“Gimana kalau kita naksir sahabat kita sendiri?”
Bising! Entah bagaimana aku bisa dengan jelas mendengar pertanyaan gadis itu.
Sahabatku itu memandangku, memelas, meminta tanggapan.
Aku balik menatapnya tanpa berkedip.
Sebenarnya..Aku juga merasakan perasaan itu, naksir sahabatku─tentu bukan yang ada didepanku ini, dia kan perempuan─dan aku menganggap hal itu biasa.
Ah, sudahlah, baik, sekarang apa yang harus kukatakan pada gadis ini?
Terserah kamu. Jika aku katakan itu, aku egois.
Sebenernya sih itu enggak boleh, nanti kalau persahabatan kalian rusak gimana?
Oke, yang ini lebih baik, tapi gimana dengan perasaanku sendiri? Aku juga naksir sahabatku.
Dan seenggaknya mulutku yang penuh dengan kepiyawaian itu berkata..
“Sekar.. Emm.. Seperti yang kita tahu ada pepatah mengatakan ‘Tak kenal maka tak sayang’, oke sekarang kita balik kalimat itu ‘Kenal banget maka sayang banget’.. Dan menurutku rasa sayang itu bisa bentuknya macem-macem, bisa juga berkembang jadi perasaan SUKA”
 Nah, sekarang dia menatapku dalam diam. Lalu, akhirnya berkata “Tapi Wardah.. Kalau misalnya kamu suka sama sahabatmu sendiri gimana? Emang sih baru kenal sekitar satu tahunan tapi dia care banget, sampai-sampai kamu bingung mau nganggep rasa sayangnya itu gimana” mukanya ditekuk. Seolah itu masalah hidup yang sulit dipecahkan.
Aku tersenyum padanya. “Kamu tau rasanya jatuh cinta? Sama, aku juga nggak tahu. Tapi, Tuhan tahu.. Ya, Tuhan tahu isi hati kita.. Karena Dia-lah yang merencanakan takdir kita. Jadi percayalah, itu bukan hal yang patut membuatmu kebingungan.. Jangan hanya karena perasaan hati, kamu jadi kelihatan kaya tisu bekas dong!”
Dia tersenyum manis dan mengangguk. Lalu menatap langit. Aku ikut menatap langit. “Mendung nih, yung!” kupanggil ia dengan panggilan sayang itu. “Ayo masuk ke dalam..!” ajakku sambil menunjuk rumahku.
“Segera, kau dulu..”
“Baiklah..” Aku beranjak masuk. Sampai pintu aku membalikkan badan, dan kutatap seorang lelaki dengan jamper abu-abu berlari ke arah sahabatku itu dengan sebuah payung. Ya, payung yang belakangan ini kusadari berwarna…pink? Aku menatap sahabatku yang tersenyum kepadaku dan kemudian ia mengangguk. Aku tahu maksudnya, inilah lelaki itu.
Lelaki itu berbagi payungnya dengan sahabatku, lalu menuntunnya menuju pintu rumahku. Ia menatapku dan tersenyum. “Aku sahabatnya Sekar..”

Tinggalkan Balasan