Rumah itu bukan punyaku.

 

Walaupun telah 30 tahun lebih aku menghuninya. Walaupun aku lahir di sana. Walaupun aku sempat mengajak anak dan istriku tinggal di sana. Walaupun banyak cerita kutabung di dalamnya. Tapi rumah itu sudah bukan lagi punyaku.

 

Rumah yang dibangun oleh jerih payah Bapak, ketabahan Ibu, serta kasih sayang keduanya padaku. Rumah yang diwariskan untukku, anak satu-satunya.

 

Rasanya baru kemarin Bapak dan Ibu meninggal lalu rumah itu akhirnya diberikan padaku. Rasanya baru kemarin istriku melahirkan dua anak kami yang pernah berlatih jalan di atas lantai rumah itu. Rasanya baru kemarin anak bungsuku lahir dan mata kecilnya mengerjap menatap langit-langit rumah itu untuk pertama kali.

 

Rasanya baru kemarin sebelum semua itu lenyap karena kesalahanku. Aku dijebak, ditipu, dan akhirnya kehilangan harta yang amat berharga. Rumah yang merekam banyak cerita.

 

Rumah itu bukan punyaku lagi. Tinggal hitungan hari, pemilik baru akan membuka cerita baru tentang bangunan itu.

 

Suatu petang hari, aku harus pergi keluar naik sepeda. Kontrakanku yang baru, bangunan sederhana yang cukup untuk kami berlima, sedikit berjarak dari rumahku yang lama. Aku sengaja memilih jalan memutar hanya untuk sebentar saja melihat lagi rumah lama itu.

 

Senyap. Gelap. Hanya ada sepintas suara decit engsel pagar yang bergoyang digoda angin. Sepertinya si pemilik baru tidak akan datang dalam waktu dekat.

 

Tiba-tiba rasanya dadaku sesak. Tanganku gemetar. Keringat dingin seketika memenuhi dahi dan leherku. Besar keinginanku untuk menyusup masuk dan melihat-lihat lagi isinya. Mungkin untuk sekilas mengenang. Berpikir hatiku akan menjadi tenang. Aku mengintip kanan kiri perlahan, memastikan situasi. Sepi.

 

Apakah mungkin?

 

Jarakku dengan pagar hanya lima, enam langkah kaki.

 

Nyaris kupenuhi keinginan itu saat nada dering mencapai telingaku. Tiba-tiba aku tersadar. Aduh, Mal, Kemal, apa yang kamu pikirkan? Langsung kuangkat ponselku.

 

“Iya, Bu, Bapak di jalan. Sudah mau sampai rumah.” Lalu kututup panggilan itu.

 

Bergegas kuraih sepeda dan menuju kontrakan. Aku mengusap keringat dingin di dahi. Anak bungsuku yang demam sudah menunggu obat yang kubawa.

 

Yogyakarta, 14 Dzulqoidah 1441