Catatan Seorang Event Organizer Gadungan


 

Selfie saat menunggu teman-teman Tim Agen Advokasi sebelum rekaman membuat film. Yakduh. Sok amat!

 

Akan ada sesal hari ini.
Perihal mimpi yang belum terpenuhi.

Begitu yang kutulis pada LINE perihal kelulusanku di SMA ini. Nggak sekadar bahagia atas sambutan kedewasaan yang kita temui di depan mata. Namun juga penyesalan atas harapan-harapan yang gagal tergapai di masa SMA. 

 

Bukan hal jarang sih sebetulnya diriku “sok” eksis di berbagai kegiatan sekolah maupun rumah. Perlu diperjelas ya, hanya sekadar “sok”. Kalau cuma eksis, mah, kayanya enggak juga. Huhu. Yah, meskipun sudah “sok” eksis begitu, tapi pengalaman tiada bisa dibilang cukup memadai.
Sehingga apabila kali ini aku akan bertutur perihal hikmah pengalamanku menggandrungi event organizing, mungkin ini masih kulit buahnya saja, belum sedalam-dalamnya hingga ke daging buah. Jujur saja ya, itu, hehe.
Aku juga bingung kenapa mau-maunya masang foto ini, tapi nggakpapalah. Ini foto si Bagas yang menggangguku ketika menjepret kegiatan Pembekalan Jurnalistik MWGSC yang baru. Ugh! Kuhargai manusia ini karena sudah banyak mendampingiku dalam berdarah-darah di kelas dan komunitas. Kutunggu sukses SBM-mu, Gas!
Kalau kita sedang menggarap sebuah event, tentu yang kerap menjadi tantangan bagi panitia ialah perihal dana. UANG! Susah sekali mencarinya ya. Mungkin nih para event organizer pemula sampai kebingungan membedakan lebih sulit mana antara mencari uang dan mencari jodoh.
Selain itu, apa lagi ya? Sumber daya manusia? Waktu yang sempit?
Ada kurang lebih dua kegiatan yang ingin kubagi karena telah mengajarkanku sebuah nilai yang hebat. Bukan karena kegiatan-kegiatan itu sukses atau punya nama. Tidak, sama sekali tidak.
PESANTREN LIBURAN
TPA di masjid dekat rumahku sebenarnya tidak begitu ramai, anak-anaknya tidak begitu banyak. Rasa antusias di TPA, jujur saja, sering melemas. Oleh karenanya, suatu kali ketika liburan semesteran, Babe-ku mengusulkan agar diadakan agenda “Pesantren Liburan” untuk mengisi kegiatan anak-anak di sekitar rumah. Ya! Ya! Keren!
Jadilah, kami yang tergabung dalam tadarusan muda-mudi kampung akhirnya giat mempersiapkan kegiatan ini. Nggak begitu lama, karena memang waktu yang ada tiada seberapa. Dana? Dari masjid dan itupun ala kadarnya. Isi kegiatan? Pematerinya ya hanya dari ustadz/ah dan tokoh sekitar.
Penggeraknya hanya dua-tiga orang. Yudha saat itu berani mengambil peran sebagai ketua dan aku menjadi sekretaris, mmm, merangkap bendahara pula meskipun kerjanya tidak seberapa. Mbak Sri dan Bu Lestari juga mendukung, mereka guru aktif di TPA. Awalnya hanya kamilah yang ke sana kemari mengajukan proposal, membuat undangan, membeli ini, membeli itu, dan lain sebagainya.
Ini bukan waktu Pesantren Liburan sih. Ini saat kegiatan TPA KREATIF membuat sup buah ekekek, sedikit wagu sih acaranya. Tapi alhamdulillah si adek-adek emesh itu tetap tabah dan menikmati. Uhuy! Btw cowok yang lagi noleh ke belakang itu si Yudhi, kembarannya Yudha, si ketua acara Pesantren Liburan. Duo sibuk memang.
Alhamdulillah Mbak Nurul, Yusuf, Juang, Yola, Sofia, Nia, Dito, Arif pun membantu di hari H dengan segenap rasa antusias melihat anak-anak yang ramai gempita. Bahkan setelah mengundang anak-anak dari dua masjid yang tidak jauh letaknya dari kampung kami, akhirnya ada beberapa ustadz/ah yang juga membantu keperluan kepanitiaan di hari H. Seperti pelaksanaan outbound, perlengkapan, dsb. Alhamdulillah! Alhamdulillah sekali!
Beberapa kekhawatiran mengenai kurangnya antusias anak-anak akhirnya tersingkirkan. Para orang tua tergugah mengajak putra-putrinya mengikuti kegiatan seru dan kreatif ini, positif lagi!
Sebelumnya, dengan menyadari keadaan yang serba kurang itu, sebetulnya kami berusaha meminimalisir pengeluaran, termasuk konsumsi. Kegiatan “Pesantren Liburan” dilaksanakan dua hari, dan dimulai Sabtu sore. Ketika malamnya mungkin kami kelewat lupa untuk memberikan makanan yang lebih berbobot dibanding snacki sederhana. Beberapa anak mengeluh lapar dan sudah bermaksud pulang, “Aku mau ambil makan, Mbak!”
Waduh, tergagap-gagap aku.
Akhirnya dengan sisa dana yang ada Yudha bermaksud mencarikan tahu bakso. Kemudian kami putarkan film untuk membuat anak-anak menunggu sedikit sabar.
Namun, tanpa diduga-duga, sebelum Yudha kembali sudah ada seorang tetangga yang ternyata tadi sore sudah menyiapkan bakmi untuk anak-anak. Selepas Isya’ makanan itu diantarkan. Mereka menikmatinya bersamaan dengan materi di malam hari. Alhamdulillah, batinku, sungguh bantuan-Mu tak terduga-duga.
Ada banyak bantuan yang diberikan oleh orang-orang di sekitar. Donatur yang tiba-tiba. Snack yang berlebihan. Orang-orang yang seketika saja langsung tergerak untuk membantu berlangsungnya kegiatan.
LULUS SERU 2017
Sebenarnya aku baru menyadari betapa berbobot dan pentingnya acara ini diadakan dalam mewarnai kelulusan siswa-siswi kelas 3 SMA. Bukan maksudku mengatakan kalau sebelumnya aku berpikir acara ini nggak penting, nggak baik buat teman-teman yang lulus. Namun aku baru memahami kalau agenda ini begitu SANGAT bermanfaat dan eman-eman kalau terlewatkan.
Meskipun ada beberapa evaluasi penting mengenai event ini, tetapi aku rasa juga ada apresiasi atas apa yang sudah diusahakan oleh banyak teman-teman panitia untuk pelaksanaan kegiatan.
Kata orang, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Jadi akan kupaparkan beberapa hal yang memang perlu menjadi bahan refleksi bagi kita, sekaligus sebuah hal yang patut disyukurijuga.
          Kami menemukan konsep acara yang keren!
Sebetulnya kami telah menyusun agenda-agenda keren dalam acara #LulusSeru2017 ini. Pertama: pengumpulan bantuan yang akan dialokasikan kepada teman-teman yang lebih membutuhkan. Kedua: seminar mengenai Tertib Lalu Lintas dan Keamanan Berkendara. Ketiga: penyaluran pesan para siswa/siswi yang akan disampaikan kepada Kemendikbud RI. Keempat: Kampanye Peduli Lalu Lintas berupa penyebaran leaflet kepada masyarakat sekitar. Kelima: Aksi Mulung Yuk yakni pembersihan jalanan dari sampah-sampah secara bersama-sama.
Keren kan? Namun, memang sedari awal kegiatan ini sedikit rancu. Ada lubangnya. Ternyata pada H-1 kegiatan kita baru menyadari. Ngapain kita mengadakan rentetan agenda-agenda itu tadi? Kok serasa acara bertumpuk-tumpuk? Bukannya terasa seperti aksi-aksi yang dipaksa menyatu? Maka kami mencoba mencari benang merah dari perkara tersebut.
Hmmm. Nah! Akhirnya di malam itu H-1 (HA MIN SATU!!!) kami putuskan mengusung tagline#PelajarRamaiJalananDamai yang berusaha mengampanyekan aksi persatuan pelajar untuk menciptakan kenyamanan di jalan. Menggugurkan isu-isu negatif seperti klithih, tawuran, konvoi, dsb.
Keren kan? Ya! Banget! Tapi sayangnya itu baru muncul di—sekali lagi—H-1 kegiatan. Sehingga konseputama yakni tagline yang kami usung tersebut tidak mampu terpublikasikan secara baik dan menyeluruh di kalangan pelajar dan masyarakat. Itulah hal yang sedikit kusesali. Hmmm. Tapi karena ini hidup ini perjalanan, maka itulah namanya proses pembelajaran. Ya kan?
          Kami tahu cara mengatur teknis kegiatan, juga uang!
Nah! Untuk mengadakan kegiatan se-“abrek” itu yang memakan waktu hampir setengah hari, tentunya dana yang kami butuhkan juga harusnya cukup lumayan. Dari konsumsi peserta, pemateri, atribut, perlengkapan seperti tenda dan sound system, wuah, uang semua!
                Jadi, sebelumnya kami membutuhkan tenda untuk kegiatan ini karena tempat yang kami pakai adalah plataran (halaman) Masjid Gedhe Kauman. Sebenarnya hal ini menimbulkan beberapa hambatan ketika aku menghubungi pihak pemateri dari bagian Satlantas Polresta Yogyakarta, “Panas, Mbak, nanti kalau di sana. Kasihan anak-anak. Lagian kalau nanti pakai slide (power point maksud beliau) kan nggak jelas, terlalu terang kalau outdoor.”
                Ketika itu aku berangkat ke Polresta dengan Fanin. Kami diminta melakukan koordinasi lagi dengan panitia kalau-kalau bisa berubah tempat.
                Lagi-lagi pada H-1 kegiatan kulemparkan perkara itu di forum rapat—seharusnya briefing, sebenarnya tidak jelas antara keduanya malam itu. Sedikit tidak bijak sebenarnya kalau memaparkannya, sedangkan seharusnya hal-hal seperti itu sudah tidak dibahas lagi. Atas segala usulan, akhirnya kami memilih tetap melangsungkannya di plataran masjid. Pertimbangannya adalah ini sudah H-1, perizinan dan semacamnya akan sulit, harus bagaimana lagi? Ok! Besok acara dimulai pukul 13.00-an.
                Nah, malam berlalu cepat. Pagi lah sudah! Agak susah memang menciptakan semangat pagi-pagi! Pukul 09.00-an baru aku bersiap melakukan segala hal, mengenai persuratan, print presensi, kembali menghubungi Polresta, termasuk memenuhi permintaan Eyang untuk dicarikan semangka. Mmm, khusus buah semangka ini sebenarnya aku gagal menemukan potongan seperti permohonan Eyang yang hanya seharga Rp 10.000. Karena sudah buru-buru, ya sudah, kuberi 1 buah besar. Kupotong untuk Eyang seperti yang dimintanya, sisanya kubawa ke Masjid Gedhe Kauman. Aku sudah berpikir ketika manusia-manusia lain sibuk mendirikan tenda, aku akan sedikit mencicipi segarnya semangka.

 

PC IPM Wirobrajan! My love, my heart, my apaan lagi yak sampai tiada mampu berkata-kata. Yang jelas saranghaeyo sudah memperkankan diriku ini hadir dan memiliki tempat di IPM. Seriusan, apalah aku tanpamu. Apalah Ahimsa tanpa kalian. Tetap jaya, maafkan karena banyak dariku yang tidak maksimal, tidak memadai, membuat kalian puyeng tak karuan.

 

                Eh, ternyata. Sampai sana sebuah kabar menghampiriku. “Pesanan tendanya belum dicatat sama pihak yang buka penyewaan,” intinya begitu. Jantungan. Ugh. Cemas. Duh, duh. Hehe, nggak ding, aku bukan orang yang begitu. Malah asyik kunikmati semangkaku. Bunda Ansal, Annisa Salsabila—my beloved ketua, juga beberapa teman lain mencoba menghubungi pihak-pihak lain yang dirasa bisa menyewakan tenda atau semacamnya.
Kemudian tidak lama Mas Irsyad datang, si pemberi senyum yang sangat lebar, lalu kuajak, “Mas Irsyad, tahu rumah Mas Robbi? Ke sana yuk.”
                Nggak tahu akan berhasil nggak, tapi karena salah satu manusia yang mungkin bisa membantu kami menyelesaikan masalah kami adalah beliau. Mas Robbi, seseorang yang eksistensinya mungkin tidak diragukan lagi di kampung Kauman. Bayangkan, setiap ketemu warga di sana disapanya, “Misi pak ini, monggo bu itu,” mantap jiwo. Sebelumnya pun yang membantuku melobi Ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman ya Mas Robbi ini.
                Nah, aku dan Mas Irsyad sampai di rumahnya dan kami utarakan mengenai duduk permasalahannya. Segera Mas Robbi memikirkan kemungkinan-kemungkinan tempat lain. Setelahnya kami pun beranjak ke Bapak Waslan—maafkan saya, Pak, saya lupa-lupa ingat nama Anda, tapi saya sangat saranghaeyo terhadap bantuannya—kemudian ke Pak Budi dan Bu Kardi—Insya Allah namanya nggak salah nggih, Bu. Alhamdulillah setelah mencoba melobi serambi masjid, bangunan pendopo, Al-Fatah, dsb, kami akhirnya diberi izin untuk mengenakan gedung Bina Manggala, yang biasanya untuk kegiatan latihan teman-teman TS (Tapak Suci). Yuhuu, kita pinjam ya, gaes.
                Gimana enggak bersyukur? Alhamdulillah wa syukurillah.
                Kata pepatah, “Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Gimana enggak? Pertama, kita dapat tempat dengan waktu yang sekitar setengah jam-an sebelum acara dimulai. Kedua, kita menghemat anggaran peminjaman tenda. Ketiga, alhamdulillah ada bapak-bapak yang baiknya minta ampun (gamsahamnida bantuannya, Pak, Pak) menyiapkan sound system dsb di gedung tersebut. Keempat, aku dengan percaya diri menelepon pihak Satlantas Polresta, Bu Catur, “Iya, Bu. Alhamdulillah kita dapat tempatindoor.”
                Ugh. Meskipun ada berbagai miss comunication yang tidak dapat terhindari, namun setidaknya ada hikmah-hikmah lain yang bisa kita petik. Jadi apapun kekurangannya itu jadilah pembelajaran.
Nih, ada foto ukhti-ukhtiku. Sohib yang alhamdulillah dipertemukan dengan mereka di dunia ini Ya Allah. Kita yang sebetulnya abal-abal dalam menyanyi, khususnya aku wkwkwk, yang tergabung dalam Naswa (Nasyid for Akhwat), so sorry buat para ikhwan yang belum bisa mendengar kengerian suara kami. Kalau kepo, halalkan dulu. Eak duh!
KENAPA YA TERLALU MENYENANGKAN RASANYA?
Mungkin pada beberapa kawan ada yang merasa acaranya nggak berjalan sukses, acaranya nggak berjalan baik, acaranya begini, dan begitu. Untuk semua acara. Bukan cuma acara yang aku bahas di atas. Acara sekolah kalian, acara di rumah kalian, acara di organisasi kalian.
Pasti pernah ngrasa begitu?
Wajar kok. Aku pernah. Rasanya muak dan ingin mengulang kembali ke masa lalu untuk menolak tawaran menggiurkan itu, “Nggak ah, aku nggak mau jadi panitianya.”
Tapi, aku terbiasa untuk mencari-cari hal positif apapun, sekecil apapun, semini-mini-mini-mini apapun. Sejujurnya itu tidak terlalu baik. Namun dengan begitu aku bisa lebih menghargai sesuatu. Nggak ada yang sempurna. Inilah menyenangkannya. Mengulang-ulang proses, mengumpulkan kesalahan, menjumlahkan keseluruhannya menjadi seuatu yang dinamakan “pembelajaran”.
Gagal, coba lagi.
Jatuh, bangkit lagi.
Kemarin publish-nya kurang kencang, event selanjutnya belajar soal penguatan media lagi.
Sebelumnya miss komunikasi, besoknya harus bisa ngrangkul temennya sendiri.
Apa gunanya kalau berhenti? Rasa sesal, rasa malu, rasa marah, cuma kita ramu dalam secangkir kopi yang kemudian isinya hanya mengendap karena kita ragu mau meminumnya, “Nggak enak kayanya rasanya.”
Yaudah, selesailah pengalamanmu saat itu. Sedangkan kalau secangkir kopi itu tetap kamu nikmati. Sampai habis. Sampai puas hausmu. Bagaimana sensasinya? Ugh.
Almas, Bunda Aul, diriku, Bang Mups, Anhar, Daffa, dan Handika, juga teman-teman lain yang sayang rupanya tiada masuk ke frame berikut ini. Semoga apa yang kami lakukan, kami niatkan untuk kebaikan. Mereka-mereka tuh yang telah membuat diriku berusaha untuk selalu berpikir positif wkwk anak AI disebutnya:v
KESIMPULAN
Kesimpulannya bukan kamu harus nge-event terus sampai kewer. Bukan maksudku acara kamu harus semakin besar sampai-sampai udah #999 gitu. Bukan, sama sekali bukan!
Kenapa ya aku bisa tetap senang? Kenapa ya aku selalu merasa ada bantuan? Kenapa aku selalu merasa Dia terus menunjukkan peran-Nya yang tak terduga-duga? Dan, memang! Memang betul!
Menurutku, lebih karena niatnya. Aku merasa dipermudah tiap menemukan “tujuan yang baik”, menemukan “niat untuk-Nya”, menghampiri ridho-Nya. Bahkan aku sempat bergelut dengan batinku untuk melaksanakan agenda Tabligh Akbar. Tabligh Akbar lho! Acara islami! Aku sampai puyeng menyingkirkan niat hanya sekadar untuk mengeksiskan nama sekolah. Sampai puyeng!
 
Tapi alhamdulillah dan Insya Allah semua ini terlaksana berkat-Nya. Karena niat kami, para aktivis nekat, yang berniat untuk kebaikan umat. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *