimana respon Mas Eddy. Penting, di aku sudah menerima dan menangginya, lalu tapi harus bagaimana.

Alhamdulillah. Barakallah.

Dan, terima kasih ya Allah. Kau baik sekali!

CHAT DENGAN FANINDYA
Malam ini Fanin mengirim chat, menanyakan kabar teman-teman ASALC. Sebab dia merasa punya tanggungjawab untuk teman-teman LC khususnya. MasyaAllah, gadis ini, betapa semangatnya begitu kuat. Kadang heran juga. Emang perempuan, seneng banget kalau berkorban (loh, maksud?).

Dia merasa nggak enakan, ya, mewakili teman-teman PIP juga sebetulnya. Sebab ndak banyak mendampingi kegiatan ASALC. Menurutku, aku dan teman-teman Advo pun begitu. Kalau bukan karena obrolan malam itu dengan Bunda Anggit, Pak Tea, dan Pak Alwan, aku mungkin hari ini ragu-ragu juga memilih ke Shopping dulu atau bertemu dengan ASALC.

Pendampingan ASALC dari awal betul-betul kusampaikan terima kasih kepada sahabat Dias, dia yang lebih banyak dekat dengan mereka semua sebetulnya. Sebab di awal memang aku tidak terlalu mengambil peran, kenapa ya? Terlena sesuatu sepertinya. Hingga ya sudah, obrolan dengan tiga pribadi itu menyadarkanku pentingnya para alumni pelatihan.

Aku pun membagi hal itu dengan Fanin.

Setelah Bunda Anggit banyak berbagi ilmunya bertemu dengan manusia-manusia Jatim, ia merasa berkaca pada ruang geraknya selama ini; IPM Jogja. Ngapain aja ya selama ini? Kebetulan karena Bunda Anggit dan Pak Alwan berasal dari Bidang Perkaderan, maka pembahasannya menjadi mantap jiwa kalau soal beginian.

Kupikir-pikir kegundahan Bunda Anggit sama seperti postinganku di blog beberapa waktu lalu (saat aku bingung, kehilangan arah ngapain di IPM Jogja, kok isinya gonta-ganti jadi panitia acara doang?). Betul kurasakan itu. Kemarin jadi panitia acara ini, besoknya ini, itu, cuma ganti acara doang. Terus intinya? Terus kita ngapa? Terus endingnya? Terus buat apa?

Beberapa agenda seperti SALC, PDPM, PKTM, menghadirkan kader-kader idaman segala bangsa dengan potensi-potensinya. Luar biasa. Salah satu dulu yang membuatku kagum dengan IPM adalah diadakannya RKTL. Wow menurutku. Iya ya, kalau ada pelatihan tapi nggak ada follow up nya ya sama aja. Percuma. Para alumni dituntut memenuhi kewajiban RKTL.

Bagus sih.

Cuma, habis hasil RKTL itu mewujud kegiatan. Lalu apa?

Aku berkaca pada sahabat-sahabat yang dulu selalu bersamaku saat SA 2016, saat PKTM II 2016… kemana? Aku ingat dulu sampai penuh bertumpuk-tumpuk chat dan note mengisi grup kami dengan banyak keseriusan dan becandaan. Itu sebab, RKTL. Dibahas berlarut-larut. Ini gimana itu gimana. Hingga saat kegiatannya berlangsung dan terwujud. Semua mata berbinar, seluruh telapak memberi tepuk tangan. “Wah! Kalian hebat, RKTL-nya jalan! Nice, kece sekali! Oh my God! Wow!”

Tapi setelah itu… basi.

Semuanya pergi. Silaturahim. Obrolan. Teman. Kebersamaan.

Hanya hubungan satu dua pribadi yang mungkin masih bisa saling mengisi. Tapi grup saja sekarang krik krik, hanya mampu menjadi fasilitas share promosi kegiatan sendiri-sendiri. Terkesan semua kebersamaan kemarin-kemarin untuk sesuatu yang sifatnya formalitas. Duh, tuh kan, rindu.

Aku jadi ingat beberapa waktu yang lalu teman-teman PIP sudah berpikir jauh menjadikan alumni LC mewujud komunitas. Oh, iya. Begitu akan menjadi wadah yang jelas supaya kebersamaan tidak berhenti di RKTL. Karena sangat banyak kader-kader lahir dari pelatihan-pelatihan dan kegiatan IPM, hanya saja tidak semua mampu terwadahi sebagai pimpinan IPM. Ada yang perlu bergerak via komunitas.

Fanin menyampaikan, beberapa waktu yang lalu ia juga dibagi informasi dari teman-teman berondong Mualimin yang katanya sudah punya komunitas untuk tiap bidangnya. Kataku, nice! Semakin banyak kader yang punya tempat menyumbangkan kontribusi, meskipun tidak sebagai pimpinan IPM, setidaknya potensinya bisa diberdayakan melalui jalur lainnya.

Lalu, aku dan Fanin merajut mimpi bersama. Ekya, yakduh. Kok baper?

Bismillah, sebagaimana sahabat baik mengingatkan, “Semoga perjuangan ini betul diseriusi, lebih-lebih ada yang melanjutkan.”

KEPALA NAT NUT
Sepulangnya, kurasakan kepalaku nat nut, nat nut. Oh my Allah. Setelah ini harus ke masjid untuk rapat Musycab. Kalau aku ijin, sumber daya manusia akan sedemikian tipis. Saat yang lain membaperkan banget semangatnya, masa Ahimsa leyeh-leyeh? Kan nggak lucu.

Kusandarkan kepala ke bantal sebentar saja. Pada Ibu kumohonkan 7 menit kemudian dibangunkan. Uh, aku tahu itu akan jadi istirahat yang tidak maksimal, tapi ya bagaimana lagi? Tujuh menit dan ibu membangunkan. Beruntungnya kubuka hape dahulu. Cek grup. MasyaAllah ya Rabbi. Bukan aku berbahagia atas ketiadaan rapat yang harus diundur (padahal itu bisa jadi mempengaruhi persiapannya, eh, tapi jangan), melainkan karena rasanya kondisi Engkau siapkan supaya aku bisa mendapat waktu lebih lama menikmati istirahat. Allohu. Alhamdulillah.

Lagi-lagi, aku dibaperkan.

Ibu membuatkan kopi good day, kuteguk sedikit dan tidur. Bangun beberapa waktu kemudian dan kuhabiskan. Kini, kutulis postingan ini bersamaan dengan niat menyelesaikan tugas-tugas yang belum dijalankan.

Bismillah.

Allohu.

IRI HATI? AH, TIDAK
Beberapa waktu ini, PP IPM sedang disibukkan dengan agenda tanwir yang diadakan di Kalimantan. Salah satu pulau yang tercita-citakan sebab bayangan hutan yang menyenangkan. Hanya segelintir sahabat yang datang.

Sebetulnya ketika beberapa waktu lalu kaki berpijak di tanah Lampung, Pak Nabhan sudah mengisyarakatkan akan ada agenda ke tanwir. Dan mencipta letup kecil berupa hasrat ingin ikut juga. Tapi hingga akhir masanya, belum berkesempatan. Cuma memang ketika hasrat tumbuh, kuragukan. Ah, tidak. Tidak. Jangan muncul hasrat seperti itu. Aku takut, orientasi berjuang jadi keliru.

Lagi-lagi tentu pada yang lain bisa jadi mencipta cemburu. Loh, kemarin ke Lampung aku, masa lagi-lagi ke Kalimantan aku? Nggak, nggak. Berjuang itu bukan semua ini harus aku. Iya kan?

Jadi, iri hati? Sama sekali tidak.

Pada suatu masa, akan kutahu Allah memberikan jalan terbaik-Nya.

Yogyakarta, 16 Jumadil Awal 1439

Tinggalkan Balasan