Cerpen: Rimbun dan Jo

Cerita ini hanya fiktif belaka.
Berawal dari dua insan yang sangat romantis. Sang cewek yang bernama Rimbun terkena penyakit kanker otak. Dan seperti sinetron-sinetron biasanya, si Rimbun ini tidak mau memberitahukan penyakit yang dideritanya itu kepada kekasihnya, Jo. Bukan, cerita ini bukan soal sinetron basi seperti itu, jadi baca saja:

                Suatu hari Rimbun dan Jo sedang berjalan-jalan di atas sebuah jalan setapak di taman. Tertawa-tawa bersama sambil menikmati sejuknya pemandangan di pagi hari. Di sana mereka bisa melihat ujung gunung merapi dan merbabu yang berdekatan. Di tengah kesenangan itu, tiba-tiba Rimbun merasakan ada sesuatu yang keluar dari hidungnya, dan ia tahu apa itu: darah. Rimbun berfikir cepat sebelum Jo tersadar bahwa kekasihnya sedang mimisan, ia memanggil, “Jo!!”
                “Yaa..?” Jo menengok dan betapa terkejutnya saat ia melihat darah di bawah hidung Rimbun. “Rimbun kamu mimisan? Ya ampun kok bisa?”
                “Bukan Jo, bukan. Aku pengen bilang waktu tadi kamu ngomong ke aku, mulut kamu ngeluarin darah dan ngenain mukaku. Ya ampun kamu kenapa Jo?” Rimbun mencoba bersandiwara agar kekasihnya tidak khawatir. “Kamu harus cepet ke dokter, sana cepet. Aku khawatir ada apa-apa…”
                Jo sedikit bingung, ia merasa baik-baik saja. Dan ia juga tidak merasakan mulutnya mengeluarkan darah. Bagaimana mungkin? Tapi Rimbun mendesaknya untuk segera memeriksakan ke dokter. “Ayo Jo, cepatlah! Kamu harus ke dokter sekarang!”
                “Tapi aku harus nganter kamu pulang dulu..”
                “Nggak, kamu ke dokter se-ka-rang! Aku bisa pulang sendiri..” Rimbun terus memaksanya dan akhirnya setelah berpamitan Jo segera pergi ke rumah sakit untuk periksa. Betapa lucunya kisah tragis ini, aku juga tidak mengerti kenapa jalan cerita seperti ini selalu saja ceweknya berbohong.
                Esoknya Jo mendatangi rumah Rimbun, namun kekasihnya itu sedang pergi karena urusan pekerjaanbegitu kata mama Rimbun. Jo memutuskan menunggu, tapi hingga sore Rimbun belum kelihatan batang hidungnya, terpaksa ia pulang saja. Padahal hari ini ia ingin menjelaskan kalau kemarin dia tidak apa-apa dan kata dokter ia tidak mungkin mengeluarkan darah.
                Esok harinya pun begitu. Lalu lusa juga begitu. Esok lagi begitu. Besoknya masih seperti itu. Rimbun juga sulit dihubungi, handphone-nya selalu saja sibuk. Dan hampir seminggu mereka tidak berkomunikasi, Jo bingung dan gelisah, kemana Rimbun? Namun tak disangka-sangka tepat seminggu kemudian di tanggal 21 Oktober 2013 hari anniversary mereka yang ke 3 tahun, Rimbun datang ke rumah Jo. Betapa senangnya hati Jo, dipeluknya kekasihnya itu dan secara tidak sadar mulutnya langsung bercerita banyak soal kegalauannya seminggu ini. Rimbun tersenyum melihat Jo yang bersemangat seperti itu. Oktober, awal musim penghujan, karena cuaca masih labil mereka memutuskan untuk menikmati hari itu di kebun kecil di belakang rumah Jo.
                “Rimbun..aku udah periksa ke dokter, langsung setelah kamu suruh waktu itu. Tapi kata dokter aku nggak papa kok. Sebenarnya waktu itu aku juga nggak ngerasa mulutku ngeluarin darah kok.”
                Rimbun tersenyum, “Aku senang mendengar kamu baik-baik aja, Jo.”
                “Rimbun, kamu nyembunyiin sesuatu dari aku kan? Aku yakin kemarin itu kamu mimisan kan? Ayolah, masa kamu nggak mau cerita ke aku,” paksa Jo.
                “Jo, kamu tu sok dong banget sih. Enggaklah, aku tu baik-baik aja..” Rimbun tertawa garing. Kini ia melihat Jo menatapnya dalam-dalam. Kedua tangannya menyentuh bahu Rimbun. “Rimbun.. Aku pengen kamu jujur sama aku, aku bisa liat itu, ka-mu nggak ba-ik ba-ik a-ja.”
                Rimbun terdiam menatap mata Jo. Ia dapat merasakan matanya mulai berair, namun ia masih berusaha menahan air itu terjatuh. Lalu beberapa menit berlalu, Rimbun menutup matanya sehingga beberapa bulir air mengalir dari sudut matanya. Jo reflek mendekap tubuh lemah kekasihnya, berharap hal itu dapat membuat Rimbun merasa lebih baik. Tidak lama kemudian, setelah lebih tenang, Rimbun melepaskan dekapan itu dan berkata, “Jo..kamu bener, aku menyembunyikan sesuatu. Aku janji akan ngasih tau kamu. Besok jam 4 sore, di depan gerbang taman minggu lalu. Aku janji, Jo..” Jo tersenyum dan mengangguk.
                Esok harinya, 15 menit sebelum waktu yang dijanjikan Jo sudah ada di gerbang taman. Anak-anak kecil bersepeda riang menyambut sore. Matahari yang masih bulat terlihat oranye di ujung barat. Suasana sore sedikit panas meskipun pepohonan di taman itu cukup rindang, mungkin karena efek pemanasan global. Jo menunggu dengan sabar, ia melihat jam tangannya menunjukkan pukul 16.46 WIB, ah mungkin Rimbun ada masalah kecil di jalan, pikir Jo.
                Tiba-tiba seorang anak gadis mendekatinya, menunjukkan padanya sebuah pemakaman di seberang gerbang taman. Aku tersenyum padanya, “ada apa, dek?”
                Gadis itu menyibakkan rambutnya dan berkata lembut, “Ada yang menyuruhku untuk mengajak kakak melihat pemakaman itu. Katanya ia ingin bertemu denganmu..” Apa mungkin Rimbun, pikir Jo. Apa yang dimaksud Rimbun ‘depan gerbang taman’ adalah kuburan? Tapi? Bayangan-bayangan negatif mulai memasuki pikiran Jo, buru-buru ia menghapus semua khayalan itu dan membiarkan gadis kecil tadi menuntunnya ke dalam area pemakaman.
                “Kakak, aku antar sampai sini saja ya. Di sana, kakak harus ke sana. Aku pergi dulu ya..,” kata gadis kecil tadi yang langsung berlari. Aku tidak mengerti, arah ‘sana’ yang ia tunjuk hanya ada sebuah galian tanah yang sepertinya akan digunakan sebagai makam. Apa maksudnya? Dimana Rimbun?
Ah handphone-ku berdering, sebuah pesan panjang dari…Rimbun?!!
                “Aku berjanji. Aku berjanji mengungkapkan semuanya padamu. Mulutku takkan berbohong. Kamu benar-benar lurus berada di depan gerbang taman sekarang, lihatlah..”
                Jo  menghadap ke belakang dan melihat bahwa tanah galian ini lurus searah dengan gerbang makam dan gerbang taman. Ia kembali menatap layar hp dan melanjutkan membaca.
                “Jo, Paijo ku sayang, aku tau ini  jahat. Maaf aku tak sanggup bertemu langsung. Tubuh lemahku sudah ada di Singapore sekarang, aku terkena kanker otak, Jo. Aku menerima berbagai pengobatan agar hidupku bisa bertahan lebih lama, bukan agar aku sembuh, aku sudah menyiapkan tanah galian ini untukku nanti. Percayalah Jo, aku mencintaimu hingga akhir hidupku. Belajarlah hidup tanpa aku. Percayalah Allah selalu bersamamu. Aku sudah menepati janjiku, Jo. Aku sudah jujur, maafkan aku..”
                Sedetik kemudian, tubuh Jo terasa lunglai dan tak berdaya. Ia merasa lemah. Tubuhnya terjatuh, terperosok ke dalam tanah galian itu. Dan semua terasa gelap baginya sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *