Demi Palembang, Kuterobos Gelap Langit

“WEEEH!!! Kita besok berangkatnya …. naik pesawat????”

 

“Iyaaaa,” muncul jawaban itu dari Pak Jundul. Langsung dug, dug, dug. “Jangan bilang, ini pertama kalinya kamu naik pesawat.”

 

Dari seluruh karya filem yang pernah kutonton, tidak pernah ada ‘adegan penerbangan pesawat’ yang terus melekat kuingat kecuali di dua filem. Filem pertama, aku tidak begitu ingat judulnya, hehe. Tapi, aku ingat betul adegan-adegannya. Karena, film itu bercerita soal kejadian horor di dalam pesawat, sadis, tragis, miris, hishhh. Tahulah yaa, filem yang sekali nonton, seremnya nggak mudah diusir dari bayangan! Nah, filem kedua, Habibie Ainun…. Nggak bisa dipungkiri, memang filem ini begitu merengkuh ketertarikanku. Baik dari aktor utamanya yang ganteng, ehehe, sampai alur dan nilai moral yang dibungkus mateng.

 

Karena kesemsem filem Habibie Ainun nih, aku dari dulu sering sekali membayangkan kalau keinginan nyicipin pergi jauh naik pesawat itu kemungkinan baru akan terpenuhi nantinya di masa mendatang bersama sosok yang sudah sah jadi gandengan. (buahaha, please banget jangan ketawa). Itu bayangan yang masih bertahan sampai kira-kira awal tahun ini, meskipun udah agak-agak tergerus sih pasalnya mimpiku untuk keluar dari kampung halaman makin tinggi mengudara. Mimpi terbang naik pesawat pertama kayak Habibie Ainun itu akhirnya sah dinyatakan BUBAR dengan hadirnya satu momen di akhir bulan April lalu.

 

Rapat Kerja Nasional Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (Rakernas PP IPM) menjadi sebuah momen yang tidak diduga-duga mempersilahkanku mencicipi rasanya naik pesawat. Tidak diragukan lagi, emang IPM nih terlalu banyak memberi, bahkan ketika aku merasa sangat minim kontribusi. Uwuuwww.

 

Here we go! Palembang! Kotamu selalu mengingatkan pada kapal selam dan lenjer enak yang sering kita sebut pempek. Malam itu aku bersama rombongan PW IPM DIY, Pak Jundul, Pak Bon, dan Bunda Laila juga ada sahabat Abyan dan Fanindya berkumpul di bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Dalam hitungan yang tidak lama, kami segera bisa menikmati pangkuan kursi pesawat AirAsia. Mmmm, enak juga! Aku ambil posisi di dekat jendela, posisi yang paling kusuka. Suasana melankolis seolah bersumber di sana. Awalnya, kupikir berangkat malam dengan hanya menatap langit gelap tidak mengasyikkan sama sekali. Tapi ternyata aku keliru, mataku berbinar menatap kota di bawahku yang merupa gugusan bintang-bintang. Mereka merupakan jelmaan lampu-lampu rumah dan gedung-gedung megah, juga kendaraan yang berlalu lalang singgah.

 

Seruan “Waaaaa, indahhhh!” segera beralih jadi “UWADUUUUHHH!” tatkala kurasakan ada suara dengungan entah dari mana yang membuat telingaku berdengung seketika. Di samping kiriku, bunda Laila, yang di sampingnya ialah bapak Jundul, memberi saran supaya aku berusaha menelan-nelan ludah demi mengalihkan perhatian. Waw, ternyata itu cukup membantu. Di sini, baru bisa merasakan apa yang disebut-sebut oleh banyak orang seperti judul novel Ika Natassa, critical eleven. Momen take off pesawat yang dibilang kritis! Sampe telinga sakit! Deg-degan pula!

 

Begitu deh, kira-kira pengalaman pertama naik pesawat. Rada-rada ndeso gimana gitu. Hingga saat mendarat, seorang senior yang belum kukenal saat itu di pesawat, segera menyapa kami, “Hoyyy, kamu yang tadi pertama kali naik pesawat itu yaaa! Heboh amat!” yang segera kutimpali dengan tawa malu sekaligus bangga. Lucu juga yaaa, hal-hal sesederhana itu bisa membuka ruang interaksi. Hihihi.

 

***

 

Kalau boleh jujur, perjalanan menuju Palembang menjadi sangat seru karena pengalaman baru untukku naik pesawat. Selebihnya, selama di Palembang, tidak bagus-bagus amat. Bukan karena Palembang tidak keren. Absolutely, no. Melainkan rasanya aku begitu banyak menyia-nyiakan waktu untuk leyeh-leyeh dan kurang mengusahakan untuk tahu Palembang lebih banyak. Sungguh, itu patut disayangkan. Bahkan nyicipin pempek langsung aja nggak. Aku cuma beli mentahannya lalu kumasak sendiri di rumah. Hadeeewww, emang kurang persiapan banget dah!

 

Tetapi, yah, tidak bisa dibohongi, kekagumanku pada Palembang tetap mengembang. Suasana kota yang damai, sungai besar, dan peradaban yang rukun membuatku terkesan. Khusus hari terakhir di Palembang, aku betul-betul sangat bersyukur karena berkesempatan mengarungi sungai Musi yang membentang indah. Di sana, badan-badan kapal raksasa bergoyang-ygoyang pelan bersamaan dngam ombak-ombak kecil yang usil mencari perhatian. Kapal itu sebagian masih mengkilat, ada yang sudah agak berkarat. Tapi kesemuanya kokoh, menghadap ke arah perahu yang kutumpangi, mereka seolah berkata, “Kamilah tuan rumah sungai ini!” Dari seorang pengemudi perahu, banyak cerita kudapat soal kapal-kapal ini. Ada yang mengangkut batu bara, tambang, dan sebagainya. Beliau juga menyampaikan betapa beragamnya permukiman di pinggir sungai. Ada permukiman tionghoa, arab, melayu, dan sebagainya yang meski darah warganya tidak langsung bertalian tapi bisa hidup bersandingan. Hangat sekali membayangkan hal itu terjadi.

 

Berikut akan aku bagi perjalanan apa saja yang sempat kucicipi:

 

1. Jembatan Ampera dan Sungai Musi

Jembatan tua ini dulu bisa dinaik turunin kata sang bapak pengemudi perahu, fungsinya untuk lalu lintas kapal dagang antar bangsa dahulu. Tetapi sekarang sudah enggak. Mobil dan motor kini menggunakan jembatan untuk dijadikan akses jalan. Jembatan ini ada di atas Sungai Musi. Sungai yang terkenal tadi.

 

2. Pulau Kemaro

Ada sebuah pagoda dan makam di dalam kompleksnya. Tempat ini menyuguhkan sebuah cerita mitos juga lho teman-teman, cerita tragis mengenai sebuah pasangan. Kalau mau tahu, cicipinlah, hihi kulupa ceritanya juga soalnya. Besok kalian ceritain ulang ke aku yaa.

 

3. Naik MRT (mass-rapid train)

Setelah jadi tuan rumah ASEAN GAMES kemarin, Indonesia berhasil menyulap Palembang yang udah keren secara industri, jadi makin cihuy masalah transportasi. Salah satunya dengan hadirnya MRT ini yang bisa ditumpangi hanya dengan harga Rp  5.000,00 kalau tidak salah. MasyaAllah-nya ya, Sobat, keempat perwakilan dari IPM DIY ini mendapat LO yang baikkk banget. Sampe-sampe ikhlas bayarin kita naik MRT. Barakallah, Mas!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Belanja Pempek Candy

Untuk memuaskan diri, bareng temen-temen IPM aku belanja oleh-oleh pempek. Biarpun belum nyicipin makanannya langsung di lokasinya, minimal bawalah dulu ke rumah. Eheheee. Pempek Candy (katanya) termasuk salah satu yang ternama dan bermerk, lengkap, dan kuakui enak, Sobat. Meskipun secara harga ya memang tidak biasa, tapi worth it dengan melihat kualitasnya.

 

Begitulah teman-teman sekilas yang bisa kuceritakan soal Palembang. Kota ini kuhampiri dan kutinggalkan dengan pesawat terbang, dan kebetulan sekali keduanya pada saat gelap malam. Mungkin Allah swt meridhoiku untuk menikmati bintang-bintang lebih banyak malam itu. Alhamdulillah. Sampai jumpa, Palembang! Salam yaa buat istri. Hehehehe.

 

Si Palembang nanya, “Haaa? Istriii?”

 

Aku terkekeh, “Iyaa. Bu Lembang. Buahaha!”

 

Palembang memicingkan mata. Sebuah apresiasi yang tepat untuk leluconku barusan.

 

Muehehe, bangga aku sudah berusaha mengerjai Palembang. Hihihi, maaf yaa, nggak jelas sekali.

 

Akhir kata, terima kasih pengalamannya, Palembang! Tentu tulisan ini masih banyak yang kurang sebab ingatanku tercecer. Huhuu. Jangan diikuti yaa, orang yang sukanya (masih) nunda-nunda. Niatnya nulis dari 2 bulan lalu dan baru sekarang dikhatamkan. Kutipan yang dipajang oleh seorang teman di status Whatsapp-nya cukup menyentilku sih, “Kebaikan jika tidak segera dijemput, ia akan beranjak pergi. Kemaksiatan jika tak segera ditolak, ia pasti akan menghampiri.” Huehuee. Selamat belajar bersikap tegas baik kepada kebaikan maupun kemaksiatan!

 

Yogyakarta, 24 Syawal 1440

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *