Nggak nyangka udah ngesot, merangkak, berjalan, dan berlari sampai di jalur ini. Allah baik banget. Meramu semua rasa yang menyisakan peluh-peluh tanpa jenuh. Peluh yang barokah, Insya Allah. Peluh yang membuatku lebih paham pentingnya cari minum biar nggak dehidrasi. Dengan begitu aku bisa lari lagi. Peluh yang membawaku sadar akan banyak hal, merasa menemukan banyak peningkatan. Peluh yang emang membuatku tahu, “Ini susah, ini berat!” sekaligus pada akhirnya “Ternyata bisa, ternyata tinggal gini!”

Hehehe. Njuk nek wis adoh, njuk mandeg, Him?

No!

Jelas!

Apalah aku ya kan. Masih jalan-jalan keluar gang. Apalah aku ya kan. Masih terkenceng cuma berlari. Nggak ada motor, mobil, pesawat apa lagi. Apalah aku ya kan. Masih cuma bisa nyapa tetangga kanan kiri. Belum say hello sama ulama dan pejabat tinggi.

Pernah suatu kali aku nge-post di instastory atau snapgram (apalah terserah kamu nyebutnya), intinya gini, “Ketika kita dapet banyak ilmu baru, semakin sadar, kalau masih banyak hal yang kita nggak tahu.”

Di momen yang sama, sohib cantikku idaman segala bangsa, Nisrina Amalia, nyeletuk membalas story itu, “Padi semakin berisi, semakin merunduk.” Ya, nyes banget. Kita semakin merasa dapet ilmu baru, semakin perlu merendah (hatinya). Huhu.

Jadi merasa malu atas segala rasa sombong dan sok-sokan yang kadang menjadi lubang berbahaya dalam niat yang on the way ikhlas dan tulus. Muehehe. Diri ini ternyata masih kalah…. dengan banyak orang lain yang sudah melangkah lebih ke depan.

—–

Bismillah.

Sebab kita adalah kendaraan istimewa dan luar biasa, nggak kaya bis yang driver-nya mood-moodan, nggak kaya motor yang hobinya cuma nangkring terus stop nggak lanjut perjalanan. Hehe. Kita nggak biasa. Kita terlalu ajaib sebagai kendaraan. Kita nggak ada stop untuk terus berjalan. Life must go on. Apapun yang terjadi.

Macet? Yuk, cari alternatif biar bisa berobos-berobos. Berkali-kali kejebak, it is ok. Kan besok makin paham dan tahu mana jalanan yang bebas padet.

Kecelakaan? Diobati. Bawa ke puskesmas, rumah sakit, atau kemanapun terserah. Tapi, jangan lupa balik lagi ke jalanan. Jangan trauma. Kita harus tetep berjalan.

Takut begal? Pinter-pinter milih jalan makanya. Kalau ketemu ya coba nego-nego dan diajak ngobrol. Siapa tahu kan jodoh. Eh. He. Eh. He.

Diselimuti rasa sendiri dalam diri
Diselimuti hangat Ilahi dalam hati
Untuk rasa iri, cukup, saya tidak peduli
Hehe. Insya Allah

Yuk, cuskan, gaspol.

Yogyakarta, memasuki Muharram 1439

Tinggalkan Balasan