Hujan Pun Memuji Penciptanya

          Malam dirubung hujan memang sudah biasa.
          Sayang, tak banyak yang merindukannya, malah mereka mencelanya.

          Di sela-sela aspal gelap, kaki-kakiku meluncur menyusupi percikan-percikan air hujan, langkah-langkah kecil menyusuri jalan mengarah ke surau kampungku. Nampak percikan itu layaknya dentuman kembang api menggelikan yang tersebar di atas pijakan langit.
          Kecuali bunyi rintik-rintik yang menghujani daratan, terselip musik berbeda pada payung di atas kepalaku. Tapakanku makin kukuh, lebih-lebih walau lagu alunan komposisi syeitan mencoba bersemayam mengusir tekad. Seruan Ilahi dari dalam rumah-rumah sembahyang terasa menggelegar dalam kalbuku. Sungguh tentram batin di tengah gemuruh air yang tak kunjung asat, kini syukur memenuhi bisikan dzikirku.
          Kulit jemari tanganku yang telanjang mulai membeku menadahi hujan, namun kehangatan niat menyertai tiap gerak tubuh. Aku tidak heran jika boleh jadi sebetulnya langkahku ini menggiringku melewati kilauan hujan emas dan permata sebagai tebaran berkah dan rahmat Ilahi.

          Aku penasaran, mereka siapa saja yang mampu menyadari nikmat itu?
          Banyak kalanya godaan merasuki ke dalam laut, gunung, daratan, bahkan udara, merekalah yang selalu disebut orang sebagai harta kepuasan.

          Bahkan, malaikat Mikail pun tahu, karya itu ada penciptanya.
          Layaknya ion-ion dalam hujan yang kutatap meski tak terlihat, ketika mereka turun dan jatuh, lalu tersebar merasuk dalam tanah. Yang Maha Menciptakan melakukannya pada hujan, pada laut, gunung, daratan, udara, bahkan aku―manusia.

          Malam dirubung hujan seperti ini memang sudah biasa.
          Sayang, tak banyak yang merindukannya, malah mereka mengabaikannya.
          Terima kasih Ya Rabbi-ku, telah Kau beri raga ini nyawa untuk mengungkap rasa syukur atas berkah hujan dan hidayah-Mu. Sungguh, tak ingin kubuang waktu, jiwa ini bersujud dalam setiap gerakan mengucap puji pada-Mu.

          Seolah menuai doa-doaku, rintik hujan di antaraku terasa membelai lembut, aku dapat merasakan mereka menyambut kedatanganku yang tepat waktu untuk pergi ke surau. Aku dapat menerjemah dengan jelas tiap tetes dari mereka terus memuji keagungan Ilahi.

          Langkahku makin yakin hingga aku meraih langkah pertamaku memapak surau malam itu, juga langkah terakhirku melewati hujan waktu itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *