Cita-cita, Cinta, dan Cerita

Jangan, jangan pergi, wahai mimpi-mimpi. Berbagai masalah kuhadapi, tapi aku tidak mau sendiri. Berkali-kali kutemui hasrat ingin lari, “Tolong! Aku tersiksa di sini!”
Tiga kalimat di atas tertuang pada malam 4 Sya’ban lalu, tapi ndak berlanjut karena kepalaku cenat-cenut sebab bingung supaya kata-kataku saling bertaut. Tidak perlu kupanjang-panjangkan alasan mengapa kini kesulitan membuahkan tulisan. Malam itu, sebagaimana bisa dibayangkan, pada akhirnya aku menyerah dan memilih bertemu “mimpi” dalam ketidaksadaran.
Sore tadi, barusan ada yang men-trigger-ku. Materi di kelas yang menyinggung soal mental health (kesehatan mental) seketika mencubit, “Oi, Hims, tulisanmu diminta bangkit!”
Kesehatan mental. Apa ya yang terbayang? Akal yang hilang? Orang yang kurang disayang?
Jujur sahabat, apa yang kutahu tentu tidak sepenuhnya tepat. Tapi seorang pembicara idaman dalam TED Talks, Sangu Delle, mencungkil definisi dari World Health Organization yang kalau di-Indonesia-kan InsyaAllah, “kemampuan untuk menghadapi tekanan-tekanan dalam hidup, berkembang dan berjuang, serta mampu memberi kontribusi dalam masyarakat.” Mendalam dan tepat sasaran, menurutku.
Dalam sesi diskusi, sebagian besar mahasiswa termasuk aku sendiri lebih banyak berbagi soal “teman” yang mengalami masalah kesehatan mental. Dia begini, mengalami ini, kondisinya begini, masalah ini-ini. Alih-alih menemukan solusi untuk problem yang ada, kami sebetulnya lebih banyak menumpuk cerita-cerita dari fenomena yang sama. Muehehe, meski itu tidak bisa dikatakan akan percuma, bahkan bisa mengarahkan pada aksi apa yang mungkin bisa dieksekusi.
Obrolan ke sana kemari itupun diikuti oleh salah satu ungkapan sahabat yang membuat diskusi ini lebih berwarna. Sebuah kejujuran yang padaku mencipta rasa.
“Aku nggak tahu ini apa… Cuma dulu aku pernah merasa menjadi pribadi yang menyalahkan diri sendiri, pesimis, dan tidak menerima kondisi,” begitu kira-kira apa yang ia bagi. Dahiku mengerut seperti memaksa otak menemukan memori yang tidak pernah ingin kusebut, “Aku pernah mengalami rasa pesimis begitu, di kelas, di organisasi, di keluarga, nyaris di setiap lingkaran dalam hidupku.” Tertekan akan keadaan, perasaan tidak nyaman, merasa sendirian bahkan meski dalam keramaian. Aneh, tapi itu kenyataan.
Seorang sahabat, Fikri Sekar Ajeng, kemudian menimpali cerita tadi dengan, “Kupikir, semua orang pernah mengalami hal begitu.” Ya… seharusnya, sudah sepatutnya. Di awal bahkan kita disuguhkan beberapa figur selebritis, atlit, maupun tokoh-tokoh sukses yang tidak bisa dipungkiri bahwa mereka juga mengalami masalah dengan kesehatan mental. Pun Sangu Delle yang berbicara di TED Talks pun sempat menganga ketika dokternya menyarankannya mendatangi psikiatris, seolah ia mengatakan, “Heeee? Emang aku gila?” diakuinya bahwa kehidupannya dipenuhi perhatian keluarga dan teman yang setia, mana mungkin ada gangguan dengan kesehatan mentalnya?
Tapi, kenyataannya, tidak ada jaminan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan membebaskan dari masalah kesehatan. Termasuk kesehatan mental.
Pada intinya yang ingin digarisbawahi oleh pribadiku yang miskin ilmu ini adalah bahwa sebetulnya duduk perkara itu bukanlah pada kesehatan mental. Tetapi stigma kita mengenai hal itu. Banyak sahabat malu mengakui luka hatinya, berbicara soal pesimisnya, urung berbai mengenai masalahnya. Menghindarkan diri dari membicarakan tentang kesehatan mental, itu jadi masalah. Menyiksa diri dengan memendamnya dalam sepi, itu jadi masalah. Ugh, perasaan kok dipendam, hehe, diperjuangkan dong. Loh?
Ok, maaf kebablasan. Muehehe.
Apakah ada obat untuk kesehatan mental? Sebuah video vlogger menayangkan bahwa banyak orang mengatakan, “Cinta adalah obatnya!” hehe. Kok le baper kebangetan. Hihi, ndak salah, tapi jangan sampai itu jadi satu-satunya arah. Sebab sebetulnya berbagai wahana telah ada di dunia, di antaranya meditasi, konsumsi obat-obatan (sesuai petunjuk dokter), konsultasi dengan psikolog atau psikiatris, dsb. Ingat, cinta bukan satu-satunya, nggih! Bahkan meski rasanya tidak ada teman yang memberi dukungan, bukan berarti kita tidak bisa sampai pada kesembuhan. Oh, tapi menanggapi poin ini, seorang sahabat, Mbak Fajar, memberi kutipan baik di kelas, “The important thing is not making the others love you, but making you love yourself.” Ugh, it’s true!
Terakhir, kembali lagi dengan Mas Sangu Delle yang menutup pidatonya dengan paragraf indah nan menggugah, “Talk to your friends. Talk to your loved ones. Talk to health professionals. Be vulnerable. Do so with the confidence that you are not alone. Speak up if you’re struggling. Being honest about how we feel does not make us weak; it makes us human.”
Then, terakhir dari yang paling akhir, “La tahzan. Innallaha ma anna.” Jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita. Tiada perlu sedih berlarut-larut, bila kita buka betul-betul mata tentunya mampu terbaca bahwa ada yang selalu ada. Allah. Allah Yang Maha Kuasa, mengapa kita ragu memohon hal yang luar biasa? Allah Yang Maha Menentukan Segala Hal, mengapa kita khawatir akan banyak hal? Allah Yang Maha Segala-gala, mengapa kita menyerah diuji oleh yang begini saja?
Selamat bercita-cita untuk sampai pada tujuan, jangan lupa menuai cinta di setiap jalan, sebab begitulah mengapa cerita memiliki pemaknaan.
Wallahu’alam bisshowwab.
Senarai pustaka:

  1. Mesin pencari Geevv.com (yang setiap kita klik satu pencarian dihitung sebagai donasi sebesar Rp 10 untuk saudara yang membutuhkan)
  2. Oxford Advanced Learner’s Dictionary (yang baru beberapa hari lalu kuinstall lewat CD milik Lutfhia Rozanatunnisa, Sastra Inggris 2017)
  3. Transkrip TED Talks Lagos dengan pembicara Sangu Delle (yang diberi oleh tutor kelas Writing and Reading Prodi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UGM)
  4. Video berjudul “5 Mental Health Stigmas That Need to Go! | Decoded | MTV” di Youtube (yang diberi oleh tutor kelas Writing and Reading Prodi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UGM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *