Deeply I Hope, Penafsiranku Salah Semata

Sebagaimana seseorang telah mengira, aku hanya terkulai tak berdaya.

In the name of Allah, robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa kinna adza bannar. Aamiin.

Blog adalah kamar tidur pribadi bagiku. Sebuah ruang kecil yang orang asing tiada kubolehkan masuk seenak jidat. Sebuah ruang tempatku menyimpan berbagai rahasia. Mungkin begitulah sebabnya aku (sekarang ini) lebih sering mengumbar di media lain, sedang blog sebagai tempatku mengaduh hal-hal yang memang terlalu pribadi.

(udah tau pribadi kenapa masih di-posting, Ahimsa?)

Hehe. Tanganku gatel eh. Pengen menuangkan segala keluh kesah.

(kudu banget diupload ke internet?)

Hehe, sejujurnya meskipun ini kamar yang aku huni sendiri, tetap saja aku tidak ingin benar-benar merasa “sendiri” menikmati suasananya. Ada sedikit resah dengan kata “sendiri”.

Huh. Huh. Huh. Semoga siapapun yang membaca ini bisa menjaga kerahasiaannya. Mohon sungguh-sungguh. Dan benar-benar kusemogakan kepada “seseorang” supaya terlewat bacaan ini dari pandangannya, dengan sejuta permohonan maaf; aamiin. (jangan tanya siapa seseorang ini meskipun akan kubahas ia berkali-kali di dalam sini)

Meski sejujurnya ada sekelumit harapan nakal biar ia tak sengaja membaca. Hehe.

Hmmm. Baiklah, aku mulai.

***

Aku benar-benar memulai hari ini dengan dingin yang super duper kurasakan, bahkan tetap masih terjadi di saat nyaris pukul 11.00 siang. Padahal aku sudah mandi (fyi, karena ini tumben sekali). Mmmm ya mungkin karena aku kurang gesit bergerak dan hanya berguling-guling di rumahku yang sempit (ukuran bangunannya memang begitu, namun semoga suasanya selalu terasa lapang akan kebahagiaan, aamiin) jadilah dinginnya tidak pergi-pergi.

Kuhela napas dalam-dalam.

Di tengah-tengah suasana dingin, tak sengaja mataku menemukan sesuatu yang ganjil. Cukup menggetarkan. Begitu menggemaskan. Aku terhenyak dalam sunyi. Alloh, Alloh, sebutku. Aku gemetaran.

Apa yang aku temukan ini semakin mencipta dingin yang membuatku jauh makin merinding lagi. Alloh, Alloh, sebutku. Tiba-tiba kepalaku terlempar pada sebuah ingatan akan secarik puisi yang pernah aku torehkan. Puisi yang juga menggetarkan tentu saja.

Puisi ini soal perasaan yang tumpah ruah tanpa aku pahami maksudnya. Perasaan apa dan kenapa harus ada, jujur saja, itu tidak jelas sebenarnya.

Puisi itu ya Allah, puisiku, aku gemetar mengingatnya.

Aku yakin puisi itu ditulis bukan tanpa maksud. Ia tertuang karena sebuah rangsang. Ia tertoreh karena ada yang meleleh. Aku menelan ludah mengingat nama siapa yang mungkin saja ada di balik puisiku. Aku takut. Kalut. Tiada baik kupikirkan karena ada banyak ketidakpastian yang tak terelakkan bila mana kulanjutkan.

Ketika aku menulis puisi itu …

Ada yang melawan. Ada yang tertawan. Ada yang rawan. Allohumma! Batinku lah yang melawan. Batinku juga yang tertawan. Bahkan, batinku juga yang terasa rawan.

Siapapun nama yang ada di balik sana, aku tidak pantas mengingatnya. Apalagi menyebutnya. Aku malu ya Allah, aku malu pada-Mu! Aku malu atas apa yang kulakukan, apa yang batinku bisikkan, apa yang apa menjadi apa sekarang. Itu adalah sebuah ketidakwarasan mengingat banyak hal yang kubuat karam di masa lalu (sedang tentu saja dia tidak tahu). Itu adalah sebuah kekurangajaran mengingat banyak dariku yang belum kupenuhi untuk-Mu.

Alloh, Alloh, sebutku. Puisi ini tersuguh dari apa yang berlalu di kepalaku, maafkan aku bila benar tersirat sesuatu yang tak patut. Oh, ya Alloh. Bahkan setelah berhari-hari, berminggu-minggu, hingga melewati beberapa bulan … tiada apapun yang terjadi sebelum rasa takutku bertemu dengan apa yang hari ini kutemukan.

Sesuatu yang membuatku bungkam.

Balasan kah ini? Atau lebih cocok kubilang “sesuatu yang dengan penafsiran bodoh dan baper kunamai sebagai balasan”?

Memang harusnya aku lega. Memang harusnya aku bahagia. Memang harusnya aku senang sekali. Memang harusnya. Harusnya. Harusnya!

Tapi nggak.

Aku kalut. Ini nyebai. Haduh ya Allah ngopo kudu ngene ki. Payah sekali. Alloh, Alloh, aku ingin mendekap-Mu. Aku cemas. Aku gemas. Rasanya lemas. Aku merasa bersalah. Tegakah aku menggulingkannya hingga terjerembab ke liang kepedihan? Tegakah aku lagi-lagi melakukan kesalahan?

Sungguh bila seseorang itu tahu di balik punggungku ada jalan rusak yang mengusang, niscaya ia akan ragu. Mmm, atau mungkin lebih dari itu, ia memilih undur diri tanpa salam.

Aku hanya bisa mengambil tempat di pojok ruangan. Memeluk lutut. Mengambil napas dalam-dalam.

(Ahimsa, lalu sungguh-sungguhkah puisi itu?)

Oh my Allah … Berhentilah! Cukup! Aku sudah cukup kedinginan usai menemukan “sesuatu” itu. Aku sudah cukup! Tidak perlu ditambah dengan pertanyaan yang semakin membuat getir jari-jari kakiku.

Apa salahnya bila aku tidak menjawab? Karena aku yakin ini hanya akan membuatku berhenti dari lari. Bukan lari melarikan diri, melainkan mencari-cari sesuatu yang hakiki untuk kunamai sebagai pondasi. Dan dengan begini sosok itu bisa lebih leluasa menemui rahasia-rahasia ilahi, mungkin juga kisah asmaranya yang pasti (bila memang aku bukan jalannya).

(Ahimsa, lalu apa yang kamu lalukan terhadap “nya” kemudian?)

Alloh, Alloh, berikan aku ketangguhan. Akan kunikmati segala pedih perih dan suka cita yang Engkau siramkan ke tubuh ringkih ini. Karena apa? Karena aku tiada tahu keasyikan-Mu untuk menukar-nukar apa air siraman itu.

Tidak perlu kugapai-gapai masa depan yang “pokok e ngono, nek ora ngono ora”. Huuuuh. Kubiarkan semua ini terlewati atau tetap berhuni di sini. Alloh, Alloh, terima kasih atas nikmat yang banyak.

Susah payah kubunuh rasa berbinar yang terpancar dari batinku sendiri. Semoga semua tulisanku ini berasal muasal dari penafsiran yang salah dan kebangetan. Sehingga bila mana pesan ini tersampaikan (lagi) lewat angin, biarlah ini tidak memahamkan dirinya. Semoga. Aamiin.

Yogyakarta, 13 Syawal 1438

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *