Aku pernah merasa sudah berhasil menemukan diriku yang sesungguhnya.

 

Aku pernah merasa sudah selesai dan mampu menangani beberapa hal dengan baik. Seperti yang bisa kuingat: tidak pusing mengelola emosi, tidak takut berbicara di depan umum, tidak sulit memancing percakapan yang menarik, sanggup membangun hubungan baik dengan banyak teman, bahkan selalu bisa menemukan kebaikan-kebaikan dalam setiap kejadian.

 

Sampai merasa seolah sudah lulus dari ujian-ujian ketakutan dalam hidup dan siap diwisuda.

 

Tapi, rupanya… ada satu fase dimana aku harus kehilangan semua. Sebuah titik ter-nol dalam hidupku.

 

 

Aku menemukan sebuah tekanan yang luar biasa yang tidak kukira datangnya. Membuatku tiba-tiba merasa diserang dari segala sisi. Untuk bicara saja kadang sesak napas hingga suaraku bisa nyaris tidak terdengar sama sekali. Kadang jantungku ingin copot. Aku yang biasanya berani bicara tiba-tiba ciut nyali. Takut salah, takut dicap atau dianggap bagaimana, takut diremehkan, takut dijauhi orang-orang di sekitarku, dan banyak ketakutan lainnya.

 

Aku menyusahkan banyak teman yang terlibat percakapan denganku. Entah mereka jadi tidak enak hati atau kikuk mengobrol denganku jadinya. Aku jadi tidak sabaran, menuntut banyak hal dalam batinku. Memendam kesal dan dendam atas hal apapun. Jengkel hanya karena kupikir itu respon paling efektif saat menemui ketidakcocokan. Aku jadi kurang menguasai keadaan.

 

Aku mengakui, ada beberapa keliru dalam diriku di tempo dulu. Aku juga tahu, kondisi apa yang kemudian membuatku menjadi makin terpuruk.

 

Tapi, setelah menjalani hari ini dan membuka mata lebih lebar, ternyata aku memang kemarin-kemarin sudah bersikap terlalu. Terlalu banyak memikirkan bagaimana aku, aku, dan aku. Terlalu berharap bahwa setiap kondisi dan setiap orang harusnya mengerti dan mau menyesuaikan aku. But, hey, who are you, kata Mbak Analisa, “Life is NOT only about YOU.”

 

Kesannya sama seperti saat menonton film Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini. “Dunia tidak hanya berputar untukmu,” dalam sebuah kutipan. Rupanya, dunia yang kamu temui tiap hari tidak selalu bisa kamu pahami seutuhnya. Selalu ada hal-hal tersembunyi yang seharusnya membuatmu sadar, ini bukan hanya tentang kamu, ini bukan hanya soal maumu.

 

Sehingga sebagai seorang muslim, aku pun perlu ingat sebuah kata yang begitu kuat. Sebuah kata yang juga menjadi salah satu nama surah dalam Al-Qur’an.

 

Ikhlas.

 

Pendek terbaca. Simpel terdengar. Kerap diserukan oleh ustadz dan bahkan orang pada umumnya. Tapi ternyata, memang tidak mudah, kita kadang—oh, bukan, sering malah—melupakannya. Kita sering berlarut-larut mengharapkan pada yang semu, yang fana, yang sama-sama tidak berdaya seperti kita. Manusia.

 

Kita marah, kecewa, gemas kepada manusia.

 

Betul, memang, berharap kepada selain Allah, tidaklah lebih seperti berlindung pada rumah laba-laba, rapuh, langsung rusak bilamana tersentuh. Iyyaa kanak budu wa iyyaa kanasta’in. Hanya kepada Allah kami menyembah, hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.

 

Kita manusia hanya bisa berusaha, tapi apa kemudian hasilnya itu Allah yang menentukan. Kita merdeka untuk mengupayakan tujuan, tapi Allah yang maha tahu dan maha bijaksana. Apapun yang Allah berikan selanjutnya adalah yang terbaik. Itu adalah jalan yang dipilihkan Allah sehingga kita bisa belajar lebih banyak, serta yang pasti, semakin ingat untuk lebih dekat dengan-Nya.

 

Mungkin Allah ingin menegurku yang terlalu ujub dan egois sebelum ini. Mungkin Allah ingin mengajarkanku bagaimana untuk menghapus ketakutan-ketakutan dalam diriku dan menggantinya dengan satu-satu ketakutan pada-Nya. Allah yang maha segala-galanya.

 

Wallahu alam bisshowwab.
Ampunilah kami. Lindungilah kami, kuatkanlah iman kami.

 

Yogyakarta, 24 Dzulqoidah 1441

 

QS Al-Ankabut:41