Punya adek yang masih kecil?
Suka marah ya kalau dia nakal?
Suka ngomelin adek kan kalau dia usil?
Pelajari dan hayati….

KAKAAAK!!!
Duh, ngapa sih ganggu aja!, batin Wati—yang sedang mencari buku Matematikanyasaat mendengar suara Joko memanggilnya. “Apaa?!”
“Kakak, liat deh, aku nggambar roket. Bagus kan?”, kata Joko bersemangat sambil menunjukkan buku Matematika Wati yang digambari coretan—yang disebut roket oleh Joko.
“Heh!!”, Wati memukul adiknya. “Inikan buku kakak! Kenapa kamu coret-coret enggak jelas kaya gini?!! Dasar anak nakal!!” Wati menarik bukunya.
Joko, dengan mata yang berlinang air mata, berjalan menjauh. Ia tidak berani mengadu. Joko merasa bersalah pada kakaknya, padahal awalnya ia ingin melihat kakaknya senang dengan melihat gambarnya.
Suatu hari….
Seusai pulang sekolah, Wati masuk ke rumah dengan menyelinap sambil membawa kertas ujian yang sudah kumal. Teng teng teng!!!
Ketahuan juga. Ibu melihat Wati sedang menyelinap di depan pintu kamarnya. Ibu segera memergokinya “Sepertinya ada yang mendapat nilai Matematika jelek hari ini yaa..”
“Ee.. duh.. E..i..iy..iya bu..”, sahut Wati terbata-bata. “Maaf, hari ini Wati benar-benar mengecewakan ibu yaa? Maaf ya bu, lain kali Wati akan berusaha lebih keras kok.”
“Wati… Kenapa minta maaf? Kamu enggak salah sayang. Nilai itu bukanlah segalanya. Yang penting belajar terus dan terus.. Lagian ayah dan ibu enggak pernah nuntut kamu dapat nilai bagus. Hanya belajar terus dan terus… Kita ingin kamu jadi anak hebat..!”
“Ibu benar. Maaf ya bu. Wati janji akan belajar terus dan terus dan terus dan terus dan terus daan..”
“sudah.. Ganti baju sana..”
Wati segera masuk ke kamarnya. Wati segera mengeluarkan buku-buku dalam tasnya. Ia membuka kembali buku Matematikanya, ia ingin belajar kembali. Halaman yang dibuka pertama kali adalah dimana terdapat gambar roket Joko. Wati kembali melamun….
Joko menggambar? Di buku Matematikaku? Anak ini benar-benar nakal!!
Seketika itu Joko masuk ke kamar Wati dan menyodorkan gambar roket(lagi?), tapi kali ini digambar di buku gambar Joko sendiri. “Apa lagi ini dek?” tanya Wati bingung.
“Roket untuk kakak”
“Lagi?”
“Iya, aku mau ngajak kakak naik roket waktu besok aku jadi astronot, kak. Maaf ya kak  kemarin aku gambar roket di buku kakak. Sebenernya aku pengen supaya kakak bisa liat gambar itu terus. Ternyata kakak nggak suka, jadi aku gambar di buku aku ini. “
“Adeekkk…” Wati memeluk Joko begitu erat. Menangis—terharu.

Tinggalkan Balasan