Sedang bahagia-bahagianya berpura-pura bahagia. Ekya. Wkwk. Sepertinya merasa aku kurang jalan-jalan, kurang bicara dengan pohon-pohon, kurang menyelam dan tenggelam. Hari-hari berlalu hambar, jadi batin rasanya nggak segar, malah kadang menjadi liar, emosional nggak wajar.

Astaghfirulloh. Allohu Akbar.
Astaghfirulloh. Allohu Akbar.
Astaghfirulloh. Allohu Akbar.

PERPUSTAKAAN DAERAH DIY
Sepagi ini aku janji dengan Atim Ratnawati untuk membersamainya yang akan membantu Bapak Robbi Kurniawan belajar di Perpusda. Belajar Statistika, buatku belum ada di makul, mungkin semester depan atau kapan. Hehe. Rencana ini hampir kubatalkan sebab tiba-tiba ada wacana di bidang Advokasi akan bertemu bersama. Eh, eh, kusampaikan pesan ke Atim, tapi ternyata tidak terkirim. Terlanjur dia ke rumahku. Aku pikir, Allah meridhoiku ikut kali ya. Dan betul, saat kami berdua mencapai Kantor PD IPM, keputusan rapat Bid. Advokasi diundur. Tak tung tuang, tak tung tuang!

Btw, sempat saat akan memboncengkanku Atim menanyakan kabar latihan motorku, katanya agak becanda dan memang, “Latihan motor itu kaya cinta, Him. Kalau nggak dibiasain ya bakal lupa.” Lol, wkwk. Segeralah kubuat snapgram nantinya.

Di PDM kami menunggu Pak Robbi, sambil sedikit-sedikit berkelakar masalah hati. Lucu sekali membahas ini. Ya Rabbi, Yang Maha Pasti, tuntunlah pribadi kami supaya tidak terseok-seok lagi.

Beberapa saat kemudian, Pak Robbi datang dan kami siap mencapai keberangkatan. Sebelum mengangkat badan, aku ijin tertawa membaca snapgram salah seorang Sahabat yang terindukan, Zaid Ziyaad. Dengan foto duwit celengan yang ditumpahkan, ia menuliskan, “Remidi melanda, nikah tertunda”. Kami puaskan itu jadi bahan tertawaan. Tentu saja aku yang jadi dibilang senengnya bahas topik pernikahan. Wkwk, kena lagi.

Lalu, cuskan, menuju Perpusda yang sudah lama tidak dipertemukan. Hoho. Atim pertama kemari, Pak Robbi sudah pernah tapi lupa lagi. Usai menempatkan tas kami, segeralah tiga manusia ini mencari lokasi. Sebuah spot kecil di luar perpustakaan yang diberi rumput sintetis. Lalu, Pak Robbi membuat kami meringis saat bicara sendiri dengan tragis, ” Semoga kamu nggak kaya rumput ini ya. SINTETIS.” Allohu Akbar, aku dikelilingi manusia begini. Segeralah kuupdate snapgram dengan memunculkan mereka berdua sebagai mastah of cintah. Prof. Robbi dan Atim Ph.D. Eh, nyusul satu lagi direply oleh Bapak Fadhli, agak berfaedah ini, tapi katanya nggak perlu diapresiasi sebab di Lampung Ansos-lah yang jadi materi, “Parameter mencari suami, yang tiap Subuh di masjid.” Wkwk, bolehlah, bolehlah.

Oke, setelah semua lawakan itu, kami mencoba belajar. Eh, kami? Mereka berdua ding, aku mah cuma berkeliling, duduk di sana, duduk di sini, sambil menikmati buah karya Hamka yang coba tercerna beberapa hari ini. Pusing, kirain makin bisa menenangkan batin, ternyata malah makin mencipta gejolak yang lebih dari kemarin. Haduh. Kubantu dengan memakai headset mendengarkan lagu Janji Kader. Eh, malah terdengar seruan Pak Robbi mengatakan, “Itu pasti dengerin kajian pra-nikah.”

“Heee? Apa nikah, nikah?”

Malah jadi menimbulkan rangsangan di benak mereka kan. “Lah, tuh, pekanya kalau nikah-nikah nek Ahimsa.” Ealah, Allohu Akbar! Hahaha. Lagi, tambah panas saat aku kepikiran, “Kok aku jadi membayangkan, besok akadku pakai Bahasa Inggris!”

Yah, habis itu malah dihujat habis-habisan. Hahaha. Tapi mangkel juga, mereka menyentuh hal-hal yang menurutku sudah kujaga sedemikian penuh. Allohu. Tapi, ndakpapa, bahagia, bahagia. Cuma, memang harus makin pinter dan bijak menjaga. Hei, mulut, jangan terlalu bersungut-sungut. Hei, hati, jangan terlalu berambisi.

Hehehe, alhamdulillah, hiburanlah.

Kami menghabiskan banyak waktu, sampai Dhuhur menyeru. Atim ndak sholat, aku dan Pak Robbi yang segera berangkat. Mushola ada di lantai bawah di sisi barat. Ugh, jadi rindu dengan Babe kan, Sahabat.

Setelahnya, kami pindah lagi menuju kantin dan melanjutkan aktivitas di gazebo sebelah timur bangunan perpusda. Oh, aku baru tahu kalau ada, Atimlah yang menyadarinya. Hanya saja sayangny selain kami bertiga, beberapa menjadi zona nyaman untuk beberapa pasangan. Hmmm. Wkwk, eh, positive thinking, udah mantenan atau saudaraan. Hohoho.

Yah, kira-kira begitulah, sampai kurang lebih pukul 14.00 WIB kami ingat rumah. Sebab juga langit mendung, keinginan kami pulang tidak lagi terbendung.

KANTOR PD IPM
Rumah. I’m home! Ternyata sudah ada Bunda Laila yang berniat membereskan seluruh kekacauan di sana. Aduh, idaman. Kami mah hanya sok-sokan memberi bantuan.

Lagi-lagi, ada Bunda Laila, Pak Robbi, Atim. Kloplah, jadi korps pembully Ahimsa. Alloh, ampuni mulut yang sempat lepas kuasa. Huweeee. Maluuuuu, kan jadi tahu. Oke, oke, biasa aja. Aku biasa aja. Hehe, biasa aja. Yok ra.

Kemudian sempat aku ngrasa nggak enak, entah dengan siapa. Awalnya pengen menimbulkan percakapan antara Atim sama Fanin (barusan dateng, ada Putra juga), tapi ternyata kan, malah salah sasaran. Kok aku ingin menertawakan diriku yang jadi ke-anak kecil-an? Haduh, Hims. Bismillah, kuatkan.

SHOPPING
Atim mengantarkanku kemari, barakallahulakum sayangku. Setelah usai keperluan di sini, aku pulang dengan Om Ashar, kebetulan juga ada si endut, Dek Affan hehehe.

Btw, ternyata aku baru tahu dari Atim. Lagunya, “tak tung tuang” not “tak tung klang” like what I heard before. Isin, Allohu Akbar.

PULANG, KE EYANG
Maaf ya, Yang, cucumu yang masih sulit membuktikan sayang. Begini masa aku bilang ingin segera bertemu eyang kakung dalam pulang. Allohu:”)

PUISI SEBELUM TIDUR
Judulnya, “Pelarian”

Aku ingin terpandang
Aku ingin kenyang
Aku ingin tenang
Pada akhirnya, aku ingin pulang
Ke pangkuan-Mu
Ke pelukan-Mu
Ke peraduan-Mu
Sekarang jua, tak perlu menunggu tua
Secepat kilat menggapai akhirat
Takut-takut muncul pertanyaan
Sebabkah kerinduan pada Tuhan?
Bukan, melainkan pelarian
Dari dunia yang penuh siksaan

(Allah, aku ingin merasakan cinta pada-Mu, tapi bagaimana aku pun tak tahu)

Yogyakarta, memasuki 23 Rabbiul Akhir 1439

eh, aku lupa mengabarkan, kacamataku baru loh. Hahaha. Kayak profesor eh jadinya. Uwadawww. Mana mukaku kan tepos, so its like mata tawon gitu ga sih jadinya. Kata Bunda ansal, “Your eyes also need fashion” kupikir nah loh Hims, sejak kapan kamu kepikiran fashion? Hmmm. Semoga lillah (Sek nyambung lillah-nya dimana? Nah bingung juga) Haha. Semoga barokah.

ini foto ala-ala hitz gitu, diajarin mastahnya. Haha, si Atim. Sampai bingung mau pose gimana selain senyam-senyum doang.

Yang membuat galau belakangan:(( gimana caranya?

soooo beautiful dan menyegarkan, tapi penuh kepalsuan. Rumput SINTETIS;”)

Tinggalkan Balasan