Selamat dan semangat merayakan kehidupan #dirumahaja, Sahabat semua. Kalau kamu mulai bosen atau suntuk, tos dulu! Kita samaaak. Hihii. Tapi, barang pasti kita selalu tahu, bahwa hal apapun datang membawa hikmah ye kan. Hikmahnya seperti apa, nah, itu yang perlu kita temukan atau—lebih tepatnya—kita ciptakan (?).

 

Foto di Museum Dewantara Kirti Griya

 

Sebagai sebuah pembuka, ada satu kutipan yang aku inget dipublikasikan di snapgram seorang teman. Dia mencukil kata-kata teman lain sebenarnya. Kira-kira begini bunyinya, “Saat kamu sedang bahagia, menulislah. Nanti di saat kamu merasa sedih, kamu bisa membacanya lagi dan ingat bahwa kamu pernah sebahagia itu.” Uwuu. Melelehlah apa yang padat di kalbuku.

 

Hihii, yah, insyaAllah ini lagi bahagia, jadi aku menulis ya. Semoga kamu jadi tertular juga. Uwuwu.

 

Awal masuk kuliah dulu, aku pernah cukup membuat heboh grup angkatan fakultas. Untuk alasan yang sebenarnya terlihat remeh. Pasalnya, aku baru saja kehilangan sebuah kitab Al-Qur’an di kampus, huehue. Lebay sih emang kalau sampai heboh. Kek kesannya ukhti alim banget gitu yak? Wkwk, aamiin. Tapi, sejujurnya aku heboh banget dan sampai buat publikasi ala-ala pengumuman kehilangan dan sayembara bagi siapapun yang menemukan yaaa karena Al-Qur’an itu berarti banget. Hehe, kebetulan pemberian seseorang. Uwuwuu. Hehehe.

 

Orang-orang pada ribut komentar, “Walahhhh, mbok beli aja yang baru!” Hueeee, andai memang semudah itu. Tapi… yo nggak bisa je, aku bener-bener pengen nemuin yang itu, yang ilang. Huehuee. Tapi, yaudah, akhirnya berhari-hari kemudian aku belum bisa nemu barangnya. Sampai sekarang.

 

Di lain waktu, di kelas Sastra Dunia, seorang dosen yang selalu membuat berpikir, namanya Pak Munjid, pernah meninggalkan pesan yang begitu berkesan. Saat itu, diskusi kami ialah sebuah karya Yasunari Kawabata berjudul A Thousand Cranes. Ceritanya berlatar Jepang dan banyak memainkan simbol-simbol dari tradisi Jepang. Salah satunya yang menarik  adalah soal mangkuk. Di dalam cerita, mangkuk ini berhasil mengaitkan interaksi antar beberapa tokoh. Wididiw, mangkuk ajaib po? Hehehe, bukan.

 

Rupanya, orang Jepang dulunya emang suka menyimpan benda-benda unik seperti mangkuk, cangkir, atau semacamnya. Biasanya tiap orang mengoleksinya sebagai barang pribadinya.

 

Sebuah mangkuk milik seorang pria yang sudah almarhum menjadi salah satu fokus di cerita Kawabata. Mangkuk ini sempat berada dalam sebuah acara seremoni minum teh di mana para karakter sedang berkumpul. Meski mangkuk itu sebagaimana benda mati lainnya, hanya bisa diam dan tidak bicara, tapi tampak beberapa tokoh terlihat sangat terusik dengan keberadaannya. Di antaranya, anak si almarhum dan selingkuhan almarhum saat hidup dulu. Mereka memperhatikan mangkuk itu begitu lekat. Berbeda dengan tokoh yang lain, yang nggak tahu cerita di balik mangkuk itu. Mereka biasa aja. Meski turut serta menyentuh dan memindahkannya, mereka sama sekali tidak menganggapnya sebagai benda berarti. Hanya mangkuk. Itu saja.

 

Hmmm, menyimak hal itu aku jadi betul-betul menyadari bahwa setiap hal yang kita dapati dalam hidup ini pada dasarnya selalu punya cerita. Setiap benda punya cerita. Barang-barang yang bagi orang lain terlihat biasa, mungkin punya cerita menarik bagi orang lainnya. Mungkin sepasang sepatu atau kaus oblong yang bagi orang lain tampak biasa, tapi bagi kita luar biasa karena orang yang memberikannya atau kenangan yang ada pada saat memakainya. Menarik ya? Hehehe.

 

Oiya, awal tahun ini, aku baru saja mendapat medan pembelajaran baru sebagai Duta Museum DIY untuk Museum Dewantara Kirti Griya, museum-nya Ki Hadjar Dewantara. Di sini, jadi inget lagi bahasan di kelas Pak Munjid itu. Benda-benda yang tampaknya biasa—bahkan kadang dianggap sudah tua dan kuno, tersimpan di museum untuk dijaga dan dirawat bukan karena alasan selow atau gabut semata. Tapi, karena para pendirinya dulu tahu dan yakin, benda-benda ini punya cerita. Benda-benda ini punya peran dalam di masa lalu. Benda-benda ini punya nilai sejarah. Uwuuu.

 

Bagaimanapun, ya itu tadi, balik lagi ke cerita-nya Kawabata. Orang-orang yang peka dan paham bagaimana menghormati benda-benda itu, hanya yang paham dengan cetitanya. Ia akan merasakan pentingnya kehadiran benda-benda itu. Nah ya, mungkin untuk menemukan makna dan hikmah ceritanya, kita harus berusaha untuk mencaritahunya. Untuk mendengar ceritanya. Lawan sastra ngesti mulya, kalau kata Ki Hadjar Dewantara. Dengan pengetahuan, kita menuju kemuliaan.

 

Yogyakarta, 9 Sya’ban 1441