“Bila aku jatuh cinta padamu……,” malam itu untuk bapak, ibu, dan dua bocil yang dua dari mereka terlambat hadir ke sana dan sisanya sedang berhalangan. Tetap, terima kasih. Tetap, cintaku pada kalian <3

Terakhir dalam ingatan, aku menulis di sini menyoal keterlibatan diriku dalam kegiatan jurusan masih sangatlah minim, is it? Sebetulnya tidak bisa dibilang sekarang sudah berubah, tapi ogah juga mengakui bahwa tidak ada perkembangan. Kalimat Sahabat Natrila Femi dalam kiriman terakhir itulah yang dulu berhasil membesarkan hati.

Anyway, i hope yu dont call me “Himsa” anymore honey, hueee. Cause actually it’s the opposite meaning of my name:’v

Itu searah dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Bolon sebagai ketua ikatan jurusan dalam kegiatan evaluasi English Day 2018, “Setiap kontribusi itu berarti, sekecil apapun, tanpa itu kita nggak akan sesukses ini.” Kalimatnya mengiringi kata terima kasih yang ia tebar ke seantero ruangan. Diriku yang merasa belum melakukan banyak hal dan di malam itu emang lebih banyak kerja serabutan malah jadi tersambut syukurnya. Rapat evaluasi itu pun pergi juga, meninggalkan diriku yang ndak sempat berkata-kata walaupun mulut rasanya sudah kayak pintu digedor-gedor oleh isi kepala.

English Day 2018 ini merupakan kegiatan tahunan menyambut hari ulang tahun jurusanku, Sastra Inggris. Tahun ini, terdapat rangkaian kegiatan berupa festival dan panggung teater di hari yang berbeda. Kebetulan amanahku hanya pada acara festival untuk mengurus stand-stand tenants. Sedangkan, pada pentas teater yang mana merupakan acara puncak, tidak ada tugas yang berarti untukku. Sampai pada saatnya, Bunda Tiffani memintaku membantu bagian kebersihan. Ekekek, kesannya malu-maluin ye? Iye, tapi, sekali lagi inget yang di atas: setiap kontribusi itu berarti. Pun di hari sebelumnya, sahabat Bila adik tingkatku memohon bantuan supaya dibantu menemani menjadi penerjemah selama pentas. Awalnya, oh my Allah, deg-degan. Malu aing kalau ketahuan kemampuan bahasa Inggrisnya masih bolong-bolong. Untungnya, ternyata sudah ada teksnya dan aku tinggal memastikan apakah Bila menyuguhkan slide terjemahan pada bagian yang tepat saat adegan berlangsung.

Singkat cerita, diriku memang sibuk sekali seharian itu. Hoho, sok-sokan amat. Sibuk serabutan, maksudnya. Jadi perkap iya, jadi artistik iya, jadi translator iya, jadi tukang kebersihan iya, jadi medis…. nyaris sih wkwk walaupun cuma tiduran di ruang medis. Pokoknya, gaji buta alias gabut banget.

Sedangkan waktu di kegiatan festival kemarin, aku merasa lebih produktif. Walaupun tetep ada selonya juga sih, sampai sempet curhat-curhat sama Sahabat Vovo (well, it’s out of the topic). Maka dari itu, aku sempat menyusun beberapa hasil evaluasi yang juga sudah kubahas bersama sahabat Farez dan sahabat Tiwi. Ini juga berkat amanah Bapak Rey, selaku ketua ED 2018, untukku dan Farez supaya mencatat kejadian-kejadian selama di stand. Karena evaluasi sudah lewat dan aku tidak berkesempatan hadir, mending kutuangkan di sini biar ndak tersia-siakan. Lebih-lebih bisa membantu teman-teman yang mau punya kegiatan nggak jauh beda. Kira-kira beginilah peningkatan-peningkatan yang kami harapkan.

***

EVALUASI KEGIATAN FESTIVAL
Festival itu kegiatan yang seru sebenernya. Ada banyak kegiatan produktif yang bisa dimaksimalkan dengan konsep outdoor, seperti panggung hiburan, wirausaha, pameran, game, maupun workshop. Hanya saja, ada beberapa catatan yang diperlukan:

1. Memastikan waktu pelaksanaan
Bila kegiatan festival kita laksanakan di musim-musim penghujan seperti ini, maka nanti akan muncul banyak pertimbangan. Perlu plan B atau C untuk menanggulangi kejadian tak diinginkan. Ya, okay ada “pawang” hujan, tapi nanti gimana kalau kegolan? (eeee? ITU “GAWANG” HIMS:)))

2. Optimalisasi pemanfaatan tempat
Kalau festival kan biasanya emang outdoor ya. Nah segala potensi tempat di sana, bisa banget tuh dimanfaatkan untuk beragam jenis kegiatan. Ada pendopo selo ambil. Ada lapangan selo ambil. Ada panggung selo ambil. Ada hati selo ambil, eh. Izin dulu ding sama yang punya. Menurutku ED tahun ini udah keren banget sih punya agenda workshop, game, panggung seni, stand tenants, dsb. Cuma ya itu, belum bisa memaksimalkan potensi di lokasi. Ada banyak spot yang tidak dipakai, kan sayang sekali. Mumpung nyewa satu kompleks, baiknya dimanfaatkan ya kan.

3. Briefing at venue
Briefing atau koordinasi terakhir sebelum kegiatan perlu dilakukan di lokasi. Apalagi kalau kegiatannya di lapangan terbuka dan denahnya ribet. Soalnya kenapa? Biar tiap panitia pada tahu penempatannya dan nggak kaget, jadi nggak lempar-lemparan. Ada penonton kebelet pipis nanya toilet harus muter nanya panitia sampai ke ketuanya, kan ya…. kasihan. Jadi, sekalian nggodog semangat di tempat, sekalian siap-siap “simulasi” sebelum acara.

4. Tampilan luar HARUS mengundang orang!!
Namanya festival pasti pengennya semarak ya. Kadang kita terlena dengan publikasi online yang rasanya bakal masif dengan sendirinya. Padahal ya… seringnya juga belum cukup. Malah yang perlu dilakukan gimana caranya pas udah hari H, orang-orang yang awalnya nggak tahu ada acara, pas lewat tempatnya bisa ngeliat dari luar sana, “MBEHHH, ADA ACARA APAE?” sampai menganga. Terus utuk-utuk masuk.

5. Ada alur jalan yang efektif tapi juga optimal
Kalau festival tapi orang cuma diarahkan ke kegiatan tertentu kayak pentas seni, tapi nggak tahu kalau ada workshop kan percuma. Kasian yang udah nyiapin workshop. Atau lagi stand tenantsnya, atau lagi game-gamenya. Gimana ya caranya biar orang yang masuk ke area festival bisa melewati satu alur yang efektif dan optimal supaya bisa menikmati kesemua wahana yang disuguhkan? UWWW, pasti asyik!

Yah, kira-kira begitu. Semua ini bukan karena diriku maha tahu soal kegiatan festival. Boro-boro tahu, sebelumnya nggak pernah jadi panitia acara beginian. Paling mentok jadi penikmat doang wkwk. Muehehe, diriku cuma membaca sekilas keadaan yang dirasakan. Mungkin ada lebih banyak hal yang perlu ditingkatkan, tapi apa yaa? Kurang banyak pahamnya juga. Muehehe.

***

REFLEKSI PANGGUNG TEATER
Mmmm, bagian ini bukan jadi evaluasi. Soalnya mungkin yang kuanggap kurang jumlahnya ndak banyak, walaupun juga nggak bisa dibilang sedikit. Hehe. Intinya, diriku belajar sesuatu lagi malam itu. Kekuatan sebuah inisiatif.

Sahabat Natasa Adelayanti, dialah yang sudah begitu berjasa mengabadikan wajah saya di banyak tempat WKWK thank yu, dude.

1. Berawal dari sok ngide
Di awal kehadiran, aku membantu anak-anak perkap dan senior menaikkan kursi ke lantai atas. Wahhh. Berat. Angkut kursi—naik tangga—turun tangga, kempol kaki aing lama-lama. Terus ada Mas Ibnu salah satu kakak tingkatku dan ibu penjaga Gedung PKKH yang memberi usul supaya cepat dipindah, mendingan kursinya diangkat oleh salah satu orang di bawah dan ditangkap oleh teman-teman lantai atas. Oh, ternyata tingginya emang nggak seberapa, jadi mudah saja. Daripada angkut-angkut….

2. Berani kreatif
Selama pementasan jadilah aku menemani Sahabat Bila mengatur translasi. Pada satu adegan tari, translasinya tampil lama sekali dan kita tahu bahwa ini sangat mboseni. Bila berbisik, “Ini mending screen-nya nyorot penarinya nggak sih Mbak?” kuiyakan dan sarankan meminta pak layar (wkwk gimana nyapa si bapak yang jadi teknisi proyektor). Tapi dia lanjut, “Tapi aku takut salah.” Cuma karena menurutku itu ide baik dan bagus, why not? Akhirnya dia bilang ke pak layar. Daaan waaa, menurutku itu satu hal kecil yang turut menyempurnakan penampilan malam tadi. So, Bila, that’s very very cool!

3. WHOAAAA, we should do something!1!1!1
Ada satu kejadian ketika bagian lighting ketinggalan momen dan keliru menyasarkan lampu sorot. Waduh! Harusnya ke Mas Gilang, tapi malah ke orang lain peran. Akhirnya daripada menunggu bagian lighting, Mas Gilang berinisiatif mengangkat tangan tinggi-tinggi  di tengah permainan dramanya. Aku hanya berasumsi itu jadi bagian usahanya supaya eye-catched oleh lighting. Daan betul, akhirnya berhasil deh lighting tergerak menyorotnya! The plays went on.

Hewwww sayang sih, sayang banget, momen evaluasi dan penyampaian refleksi nggak kumanfaatkan. Yang pertama karena aku nggak berangkat dan yang kedua sebab aku pas ngantuk dan ndak sempat menyusunnya dalam poin-poin tulisan. N-y-e-s-e-l, padahal ini merupakan salah satu bagian hidup yang turut mewarnai hati seorang Ahimsa di mana mungkin pada saat itu sedang berusaha menghidupi kepercayaan diri.

Yaaaa sudah ndakpapa, kembalilah cari kesempatan lagi 🙂
Salam, pekerja! ……..eh, mahasiswa, maksudnya! :))

Yogyakarta, 25 Rabiul Awal 1440
*tanggal dikirimkan, bukan dituliskan

Tinggalkan Balasan