CERPEN “Gara-gara Perpus”

Siang yang benar-benar melelahkan bagi Riko. Berjam-jam sudah dia berkeliling kota mencari buku Max Havelaar―novel karya Multatuli, yang dihilangkannya saat meminjam buku tersebut di perpustakaan sekolah―namun novel itu kan sudah tidak beredar.
~~~ 
15 menit menjelang istirahat. Plek-plek-plek.. Suara langkah kaki petugas perpuatakaan itu memecah keheningan di lorong sekolah. Pintu berderit saat petugas itu memasuki kelas VIII D. Semua mata tertuju padanya. Sekilas ia tersenyum pada guru Matematika yang sedang mengajar kala itu. Sang guru memberi waktu kepada si petugas perpustakaan itu untuk berbicara pada para murid di kelas tersebut.
“Anak-anak,” suaranya bak tentara yang baru saja selesai berperang. “Saya yakin banyak diantara kalian yang pernah meminjam buku di perpuatakaan dan mungkin lupa atau bahkan sengaja tidak mengembalikan,” kini matanya menerawang kelas itu dengan tajam.
“Besok, ya besok, siapapun yang belum mengembalikan buku pinjaman dari perpustakaan harus segera dikembalikan. BESOK. Tenang, tidak akan ada hukuman jika besok kalian mengembalikannya.. Tapi,” senyumnya kini terlihat jail. “Jika kalian tidak mengembalikannya besok, maka terpaksa saya akan menahan ijazah kalian di kelas IX nanti”
Breg. Jantung kami berhenti. Mungkin setiap jiwa di kelas ini masih membawa buku pinjaman milik perpustakaan dan belum dikembalikanentah lupa atau apa. Tapi mendengar ucapan itu, sekembalinya dari rumah mereka segera menggledah isi rumah untuk mencari buku tersebut.
~~~
1 tahun kemudian.
“Riko, dulu saya pernah bilang kan? Kalau kamu tidak mengembalikan buku itu maka ijazah ini saya tahan,” petugas perpustakaan berkata sambil menggenggam ijazah Riko.
“Ta..tapi.., saya merasa sudah mengembalikan.”
“Tapi tidak tercatat di data saya”
Riko tidak bisa berkata apapun. “Saya akan coba mencarinya, pak”
Petugas perpustakaan tersenyum meremehkan.
Dan tidak semudah yang difikirkan Riko. Buku itu tidak ada dimanapun. Di toko buku sampai toko kelontong. Dan hanya satu hal yang bisa diterimanyaijazahnya ditahan.
―Buat temen-temen―
 Ini sepele banget ya sebenernya? Tapi intinya walaupun sekecil apapun, bukan berarti itu nggak penting, karena hal yang besar kan disusun oleh banyak hal kecil kan? Ambil hikmahnya aja:D
Inspirasi: Mas Mecca (My librarian) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *