Ditinggal ke Lamongan (Notes on 5 Rabbiul Akhir 1439)

This long distance is killing me, kata Bruno Mars. Lagu yang menggema-gema di masa SMP kalau nggak salah. Ugh. Sehabis dua bocah yang senang membaperkan berpamitan, lagu inilah yang segera mengisi telingaku lewat headset.

Serius, ini tanpa sengaja. And to make sure that no one thinks about other perceptions, I just can state, diriku tiada maksud apa-apa. Hehe. Bismillah.

“Mbak, aku pamit dulu ya,” seru si kecil, dek Sobat, bersemangat sekali dengan petualangannya kali ini. Ke Lamongan, Jawa Timur. Ah, for me it has been too long time after the last time I went there. And, hey, when was it exactly? I am not sure.

Lucu sekali dia menyalamiku. “Sun dulu, sun dulu,” pintaku. Kataku, “Aneh ya. Biasanya Mbak yang pamitan. Sekarang, kamu.”

“Kan gantian.”

Lalu dek Juang juga ikut menyalamiku. Harusnya dia cium tanganku, eh, itu malah menyodorkan punggung tangannya ke wajahku. Haha, dasar.

Lucu sekali momen ini. Allohu, Desember terlalu syahdu. Aku ingin menyeka tangis, tapi baru sadar bila sedari tadi aku memang tidak menangis. Cuma meringis.

Mereka gembira akan membonceng Pakde Agus dan Bude Entin menemani eyang ke Lamongan. Haduh, meski kupaham yang membuat mereka lebih bersemangat lagi adalah Mas Fadli dan Mas Ihsan. Dasar manusia, ketemu sejenisnya langsung saja ceria. Gamer cari gamer.

“Jangan kangen!” seruku di luar kaca mobil. Seperti meneriaki diriku sendiri, lebih tepatnya.

Haduh, adik-adik sholehku. Semoga kamu temui bahagia di setiap perjalanan, ilmu yang barokah dan pengalaman yang menggugah. Jangan ngerepotin eyang sama Pakde, Bude. Semangat punya hati yang gedhe.

Belajar dari Aang yang selalu sederhana dan menjadi diri sendiri di tiap keadaan. Belajar dari Katara yang selalu sabar dan mencoba dewasa di setiap permasalahan. Belajar dari Soka yang selalu percaya diri dan berani menggugat kekeliruan. Belajar dari Toph yang santai tapi tegas di waktu bersamaan. Belajar dari Zuko yang mau berupaya keras demi mencapai keinginan.

Bismillahi tawaqqaltu alallahi, laa haula wa laa quwwata illaa billah. Hati-hati di jalan. Besok pulang sama-sama bawa oleh-oleh ya?

Yogyakarta,  5 Rabbiul Akhir 1439

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *