Music is coming. “Remember me, though I say good bye, remember me”, kalimat dalam lirik Film Coco yang kunikmati semalam dengan salah seorang lelaki paling kucinta di dunia. Siapa lagi? Hehe.

Kepercayaanku penuh bahwa selalu apa yang kudapat, oleh Allah diberikan pada saat-saat yang tepat. Walaupun banyak hal aku butuh waktu untuk memaknai maksudnya, sebab akal dan hati yang masih banyak nodanyasehingga kurang jernih melihatnya. Tetapi setiap jalan selalu membuka banyak alasan secara perlahan soal mengapa hal begini yang dipilihkan padaku.
Begitupun saat-saat aku memutuskan menonton Film Coco. Dengan banyaknya keterpurukan akan hari-hari kesepian, bayangan akan mimpi-mimpi yang makin kupertanyakan, Allah begitu baik mengingatkan, “Ahimsa, itu ada film bagus, tontonlah.” maka betul kumantapkan menontonnya dengan perasaan penasaran dan berakhir dengan isak tangis yang mengharukan.
Seorang anak dipenuhi ambisi untuk memenuhi hasratnya bermusik, Miguel namanya. Namun kenyataan tersebut berbenturan dengan sikap keluarga yang amit-amit dengan musik, lantaran tragedi sejarah yang tidak mengasyikkan. Perdebatan yang mencipta siksa batin di sini memang jelas sekali dan pesannya baik untuk dimaknai: haruskah kita berpihak pada keluarga atau cita-cita? Sedangkan keduanya kerap tidak mau bersanding bersama.
Satu poin pedih yang juga membuat batinku merintih, bahwa: jangan-jangan kiblat cita-cita yang selama ini digaung-gaungkan (termasuk oleh diriku belakangan) arahnya adalah pada kepopuleran. Bisa bermusik untuk menerima pujian musisi terbaik, bisa berkreasi untuk dikenal banyak teman punya bakat seni, atau padaku bisa menulis untuk mendapatkan kesan bahwa diriku seorang sastrawati idaman. Apakah cita-citaku seperti itu adanya? Hingga aku abai pada keluarga yang rasa sayangnya tidak ada duanya?
Mungkin baik-baik kita cipta ungkapan dari hati ke hati, saling memahami dan mengerti. Catatan yang tiada boleh dilupakan, bahwa keluarga selalu mengharap yang terbaik bagi anggotanya. Oh iya, sebagai pelengkap informasi, lirik lagu yang berada di depan ditulis oleh seorang musisi teruntuk putrinya tercinta.
Aku dan lelaki yang kucinta itu meresapinya begitu haru. Tak kuduga setelah usai film itu, yang biasanya ia susah diminta menemani ke rumah Eyang, berseru padaku, “Mbak, aku ikut Mbak tidur di rumah Eyang ya!” MasyaAllah, indahnya anugerah perasaan-perasaan malam itu.
Yogyakarta, 3 Rajab 1439

SUMBER GAMBAR :
http://bomtantv.com/upload/images/coco-hoi-ngo-dieu-ky.jpg

Tinggalkan Balasan