Bagi orang-orang yang semangatnya ‘mut-mutan’, alias kadang kaku kadang semutan, kayak aku, bertemu dengan orang-orang besar menjadi serasa pijetan: enak dan menyegarkan. Senang sekali, alhamdulillah di hari Jumat barokah masih diridhoi bernapas dan masuk kelas. Hari ini spesial sekali, selain karena mata kuliah Realist Naturalist Literature diliburkan, juga karena kami kedatangan sesosok alumni nan menakjubkan.

 

 

Beliau, kalau boleh disapa kakanda, ialah Kanda Mohammad Wahid Supriyadi, seorang duta besar (dubes) Republik Indonesia untuk Negara Rusia. Nah, kapan lagi kan bisa berinteraksi dan belajar langsung dari seorang dubes? Beliau alumni Sastra Inggris tahun 1983 dan melanjutkan kuliah di Melbourne, Australia hingga lulus pada tahun 2000.

 

Senangnya lagi dengan sosok seperti beliau adalah kesederhanaannya. Dengan penuh percaya diri, Kanda Wahid bercerita bahwa ia berasal dari ‘kampung’ di Kebumen. Seru sekali ketika beliau menuturkan beberapa patah kata dengan dialek ngapak.

 

Berikut kusampaikan beberapa catatan yang bisa kurangkum dari ceritanya:

 

Riwayat Hidup Singkat

Born at Kebumen
SMA Purworejo, jurusan bahasa
1978 entering English Department in UGM
1983 graduated from English Department in UGM
2000 Certificate of Applied Business, Swinburne University of Technology, Melbourne

*sebagian diambil dari sini.

 

Dari kecil beliau mengaku sudah sering baca koran dan berita soal diplomasi, apalagi kalau ada Adam Malik. Mmm, mirip-mirip ya kita, kalau aku sih sukanya denger Zain Malik. Apa sih? Hehe, nice info kan.

 

Waktu SMA, sebagai ketua kelas beliau pernah memanas-manasi teman-temannya dengan bilang, “Jangan sampai pengetahuan bahasa kita kalah sama anak IPA atau IPS.” Ini jadi mengingatkanku pada kalimat di The Land of Five Towers karya Ahmad Fuadi, saajtahidu fauqa mustawa al-akhar, “fight harder than the rest”. Buktikan kelebihan kita dari orang pada umumnya. Nyinggung aku banget dah, belum ngapa-ngapain nih.

 

Cita-cita beliau dulu pengen jadi dalang, kemungkinan karena bawaan kultur kampung yang—dengan nada bercanda beliau berseru—dikenal bisa punya istri cantik yang banyak wkwk. Di Sastra Inggris dulu isinya sekelas hanya 26 orang, beberapa waktu selanjutnya berkurang jadi 15 orang, terus pas lulus cuma 6 orang. WAAA. Huehue, kata beliau, Sastra Inggris termasuk salah satu jurusan yang paling sulit meluluskan mahasiswa, selain jurusan Teknik Nuklir. WAAA, lagi.

 

Dulu, dubes itu, beliau membahasakan, adalah orang ‘baik’ yang dikirim keluar negeri untuk ‘berbohong’ soal negaranya. Itu, dulu. Maksudnya gimana? Hehe, aku masih ngawang sih. Kata beliau, sekarang sudah beda. Sekilas soal duta besar nih beliau nyampein kalau sebetulnya banyak alumni Sastra Inggris yang jadi diplomat. Tapi sayangnya, tidak semua diplomat bisa jadi dubes. Itu bukan perkara mudah. Beliau bahkan menegaskan, “Ini bukan karena saya hebat.” Melainkan karena adanya idealisme yang kuat dan adanya dedikasi yang bisa diberikan. Sebenernya kelemahan pendidikan kita adalah pada debat, kita selama ini kurang diajarin itu. Menurut beliau, hal ini perlu dilatih. Diplomat kan harus outstanding. Beliau menyayangkan, alumni kita banyak yang diplomat tapi kurang bisa bersuara.

 

Oh iya, buat aku ini info baru sih. Ternyata, Rusia memiliki jumlah warga muslim terbesar di Eropa dibanding negara lain.

 

Soal kunci sukses, beliau mengutip penjelasan Stanley. Syarat pertama adalah kejujuran. Networking juga penting, ada di peringkat ketiga. Dalam perusahaan multinasional, 75% orang lulus seleksi pendaftaran kerja karena networking. Ugh, penting kan punya teman buanyak. Hanya 25% lho yang lulus berdasarkan tes beneran. Sedangkan, faktor IPK? Hadeeeh, nggak usah ditanya. Itu ada di peringkat ke-30. Nah, kan, jangan galau IPK-nya ancur, jangan mundur.

 

Kekuatan bangsa kita adalah pada budaya. Tidak ada negara yang seberaneka ragam Indonesia. Pernah beliau ditanya, “Bagaimana Indonesia bisa bertahan sampai sekarang?” Dijawab oleh beliau bahwa kita punya ‘sumpah’ yang disusun oleh banyak pemuda dari berbagai daerah di Indonesia. Satu contoh persatuan adalah pada pemilihan bahasa nasional yang ditulis di dalam sumpah tersebut. Bahasa nasional yang dipilih bukanlah bahasa milik mayoritas, bukan bahasa Jawa, atau yang lainnya. Tapi, kita punya bahasa Indonesia yang harapannya mudah untuk dipakai oleh masyarakat Indonesia seluruhnya. Kita kaya akan keanekaragaman budaya, tapi juga mau menjaga persatuannya. Oh iya, by the way, Kanda Wahid lagi on the way nih mengadakan Festival Indonesia ke-4 di Moskow. Keren ya!

 

Beberapa saran beliau sampaikan kepada kami, para mahasiswa Sastra Inggris:

  • Belajar banyak dari berorganisasi. Dalam ilmu manajemen, ada sesuatu yang hanya bisa dipelajari di luar kelas, yakni soal kepemimpinan. “You should decide, have leadership, and make friends!” seru beliau.
  • Disuruh nulis juga. Sastra Inggris kelebihannya adalah kita diajarin banyak untuk ‘menulis’. Dulu, Kanda Wahid ini juga pernah punya bos yang meminta bantuannya supaya disusunkan teks pidato. Beliau bingung juga harus gimana. Tapi sekalinya udah jadi dan dibacakan, malah berlanjut terus jadi speech writer bosnya.

 

Selain dua kekuatan itu, Kanda Wahid juga cerita lho apa keunggulan yang membuat beliau bisa seperti sekarang.

  • Dedikasi dan loyalitas (ini kata beliau salah satu yang membuatnya masih terus bertahan dan istiqomah di pekerjaan)
  • Disiplin waktu (sepele, tapi harus dipelajari mulai dari hal-hal terkecil)
  • Personal approach (we do not know people who would help us in the future, know people deeper, make friends with them)

 

Kanda Wahid menyelipkan cerita pengalamannya juga saat di Australia. Di sana, ia belajar berinteraksi dan berusaha berurusan dengan logika dan data. Bagian ini mungkin tidak terlalu detail aku menangkap, karena pemahaman dan wawasan yang kurang mungkin. Tapi kira-kira begini … pada tahun 1992, ada kejadian di Timor-timor yang mana membuat nama Indonesia sempat jatuh di ranah media. Dari sana, berkat—sekali lagi—networking yang bagus, beliau menjadi juru bicara untuk menyelesaikan prahara yang ada. Satu cerita unik lain di Australia adalah saat beliau mengaku pernah diwawancarai oleh seseorang yang sebenarnya merupakan idolanya. Ugh, keren nggak tuh?

 

Mengulik pengalaman di Fakultas seru juga. Kanda Wahid menceritakan macam-macam mahasiswa yang hidup di jurusan sastra yang ternyata dulu dan sekarang sama saja jenisnya:

  • Manusia brilliant: punya talent luar biasa, perawakan gondrong. Kalau malem ada, siang nggak ada (di kelas). Contoh nyatanya adalah (calon) alumni Sastra Inggris juga, WS Rendra. Kenapa calon? Karena beliau akhirnya nggak lulus juga. Muehehe.
  • Manusia pragmatis: umum sih ini, manusia yang masuk kuliah buat cari kerja. Waktu lulus akan bertanya, mau lanjut kemana dan berprofesinya jadi apa.

 

Untuk cara belajar, Kanda Wahid memberi tahu kita untuk cari waktu ideal sendiri-sendiri. Jangan memaksakan diri. Beliau sendiri cerita, kalau malam belajar dengan begadang susah masuk materinya. Akhirnya beliau bisa on mode baca buku saat jam 5 sampai jam 7. Nanti kalau capek istirahat dulu, nyala lagi semangatnya sekitar jam 10an. Nah, jadi orang itu macem-macem. Mari, kita cari waktu ideal kita sendiri.

 

Terus, juga ngomongin soal seleksi wawancara di hal apapaun, beliau cerita bahwa ada banyak ilmu yang bisa didapat lewat organisasi:

  • Confidence : Sometimes, wawancara nggak terlalu mengejar benar salah seseorang, melainkan lebih fokus ke seyakin apa kita dengan argumen yang dibawa.
  • The way you explain : Ketenangan adalah sesuatu yang mahal untuk dilakukan. Banyak orang over nervous dan gagal karenanya. Keep calm.
  • Sistematic way to think : Olah pikir harus dilatih juga, nyambung nggak antara masalah dan solusi yang kamu tawarkan, sampaikan secara runtut dan jangan mbelibet.

 

Kanda Wahid juga mengingatkan bahwa sekarang dunia makin kompetitif. Karena banyak orang yang udah bisa bahasa Inggris, meski bukan anak Sastra Inggris. Itulah kenapa, perlu juga lho belajar bahasa asing lain selain bahasa Inggris.

 

Dalam sesi mengisi, beliau juga menyebutkan beberapa buku yang sempat jadi bahan bacaannya seperti The World Without Islam dan Why Nation Fell.

 

Ada seorang sahabat, Rofiqoh, menanyakan mengenai titik jenuh dan saat-saat jatuh yang dialami Kanda Wahid. “Apakah pernah Bapak rasakan dan bagaimana supaya bisa bangkit kembali?” Lalu disambutnya dengan jawaban yang menguatkan, meneguhkan, membuat kami ingat untuk bertahan, “Pertahankan idealisme dan kejujuran, karena itu sangat penting. Kalau kamu benar, pasti ada yang akan membela. Ingat, kita akan dihargai bila kita berani.”

 

Terakhir, akan kusuguhkan beberapa pesan yang ditegaskan oleh Kanda Wahid:

Hidup ini tidak linier. Ada banyak kemungkinan.

Masa depan itu luas, you can be anybody. Tapi itu harus tough, jangan cengeng, make friends! 🙂

 

Pejuang setengah perjalanan lagi!

 

Semangat ya, jangan lelah untuk mendengarkan dan tergerak untuk melakukan hal hebat juga!😊

Tinggalkan Balasan