Tik,tik,tik.. Kukedipkan mataku beberapa kali untuk memperoleh kesadaran.
Ah masih di sini ternyata. Aku melihat keluar kamar, tamu-tamu itu sudah mulai pulang. Sebenarnya aku tidak senang dengan acara mudik seperti ini, aku lebih nyaman di rumah sendiri, jadi aku memutuskan untuk molor saja. Tapi sedetik sebelum ku mulai memejamkan mata, kulihat sebuah mata menatapku. Mata yang indah, batinku. Beberapa detik kemudian aku tersadar siapa lelaki yang menatapku itu dan segera keluar. Aku berpura-pura mengacuhkan tatapannya, aku bergerak mencari mama.
“Wuri…wah…Wuri sudah besar ya sekarang..,” seseorang yang kukenal berbicara padaku.
“Tante Leni?” aku terkejut menatap sosok yang lama tak kujumpai.
“Iya, lama nggak ketemu kamu udah gede banget, tambah cantik lagi,” kata Tante Leni memuji.
“Amiin, hehe..”
“Oh iya, Rendi! Sini nak.” Tante Leni memanggil seseorang. Duhai anak lelaki itu yang dipanggilnya.
Sudah ku duga, dulu aku pernah bertemu anak lelaki itu saat masih terlalu kecil. Baru kuingat bahwa namanya Rendi. Aku menatap mata indah itu lagi. Dia tersenyum seperti senyum licik padaku, tapi bagiku itu mempesona.
“Nah, Ren, dari kemarin kamu nyari Wuri kan? Sekarang udah ada tuh.” Tante Leni menggoda. ”Yasudah tante mau ketemu mamamu dulu ya..”
“Iya tante…” Aku diam beberapa detik di hadapan Rendi, lalu beranjak ke ruang tengah. Aku mencoba mengabaikan sosok yang menawan itu. Aku duduk di sofa empuk milik nenekku.
Sial, dia duduk disampingku. Sebenarnya aku ingin menghindar, jantungku berdebar tak karuan. Aku mengepalkan tangan berusaha menahan semua itu. Dia sepupumu, sepupumu, kataku pada diri sendiri. Saat aku beranjak pergi, lelaki itu berkata “Loh? Mau kemana, Wur?”
“emm.. tidur lagi hehe,” jawabku sekenanya. Aku mengabaikannya dan langsung pergi ke kamar tidur. Namun sungguh aku tak mampu menutup mataku barang seditik saja, aku masih terbayang-bayang Rendi. Payah sekali! Tapi lama kelamaan aku kelelahan untuk berfikir dan segera terlelap. Aku bangun kira-kira pukul 3 sore. Sore ini aku ada acara syawalan di rumah Om Rafi, sehingga aku dan keluargaku yang menginap di rumah nenek segera bersiap-siap pergi ke rumah Om Rafi.
Sore itu aku paling lambat bersiap-siap sehingga saat semua sudah menaiki kendaraan, aku malah membuat mereka bingung mau ditaruh dimana. Tiba-tiba saja, Rendi yang menaiki sepeda motor menawarkan, “bonceng aku aja Wur.”
Karena dipaksa waktu maka aku terima-terima saja. Aku duduk menyamping karena memakai rok, susah kalau hadap ke depan. Aku sama sekali tidak berminat berpegangan padanya namun tiba-tiba tangannya menarik tanganku ke perutnya dan ia berkata, “Jangan sampai jatuh!”
Jangan terbang! Jangan terbang! Aku kembali berbicara pada diriku.
~~~
Hari ini aku pulang.
Aku menaiki bus itu dengan masih terbayang Rendi. Aku duduk di dekat jendela dan ibuku disampingku. Aku terus menatap langit biru mengulang apa saja yang aku lalui bersamanya kemarin. Ah sudahlah, tidak akan ada lagi cerita selanjutnya. Setelah aku sampai di rumah semua akan kembali seperti biasa, Rendi sudah tidak ada lagi. Itu hanya terjadi dalam sekejap. Aku merasa bosan, segera ku keluarkan tabletku dan membuka e-mail. Aku menemukan sebuah e-mail baru dari seseorang: “Halo, Wuri. Ini aku Rendi :)”

Tinggalkan Balasan