Pagi ini di sekolah murid-murid terlihat  nampak senang, kecuali Bumi. Mukanya makin pucat, sakitnya yang sering kambuh membuat dirinya sering absen. Sebenarnya Pak Matahari, gurunya, sudah meminta Bumi untuk beristirahat dulu, akan tetapi Bumi masih saja bersikeras untuk sekolah. Padahal ini sudah ke-15 kalinya ia masuk rumah sakit.
            “Sungguh Bumi, sakitmu itu akan semakin parah. Jangan paksakan diri. Kau bisa kembali ke rumah sakit, Nak.”,saran Pak Matahari.
            “Iya bumi. Muka pucatmu membuat dirimu seperti kain kumal..”,Neptunus pun angkat bicara. Yeah, heran saja, dia-kan anaknya pendiam banget.
            “Em.. Tidak. Ozonku sedikit menipis lagi. Yeah seperti yang kalian tau, rumah sakit tak memiliki donor untuk ozon. Jadi sepertinya sama saja bila aku kembali ke sana.”,tegur Bumi santai. Senyumnya nampak rapuh.
            “Baiklah, sudah. Bapak akan mulai pelajaran. Coba bu…..”,sebelum Pak Matahari menyelesaikan kata-katanya, pintu kelas sudah diketuk.
Tok-tok-tok! (Kalau tidak salah begitulah bunyinya)
Seorang yang berbadan besar dan tegap membuka pintu. Siapa lagi? Bapak kepsek. Yeah, Bapak Bima Sakti.
“Permisi saya mengganggu. Pak Matahari, bisakah kita berunding sebentar..”,kata Bapak Bima Sakti.
“Baik pak. Mari di luar.”
Beberapa menit berlalu untuk anak-anak. Mereka masih menunggu sang guru sambil membaca-baca buku. Tak lama, barulah Pak Matahari  beserta Pak Bima Sakti tentunya, mereka memasuki kelas.
“Maaf anak-anak mengganggu waktu kalian. Bumi, dapatkah kamu ikut bapak sebentar. Bapak ingin menemukanmu dengan seorang dokter. Em yeah kira-kira begitu.”,kata Pak Bima Sakti.
“Berhubungan dengan penyakitku?”,tanya Bumi. Pak Bima Sakti hanya mengangguk pelan. Lalu merekapun menuju lorong sempit yang membawa mereka ke UKS. Seorang berwajah menyeramkan terlihat sedang menunggu di depan pintu UKS.
“Nah, Bumi, perkenalkan, ini Pak Manusia. Orang tuamu memintanya untuk mengobatimu. Entah akan berhasil atau tidak, tapi aku yakin ia bisa melakukannya..”,kata Pak Bima Sakti. Tapi nadanya seperti terdengar sangsi.
“Kau bumi? Pucat sekali. Aku akan berusaha menyembuhkanmu.” Sapa Pak Manusia dengan senyum datar.
Setelah itu Pak Manusia membawanya ke rumah sakit untuk dirawat.
.
.
.
Satu bulan berlalu. Bumi tak pernah terlihat lagi. Hingga suatu saat, terdapat kiriman surat dari orang tua Bumi untuk sekolah…

TErima kasih atas semua upaya yang telah dibuat untuk menyembuhkan bumi. Namun mungkin Allah berkehendak lain, setelah 2 hari diobati oleh dr. Manusia, penyakit bumi makin parah dan Pak Manusia pun angkat tangan. 3 hari yang lalu, Bumi meninggal

Salam, Keluarga Bumi

Tinggalkan Balasan