Halo, Sahabat. Terima kasih karena sudah selalu setia menemani di gubug blog-ku yang berantakan ini. Kunjunganmu begitu berarti. Mohon maaf apabila tidak banyak hal yang bisa kusuguhkan selain curhatan, sambatan, motivasi-motivasi pribadi khas kejomloan, dan sebagainya.

Ngomongin soal curriculum vitae, aku termasuk orang yang malu-malu untuk berbangga atas isi curriculum vitae-ku sendiri. Bukan karena sepi isinya. Wadidawww, mau bilang kalau banyak isinya, Hims? Wakakak, nggak juga bosqqq. Tapi sebenernya yang lebih membebani hati adalah tatkala menyadari sebagian besar isinya adalah pengalaman-pengalaman yang belum total dan optimal kulalui.

Kalau boleh jujur, aku memang menuliskan segala proses-proses yang kujalani dalam curriculum vitae itu. Proses apapun. Secuil apapun. Tapi baik yang betul-betul sudah tuntas kupenuhi secara maksimal sampai yang sebetulnya agak kusesali karena kontribusi yang kuberi di situ rasanya masih kecil sekali. Hehehe. You know like, aduh yaampun beban banget kalau orang baca ini dan berekspektasi banyak padaku, wkwk.

Nah lagi, belakangan, aku merasa sudah mau siap-siap memperbarui curriculum vitae-ku khususnya bagian prestasi (wkwk wagelaseh, siap-siap lho bos). Hehe, sudah berharap-harap, kalau-kalau aku berhasil memenangkan sebuah juara perlombaan. Wakakak, tapi ternyata Gusti Alloh belum ridho, semesta masih mau mengingatkanku untuk sabar dan belajar. Aku tidak boleh sok-sokan dan diminta untuk (lagi lagi) belajar ikhlas. Hehehe. Padahal sudah ingin berbangga hati kalau-kalau sebelum lulus ini ada laaah sebuah prestasi lomba yang berhasil kugurat, hihi, soalnya sumpah nggak pernah sama sekali, Sahabat, selama aku kuliah ini.

Muehee, kecewa, pasti. Sedih, yah lumayanlah. Tapi, seperti liriknya The Rain, “Terlatih Patah hati…” begitulah aku. Sudah banyak sekali kesempatan bermimpi yang kemudian digagalkan, sampai merasa yaampuuun perasaan ini lagi ini lagi, pengalaman begini lagi begini lagi, hihihi.

Sama seperti dulu aku gagal di seleksi tahap akhir verifikasi berkas untuk program AFS YES. Ditolak masuk komunitas di kampus yang ndampingin mahasiswa-mahasiswi asing. Sama halnya saat aku mendapat pengumuman gagal diterima program pertukaran pelajar AMINEF. Aduhai, dan sekarang lagi, rasanya sama lagi. Aku gagal memenuhi keinginanku untuk bisa meraih kejuaraan lomba baca puisi, uwuwu.

Ingin menjerit. Ingin teriak wouwoooo. Pada akhirnya, yang sesungguhnya, aku ingin menangisssss. Uwuwu, bahkan di saat-saat begini aku berharap seorang sahabat akan mengasihaniku dan menghibur kesedihanku. Coba aja… Coba aja… Aduduuww, lalu kucubitlah telingaku sendiri. Hadewww, Hims. Kok sedihnya sampai mana-mana. Fokus, Hims, fokusss.

Kamu sudah banyak melalui berbagai macam hari-hari berat. Kamu sudah banyak mengarungi berbagai kesulitan. Ingatkah kamu soal cerita the Princess and the Fog? Iyaaa, buku cerita anak-anak yang kamu pinjam suatu hari dari Mbak Alva. Tahu kan bahwa pada akhirnya untuk menyembuhkan dirinya dari fog atau asap yang merubungi kepalanya, ia hanya perlu belajar menerima kesulitan-kesulitannya, bercerita pada orang-orang di sekelilingnya, dan juga tentu saja kembali menyusun daily challenge yang ingin dilakukannya.

Di situlah energinya akan kembali tumbuh.

Kamu juga, Hims! Terima saja kalahmu, akui saja sedihmu, lalu kumpulkan lagi energi dengan melakukan hal-hal apa yang betul-betul ingin kamu lakukan. Benar-benar KAMU INGIN LAKUKAN. Pastikan!

Begitulah. Kepada pengalaman-pengalaman gagalku, terima kasih. Aku kadang berpikir akan menjadi pribadi yang sok-sokan dan mudah menyepelekan kalau tidak banyak diuji olehmu. “Something worth it does not come easy,” gitu sih kata orang-orang. Hehehe, jadi kegagalan-kegagalan ini berperan untuk mendorongku memperbaiki apa yang kurang dan meningkatkan apa yang lebih.

Tahu nggak sih? Aku sempat kepikiran mau menuliskan sederet kegagalan-kegagalan itu di curriculum vitae-ku. Hihihi. Kupikir itu bisa memacu, yaampun sudah banyak sekali pengalaman gagalku yang bisa jadi pemicu untuk pribadiku supaya melakukan yang lebih baik. Karena kalau dipikir-pikir, itu semua aset, itu semua modal untuk masa depanku. Ehehe, selain itu, bakal keren nggak sih kalau di curriculum vitae ada daftar sendiri berjudul, “Modal Kesuksesan” alias isinya daftar kegagalan🙂

Yogyakarta, 10 Jumadi Awwal 1442