“Hari ini beruntung sekali aku!
Sangat-sangat beruntung.
Pasalnya, liburanku tidak sia-sia.
Aku mendapatkan banyak pengalaman dari liburanku ini.
Misalnya, bertemu orang baik …. di dalam drama yang kutonton, hehe.
Dan hal-hal lain yang aku sukai.
… ya sebetulnya aku tidak terlalu banyak aktivitas.
Aku lebih sering dirumah daripada beraktivitas di luar.
Karena menurutku, rumah sudah sangat luas untukku menjelajah.
Walaupun rumahku tidak luas-luas amat sih.
Ruangannya tidak luas, tapi suasananya yang membuat lapang.
Tapi, ada yang berbeda dari liburanku kali ini dari liburan-liburan sebelumnya.
Karena liburan ini lebih panjang.
Walau, sebenarnya libur  panjang tidak terlalu baik.
Namun, karena aku orang baik, aku percaya semuanya adalah yang terbaik.
Karena, kita memang harus menerima apa yang telah menjadi kenyataan.
Meski kenyataan itu pahit dan sulit diterima.
Tapi aku tetap menerima kenyataan pahit ini.
Aku bukan orang yang mudah menyerah dan mau kabur gitu aja.
Aku itu orangnya pantang menyerah dan tak mudah putus asa.
Hehe, apa bedanya yaa?
Ya, cukup berbeda sih kalimatnya, hehe.
Ah, ngaco aja aku  nih.”

Halooo! Salam kebaikan dan kerinduan kepada teman-teman. Setelah membaca barisan-barisan kalimat di atas, bagaimana perasaannya? Agak alot ya untuk mencernanya? Hehe, maklum, bukan hanya satu kepala dan dua tangan yang terlibat dalam penyusunan.

Baru saja, aku menantang si kecil, adikku, si Sobat untuk bermain denganku. Kami memainkan permainan susun cerita dengan cara bergantian masing-masing menuliskan satu baris, kemudian diteruskan oleh pihak lain dengan baris selanjutnya, begitu berulang-ulang.

Aku mendapat ide ini dari sahabat Oase. Seingatku, dia pernah menceritakan soal pengalamannya menyusun bait-bait puisi bersama dua sahabat lainnya. Secara berurutan, satu dari mereka memulai menulis satu baris puisi yang kemudian dilanjutkan oleh yang lainnya.

Di awal, kami yang terlibat dalam permainan ini cukup mengosongkan pikiran saja. Tidak tahu akan dibawa kemana apa yang kami berani seratkan, “Jalani aja dulu.”. Hingga sampai di tengah jalan, kami menemukannya secara tidak terduga. Cukup menyegarkan untuk memainkan ide dan kreativitas.

Pada momen lain, aku dan sahabat-sahabat di Muda Wijaya Jurnalistic Club (MWJC) dulu juga pernah membuat permainan yang mirip. Lucu dan menyemarakkan sekali! Permainan ini cocok sekali dilakukan saat malam keakraban yang mana ramai-ramai. Seluruh partisipan bisa dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari sekitar 5-6 orang. Kurang atau lebih sebetulnya terserah sih, hehe.

Thank you, Namche, for all the memories and learnings 🙂

Permainannya ngapain?

  1. Tiap kelompok diminta untuk duduk berbaris ke belakang,
  2. Setiap anak yang duduk di baris paling depan kelompok dibekali dengan selembar kertas dan satu alat tulis,
  3. Setiap kelompok diberi satu kalimat pembuka yang menggugah rasa antusias, kemudian anak di baris depan harus menuliskannya di kertas kelompok mereka, serta
  4. Setelah itu, tiap kelompok juga diberi tema-tema yang berbeda. Supaya lebih sulit, tema baiknya tidak terdengar sinkron dengan kalimat pertama yang tadi diberikan.
  5. Ketika permainan dimulai, anak baris pertama melanjutkan cerita dengan menambahkan satu kalimat baru, berikutnya juga anak kedua ketiga dan keempat ke belakang sampai anak terakhir.
  6. Akhirnya, cerita berupa kumpulan kalimat itu jadi juga!

Biar lebih jelas, akan aku sampaikan contoh kalimat dan tema yang bisa digunakan.

Kelompok 1 diberi kalimat pertama, “Aku mengagumi gadis cantik itu dari dulu.” dan tema yang harus mereka ceritakan adalah humor.
Kelompok 2 diberi kalimat pertama, “Bau badannya menunjukkan bahwa ia tidak pernah cebok.” dan tema yang harus mereka gunakan adalah romantis.
Kelompok 3 diberi kalimat pertama, “Badut itu punya perut seperti orang hamil.” dan tema yang harus mereka gunakan adalah horor. Dan lain-lain sebagainya.

Dengan begitu, nanti kita akan melihat cara tiap kelompok menyusun cerita dan mengarahkannya supaya sesuai dengan tema. Hehehe, asli pasti lucu sekali. Dan akan lebih menarik kalau cerita yang mereka susun selanjutnya diminta untuk divisualisasikan dalam bentuk drama. Pasti tambah menarik dan menambah kehebohan, hehe.

Selamat mencoba! Semoga harimu menyenangkan.

Yogyakarta, Jumadil Awal 1440

Tinggalkan Balasan