[DRAMA] One Liter of Tears dan Sebuah Kenyataan

SEORANG AYA, ONE LITER OF TEARS
Mungkin tidak banyak yang pernah mendengar drama yang satu ini, One Liter of Tears. Sebuah drama Jepang yang berkisah pilu tentang seorang gadis yang harus melalui masa-masa sulit karena penyakit yang dideritanya. Mmm, jujur saja, aku tidak yakin itu bisa dikatakan penyakit, karena beberapa pihak pun setuju untuk menyebutnya hanya sebagai penurunan fungsi atau kemampuan kerja syaraf. Silahkan, menyebutnya sebagai Ataksia (Ataxia) atau degeneratif syaraf.

Hmm, bosen ya dengan cerita-cerita yang kayanya cuma memancing tangis dari penyakit-penyakit mengerikan? Menurut kamu begitu, silahkan deh menonton drama satu ini, meskipun termasuk drama lama tapi “penyakit” yang diusung di sini begitu berbeda dan mungkin dapat menjadi pengetahuan tambahan untuk kita. Biarlah alasan mengapa judul entri ini kusematkan dua buah kata “Sebuah Kenyataan” akan tersampaikan secara penuh di akhir pembahasan. Insya Allah.

Sebagai selingan saja, kusampaikan kalau ada sedikit kecewa dalam benakku. Sayang sekali, beberapa teman kita (warga Indonesia) sebagiannya masih senang menduplikasi atau menjiplak plek karya orang lain, seperti yang satu ini. Lagi-lagi Indonesia memakai alur drama One Liter of Tears dalam sinetron yang dimainkan Mbak Chelsea Olivia dan Mas Glenn Alinskie berjudul Buku Harian Nayla sekitar 2006 lalu. Tentu patut disayangkan mengingat betapa banyaknya sumber daya manusia Indonesia yang kreatif dan inovatif demi memproduksi karya-karya hebat yang mungkin lebih spektakuler lagi. Sekali lagi aku tekankan, ini hanyalah sebuah selingan, hehehe.

Kembali kita mengupas kisah One Liter of Tears.

Gadis yang mengidap ataksia ini, hmm, sebelum itu semua terjadi kita akan mengenalnya sebagai seseorang yang ramah, baik hati, pemberani, percaya diri, dan hal-hal positif lain yang sepertinya mencerahkan hari-harinya. Mungkin ia tidak kaya, ditilik dari orang tuanya yang sangat sederhana, keluarga pembuat tahu. Tetapi gadis ini tidak pernah mengeluh, bahkan sangat bangga. Kita akan mengenalnya sebagai…..Aya Ikeuchi.

Aya yang menjadi atlet kebanggaan tim basket sekolahnya, menjadi teman yang baik untuk orang-orang di sekitarnya, bahkan seorang senior yang dikaguminya sampai ikut terpana olehnya. Hmm, goal story begitu deh pokoknya.

Di tengah harum bunga dan wangi rumput yang basah, di bawah terik mentari yang cukup menghangatkan, di antara keceriaan dan keriangan, sebuah badai datang tak terelakkan.

Ataksia. Apa itu?

Belakangan Aya merasa dirinya sering sekali jatuh tanpa sebab.

KESEIMBANGAN – FOKUS – KEHATI-HATIAN

KEMANA PERGINYA?

Belakangan ketika Aya berjalan maupun berlari ia dapat terjatuh tanpa alasan. Meskipun ketika itu ia mengetahui bahwa tubuhnya akan terjatuh tapi tetap saja langkahnya tak ingin berhenti, lalu betulah, ia jatuh. Ketika Aya menyadari adanya sebuah batu atau benda asing yang dapat mengganggu jalannya, langkahnya pun terus bergerak, dan tentu saja, ia jatuh juga. Aya merasa otaknya telah memberi kode peringatan hati-hati atau eh stop dulu kepada alat geraknya, tetapi si badan tidak sinkron dengan perintah itu. Badannya tidak mendengar peringatan kepala. Jadilah jatuh.

Orang Jepang. Udah tahu lah ya kalau orang Jepang senang makan pakai sumpit. Aneh dong kalau melihat para Jejepangan tapi nggak bisa memakai sumpit. Nah, belakangan Aya merasa kesulitan menggunakan sumpit. Ia tidak bisa menangkap makanannya dengan sumpit, hingga si adik berkata, “Kak Aya benar-benar ceroboh ya.”

Dan berbagai hal sederhana lainnya.

Ini masih tanda. Masih cukup awal untuk menjadi gejala Ataksia. Siapa yang tahu kalau itu akan berakhir parah?

Pada suatu ketika, Aya terjatuh saat hendak berangkat ke sekolah dan sayangnya lukanya agak parah sehingga perlu dibawa ke rumah sakit. Inilah saat diagnosa itu muncul. Seorang dokter nyinyir menyebut, “Ataksia, belum ada obatnya.”

Aya mulai melalui berbagai terapi seadanya yang sebenarnya mungkin tidak menyembuhkannya, namun hanya “menghambat” perjalanan Ataksia.

Lambat laun konsentrasi Aya semakin menurun, kesulitan berjalan, kadang berbicara juga susah, pada akhirnya ia juga mengalami kesulitan untuk menelan. Semakin parah, bahkan hingga harus berakhir di tempat tidur setiap hari. Belum lagi memikirkan respon teman-teman sekitarnya yang jauh dari peduli, lebih-lebih banyak dari mereka yang memandang Aya sebagai gadis cacat yang mengganggu kegiatan belajar mengajar kelasnya. Termasuk masalah keuangan keluarga dan sebagainya berkenaan dengan pengobatannya.

Seluruh kisahnya selalu diabadikan dalam sebuah buku harian sederhana yang pada akhirnya menjadi salah satu pendukung dibuatnya drama ini, One Litre of Tears. Meskipun mungkin buku tersebut tidak hingga usai umurnya karena beberapa waktu di tengah sakitnya ia sudah tak dapat lagi menggenggam pensil. Aya, gadis 15 tahun dengan penyakitnya yang mengerikan, berhasil bertahan hingga di umurnya yang ke-25.

SEBUAH KENYATAAN
Aku jarang sekali menemui kenyataan yang nyaris mirip dengan sebuah film, terkhusus untuk film-film seperti ini. Penyakit Ataksia? Yang benar saja, memangnya ada? Memang ada penyakit semengerikan itu yang menyisakan sebuah tubuh kurus di atas kasur yang tak berdaya untuk berbuat apa. Ada?

Ya, ada.

Rasya, salah satu korban iklanku untuk menonton drama ini. Beberapa waktu yang lalu ia berkisah soal temannya yang dikenalnya lewat sosial media.

“Dia cerita beberapa gejala yang ngingetin aku ke One Liter of Tears, jadi aku bilang ke dia untuk check-up,” serunya. “Terus…dia periksa…”

Aku dan Fatma, satu korbanku lainnya, merasa panas-dingin dengan cerita ini. “Bener, dia kena Ataksia.”

Kalimat yang membunuh.

Kenyataan yang membunuh.

Adakah manusia yang dapat melalui ini dengan sabarnya? Setidaknya selama apa yang bisa dilakukan oleh Aya, setidaknya begitu.

“Tapi dia nggak bisa cerita ke orang tuanya…”

“…keluarganya lagi bermasalah, dia jadi pesimis, takut bawa masalah baru…”

Aku merasa miris. Apakah kehidupan sekejam ini?

Tapi, Allah swt pernah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 286 yaitu, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Maka semoga Allah swt memberikannya kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian yang dihadapkan pada gadis itu. Semoga ia dimudahkan dan urusannya dilancarkan, bagaimanapun, semoga apa yang diberikan oleh Allah swt tentu itu yang terbaik.

Karena aku hanya bisa menyapa lewat doa, maafkan aku, temannya Rasya. Saranghaeyo!

14 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *