Kutemukan pada laman surel (surat elektronik), rupanya terdapat sederet draf yang belum dikirim. Sembilan biji entah mengapa belum kukirim, mungkin terlewat. Satu biji sengaja belum terkirim, muehehe. Dan, ternyata, ada dua yang bahkan tidak tertulis siapa nanti penerimanya.

Salah satu dari dua itu adalah foto-foto di akhir masa Sekolah Menengah Pertama, sedang satunya lagi adalah… curahanku pada bulan Maret lalu. Rasanya merasuk sekali saat kubaca lagi.

***

Tangisku tumpah ruah sebab mental yang sedang dilatih oleh Allah menghadapi cobaan tak kenal lelah. Maka, menyalahkan seorang pribadi (termasuk diri sendiri) maupun kondisi bukanlah solusi. Ini tentunya membutuhkan kebijaksanaan. Meskipun mendapatkannya aku butuh waktu yang lumayan.

Aku sudah memantapkan untuk tidak sampai pada kebocoran. Namun waduk di pelupuk mata sudah tak mampu bertahan. Jadilah dalam sekejap semua sudah basah oleh tangisan. Beruntung di rumah sepi, rasa penasaran dari Babe dan Ibu bisa kuhindari. Tapi itu tertangkap basah oleh si kecil yang diam-diam hatinya lembut sekali.
Dia tidak ingin mengganggu kekhusyu’anku menangis. Ia menuju adikku yang lebih dewasa dan menyerukan, “Mbak Wardah menangis.” Tapi si Mas-nya setengah tidak percaya. Aku segera menggapai kamar dan menenggelamkan wajah. Tidak mau tertangkap basah bahwa aku pribadi yang lemah. Aku kakak keduanya, bagaimana mungkin mau kuruntuhkan wajahku di depan keduanya? Aku harus (terlihat) kuat demi mereka berdua.
Tersimpan di draf sejak 27 Maret lalu.

Tinggalkan Balasan