Cerpen: Cerpen

          Sebuah cerpen.
          Bibirku bergerak lamban mengeja kata-kata di dalamnya.

~~~
          Saat namaku terpanggil sebagai juara pertama lomba menulis cerpen, aku tersenyum bangga. Kaki-kakiku bergerak ke arah panggung diiringi tepukan tangan. Sedikit bagian dari hatiku merasa geli karena ada potongan yang pecah bila aku mengingat apa yang aku ceritakan dalam cerpen itu, dan siapa yang membuatku terinspirasi. Sahabatku.
          Aku tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.
          Sungguh tidak mungkin gadis seperti Lily mampu melakukan hal yang mengerikan seperti itu.
          “Maaf Din, tapi semua bukti emang menunjuk ke arah sahabatmu itu,” wajah Rani merasa bersalah. “Aku tau kamu ragu, aku juga awalnya, tapi orang yang mencelakai orang tuamu, adalah sahabatmu sendiri. Lily.”
          Sudah cukup segala kesedihanku karena kehilangan kedua orang tuaku. Sekarang aku harus menerima fakta bahwa semua itu karena sahabatku sendiri. Hidup memang tidak pernah lepas dari bagian film, me-nya-kit-kan dan terlalu dibuat-buat. Aku benci ini.
          Aku tak berkata apapun.,
          Aku ingat saat hari pemakaman orang tuaku, ia masih di sampingku, ia menenangkanku, menyabarkanku, berusaha menghiburku dengan menemaniku. Tapi kenyataannya, dia ialah penyebab orang tuaku meninggal.
          Bodohnya aku!
          Selama ini dia ingin menjadi orang yang paling dekat denganku hanya untuk menyakitiku? Mencelakai orang tuaku?
          Di suatu hari saat kedua orang tuaku sedang tidak bekerja dan di rumah, di saat mereka memiliki waktu untuk kebersamaan keluarga, Lily malah memintaku menemaninya untuk menonton film kesukannya, aneh. Ternyata itu hanya akal-akalannya.
          Di tengah saat kebersamaanku dengan Lily, Rani, teman rumahku menghubungiku mengatakan bahwa rumahku kebakaran. Tentu aku segera mengajak Lily pulang, dan sampai di rumah, aku menyadari aku kehilangan segalanya. Aku jatuh, benar-benar jatuh.
          Kenyataan pahitnya adalah sekarang aku yatim piatu.
          Namun, ada Lily. Selama masa-masa kesepian itu ia berusaha mengangkatku, membangkitkanku, ia ada di sampingku, ia sahabatku. Namun semua kenyataan itu hangus setelah aku membaca sebuah cerpen singkat buatannya. Cerita pendek itu bukan karangan seperti apa yang kalian pikirkan, bukan dongeng yang hanya sekedar olahan otak manusia, itu cerita buatannya. Aku rasa sebutan cerpen pas sekali karena itu hanyalah sebuah cerita delapan halaman yang ia jadikan tempat mengungkapkan segala keluh kesah hatinya.
          Dendam keluarga? Bukan.
          Perebutan harta benda? Bukan.
          Polisi menyebutnya.. psikopat. Bulu kudukku berdiri meski hanya membayangkan kata-kata itu. Aku bersahabat dengan psikopat.
          Lily tak sering menceritakan tentang keadaan keluarganya, ia hanya mengatakan orang tuanya terlalu sibuk bekerja di luar kota, dan jarang sekali berada di rumah. Di rumahnya hanya ada beberapa foto masa kecilnya bersama orang tuanya. Gadis yang malang.
          Sayangnya, tak sesempurna yang ia katakan. Menurut penyelidikan kepolisian, kedua orang tua Lily sudah meninggal dalam peristiwa kebakaran di rumahnya sendiri. Sangat menyedihkan. Semenjak itu ia di tampung di panti asuhan dan berusaha menopang hidupnya sendiri saat dewasa. Namun kesedihannya tak pernah hilang, menurut hasil penyelidikan ia adalah dalang dari beberapa peristiwa kebakaran yang memakan korban berupa suami istri. Mereka, para korbannya, ia ceritakan ke dalam cerpen karyanya, cerpen kematian. Dan yang terakhir ini adalah kedua orang tuaku, orang tua sahabatnya sendiri.
          Aku tidak tahu mengapa setiap kali aku mengasihaninya sebagai gadis malang, membuatku ingin membencinya. Sahabatku seorang psikopat yang menghilangkan nyawa kedua orang tuaku.
          Apakah aku juga harus melakukannya?
          Aku menjadi psikopat?

          Kata-kata yang kutulis dalam cerpen itu terus kuingat. Aku mungkin takkan menjadi seorang psikopat, tapi cerita itu adalah inspirasi untuk karya ini, aku berterima kasih pada sahabatku itu.

~~~
          “Wow,” kataku membaca cerita yang dikarang sahabatku, Dinda. “Jadi, di cerpen kamu ini, kamu nyeritain kalau aku yang sahabatmu nyelakain mama papamu hahaha.”
          “Iya dong, Ly. Hahaha, gimana?” Dinda tertawa sambil menepuk bahuku.
          “Gila aja, tegang aku. Keren haha. Apa nih judulnya?”
          “Oh, cerpen ini judulnya Cerpen.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *