Inspirasi Romansa Bapak Gedhe dan Ibu Gedhe

Sebenarnya sudah dari lama aku berniat menuliskan kisah ini. Tahu kan bapak gedhe dan ibu gedhe? Lebih khas dipanggil pakdhe atau budhe. Kali ini cerita tentang pakdhe dan budheku, pasangan yang menurutku begitu menakjubkan. Perkenankan aku mengenalkannya, keduanya biasa kusapa Pakdhe Muis dan Budhe Nana.

Cerita ini sudah lama diperdengarkan padaku.

Mmmm, ketika aku bercerita ini anggap dulu (sementara) aku bukanlah keponakannya. Hehehe. Khawatir kalau-kalau ada sebutan atau perkatan yang kurang pantas. Mohon maaf sekali nggih.

***

Berlangsung puluhan tahun lalu, keduanya sudah dari lama bertetangga. Rumahnya tidak terlalu jauh tapi juga tidak bisa dibilang berdekatan. Tidak ada pekarangan dan rerimbun pepohonan di depan rumah Muis, ini menjadi pemandangan yang berbeda jika dibanding rumah Nana yang ditumbuhi banyak tanaman. Kebetulan ayah Nana memang seorang yang suka dan telaten merawat tanaman. Jadilah (bahkan sampai sekarang) rumah itu dikenal oleh tetangga maupun masyarakat luas akan pohon mangga besarnya yang rimbun dan senang berbuah meruah.

Ayah Nana begitu dikenal warga sekitar, asmanya Pak Pani Sulaiman (alm). Oleh kalangan keluarga biasa disapa Unggang.

Muis, seperti saudara-saudaranya yang lain, ia merupakan seorang anak yang gesit dan usil. Bukan hal jarang kalau ia sering berlalu lalang melewati rumah Nana dengan iseng mencoba meraih buah-buah di pohon mangganya. Berkali-kali diusahakannya mendapat barang satu atau dua dengan melempari pohon itu dengan batu-batu.

Sehingga tidak janggal kalau Unggang sangat gemas kepada anak itu. Geregetan.

Suatu kali ketika lagi-lagi si Muis kecil berusaha untuk mendapat buah mangga itu, Unggang memergokinya dan segera ingin mencapainya. Sebelum dihampiri, buru-buru Muis melarikan diri. Ternyata tanpa dipikirnya Unggang ikut mengejarnya sambil sudah siap melemparkan salah satu sandal ke arahnya. Wah benar-benar lari ketakutan dia! Tidak tahu deh sampai mana berhentinya, hehehe.

Entah mengapa pengalaman itu ternyata belum bisa dihapuskannya hingga dewasa. Mungkin sesekali ketika teringat membuatnya terkikik sendiri.

Pada akhirnya ternyata si Muis yang suka mengambili buah-buah mangga Unggang itu berhasil menggandeng Nana sebagai istrinya. Tentu saja, pasti tidak terbayangkan oleh Unggang kalau bocah itu akan jadi menantunya. Fakta yang mencengangkan!

Aku terkekeh lagi mengingat cerita itu. Suatu saat di sela berbagi kisah tersebut, pakde berseru, “Sebenarnya dulu waktu Unggang ngejar itu mau ngasih tahu: heh sini tak kasih anakku!” dan itu berhasil membuat sekeluarga terbahak-bahak.

Menyenangkan sekali membagi kisah ini.

***

Luar biasa! Pakdhe dan Budhe sekarang masih sangat berbahagia bersama.

Beberapa waktu yang lalu, Pakdhe Muis terkena stroke yang tidak disangka-sangka. Sebagian tubuhnya kesulitan digerakkan dan mulai rutin diterapi. Syukur alhamdulillah karena belakangan hal itu membaik dan semakin baik. Sedari awal cobaan ini menimpa Pakdhe Muis, Budhe Nana terus berada di sampingnya, enggan berhenti, enggan menyerah, yang membuatku terus bersyukur dihadapkan pada kisah keduanya. Masya Allah, luar biasa.

Semakin ke sini semangat Pakdhe Muis untuk kembali bisa berjalan semakin besar.

Semoga Engkau Ya Allah memberikan yang terbaik kepada beliau dan keluarganya. Bantulah ia agar dapat berjalan seperti sedia kala dan membahagiakan kami sekalian dengan pendar tawa bahagianya. Insya Allah. Aameen.

1 comment on “Inspirasi Romansa Bapak Gedhe dan Ibu Gedhe

  1. Trimakasih ya informasinya ini sangat membantu artikelnya salam sukses buat admin dan blognya semoga makin rame

    oh iya sekedar informasi tentang manfaat air pegunungan yang memiliki mineral yg tinggi
    ini sangat bagus untuk Bahan Baku Air Isi Ulang depot.
    kualitas yang bagus dan di tuntut untuk mencari supplier air bersih yang benar" memiliki
    sertifikat layak minum untuk keperluan industri sebagai Bahan Baku Air Isi Ulang.

    trimakasih 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *