Free-writing adalah salah satu yang paling aku minati di kelas Hyacinth. Alhamdulillah. Beruntung sekali kembali dipertemukan dengannya untuk kelas Reading and Writing. Tiap awal masuk, ia selalu meminta kami, “Guys, please write!” dan masing-masing kami akan tenggelam ke dalam khayalannya masing-masing. Terserah apa yang akan tumpah melalui jemarinya, Hyacinth hanya meminta kami menuangkannya tanpa berpikir lama, apalagi mengobrol percuma.

Hingga hari ini setidaknya telah dua temu tercipta antara kami di semester dua, yang artinya sudah dua kali aku berkesempatan melakukan free-writing di kelasnya. Pertama tercatat tanggal 26 Jumadil Awal 1439 lalu, dan kedua pada sore tadi.

26 Jumadil Awal 1439 — I will be crazy if next week I still cannot join discussion in class. Pak Munjid’s class, properly. I really understand that my knowledge is still not enough and I should learn more, but it feels hard to pass. Oh my Allah, please help me. Make me strong enough to do what I should do, to share what I can to share, to say what is better to say. I want, I have to. And one thing that I should get first is my braveness. Where are you? Please, come to me.

3 Jumadil Akhir 1439, 15.58 WIB — Bismillah. I begin today and the next day with bismillah, I hope in every way I always remember Allah who will help and guide me. More I want to be strong, more difficult things come to hurt me. I try the best so that I can be stronger. What way that you chose, wish it does not change me worst.

Untuk memperindah, sepertinya aku harus belajar membiasakan perlahan menghindari penggunaan kata “I” (aku) yang berlebihan. Bismillah, wal hamdulillah.

STORY OF THE DAY
Penuh kuisi hari dengan waktu kuliah. Kelas Pak Eddy Pursubaryanto (folklore and mythology), Pak Achmad Munjid (the history of English literature), dan tutor Reading and Writing by Hyacinth Parker. Sedari pukul 09.45 – 17.10 WIB. Muantab!

Setelahnya sedikit tergoda aku dan Rifa yang sebetulnya tidak terlalu aktif dalam agenda jurusan untuk mengikuti musyawarah besar tutup periode IMAJI (Ikatan Mahasiswa Jurusan Inggris) seusai kuliah. Kami ke sana dan melihat sebagian teman yang memang sudah terbiasa aktif berkegiatan di jurusan. Kami nyempil saja di samping Farez dan seorang kakak tingkat yang baru saja kuberkenalan dengannya, namanya Mbak Hala. Sedang di sampingnya lagi, beberapa kali kutemui sebab beliau yang memang dengan adik tingkat sering berinteraksi, Mbak Umi. Sedikit banyak kudengarkan pembahasan laporan pertanggungjawaban organisasi ini. Berfaedah sekali program kerjanya, hanya perlu dimasifkan lagi supaya tidak bolong-bolong kegiatannya. Dan mungkin tidak perlu memaksa-maksa diadakan kegiatan yang rasanya sudah kurang manfaat atau efeknya bagi banyak orang. Muehehe, sok-sokan banget sih aku ngomong, padahal berkontribusi saja masih nol. Hehe, sekadar untuk mengeluarkan apa isi kepala. IMAJI, lancar jaya!

Selanjutnya, ba’da ibadah Maghrib aku tidak langsung pulang. Sedikit kulihat sekeliling dan kutemui Nabila Sastra Arab bersama seorang temannya. Saat berkenalan, oh ternyata allohu akbar!

Dia bertanya, “Siapa namanya?”

Aku jawab, “Ahimsa!”

Seketika dilanjutkannya, “Wardah!”

Loh? Loh? Hehe, kukira dia tahu nama lengkapku. Ternyata maksudnya nama panggilannya Wardah. Hehe. Kok lucu sih. Wardah dari Geografi, iseng-iseng main ke sini.

Setelah itu aku pun bertemu Resta dan mengobrol banyak soal perasaan up and down di jurusan serta fakultas. Betul-betul mengharapkan sebaik mungkin jalan yang kami lewati ini semakin mendekatkan pada yang haq, bukan malah menjauhkan. Kami memang sedikit khawatir tersesat, atau sedikit-sedikit terjegal dengan -isme yang sebetulnya tidak begitu kami pahami juga, namun semoga pengelanaan ilmu yang tiada berkesudahan mampu membawa kami semakin dekat pada kebenaran.

Bismillah.

Selanjutnya bertemu dengan Mila yang akhirnya harus pergi bersama Resta. Dan aku bertemu Ressa, cukup banyak mengisi obrolan. Kusenang, dia sangat sangat sangat sangat ramah sekali. Dan cerdas, pemberani juga. Kadang kulirik seperti seorang idola bilamana di kelas Pak Munjid ia bisa lancar jaya menumpahkan segala pikiran dalam kata-kata yang oh my God, how can you do that? Hehe. Makasih ya, Res. Belajar banyak. Selanjutnya, Mas Mello mendatangi kami. Beruntunglah Ressa jadi ada temannya, aku undur diri mau ibadah Isya. Setelah usai, tidak lama aku pun pulang.

Yogyakarta, 3 Jumadil Akhir 1439

Tinggalkan Balasan